Saat mengikuti rapat dengan Satgas Covid-19, Bupati Sorong minta dipastikan stok pangan di Kabupaten Sorong aman, sebelum diputuskan lockdown. (Foto:Tantowi/TN)

Aimas, TN – Bupati Sorong Dr. Johny Kamuru SH M.Si tidak ingin gegabah dalam melakukan pembatasan wilayah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Sebelum keputusan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilakukan, Johny Kamuru minta stok kebutuhan pangan di Kabupaten Sorong aman dalam mencukupi kebutuhan masyarakat, paling tidak untuk selama 14 hari.

“Tolong Kepala Dinas Ketahanan Pangan di pantau terus, dipastikan lagi bagaimana kondisi stok pangan kita,” kata Bupati Johny Kamuru, saat mengikuti rapat terbatas dengan Satgas Covid-19 di Posko Satgas Kabupaten Sorong, Selasa (21/4/2020).

Permintaan Bupati itu disampaikan menanggapi pernyataan Ketua Satgas Covid-19 Kabupaten Sorong, Mohammad Said Noer, agar dilakukan PSBB jika kondisi pandemic corona di Kota Sorong sudah dalam level mengkhawatirkan.

 “Manakala perkembangan di Kota Sorong sudah ‘mengkhawatirkan’, maka saya minta kepada Pak Bupati agar akses di Tugu Pawbili ditutup. Suka tidak suka, mau tidak mau, ini yang harus kita lakukan dalam memutus mata rantai virus corona di Kabupaten Sorong. Karena penyebaran virus corona ini melalui pergerakan manusia,” kata Said Noer.

Sementara menanggapi pernyataan Bupati Sorong, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sorong, Maritje Watimena menjelaskan, untuk saat ini stok pangan masih tetap aman.

“Akhir bulan ini ada 1.500 ton beras yang masuk. Jadi untuk kondisi pangan kita aman. Hanya yang terjadi sedikit kelangkaan adalah gula. Stok tetap ada, namun harga naik. Kalau biasa harga normal 12 ribu sampai 13 ribu per kilo, saat ini sampai 20 ribu,” urai Maritje.

Terkait dengan sayuran, ditambahkan Maritje, Kabupaten Sorong termasuk sentra produksinya, sehingga tidak perlu khawatir. Apalagi masyarakat di perkampungan, saat ini sudah mulai memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam sayuran.

“Jadi apa yang tadi disampaikan Pak Ketua, dalam menyikapi kondisi terburuk, kita harus lockdown, kami berharap hanya mobilitas manusia saja. Tetapi untuk mobilisasi pangan, khususnya beras tetap diperbolehkan, karena distribusinya dari kota,” kata Maritje. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita lain untuk anda