Obituari

2023, Dinkes Kalsel Temukan 1.855 Kasus TBC

×

2023, Dinkes Kalsel Temukan 1.855 Kasus TBC

Sebarkan artikel ini
Suasana kegiatan penyisiran kasus TBC, di Lapas dan Pondok pesantren di Kalsel. Foto-Ist/TN

TEROPONGNEWS.COM, BANJARMASIN – Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan (Kalsel) berhasil menemukan kasus 1.855 kasus baru pengidap penyakit Tuberkulosis (TBC) selama periode Januari sampai dengan Maret 2023.

Dari hasil temuan kasus TBC Januari hingga Maret 2023 diharapkan pemerintah kabupaten/kota dapat lebih meningkatkan temuan kasus tersebut.

“Jadi, kami harapkan seluruh kabupaten/kota di Kalsel dapat lebih meningkatkan lagi temuan kasus. Karena tahun 2023 target nasional temuan kasus TBC sebesar 16.926 kasus. Dimana, tahun 2030 harus sudah eliminasi TBC,” harap Kepala Seksi P2P Dinas Kesehatan Kalsel, Eda Varia Rahmi kepada wartawan, di Banjarmasin, Selasa (11/4/2023).

Eda menjelaskan, kenapa target TBC Kalsel masih rendah, karena ada beberapa kendala yang terjadi, dikarenakan tidak adanya laporan atau pemberitahuan dari puskesmas, klinik, dokter praktik, jika menemukan kasus TB sehingga tidak masuk dalam laporan.

“Padahal untuk TB ini semakin banyak ditemukan semakin baik, untuk dilakukan pengobatan dan pencegahan,” ungkapnya.

Disamping itu, Ia menambahkan, sudah melakukan berbagai usaha untuk menekan dan mencapai target dari Kementerian Kesehatan dengan mendirikan kampung TB, penyusuran kasus di Lapas dan Pondok Pesantren serta investigasi kontak.

“Walaupun belum bisa capai target, namun setiap tahun sejak 2020 selalu alami peningkatan. Semoga tahun ini bisa capai target, minimal mendekati target,” ujarnya.

Untuk mencapai hal tersebut, tidak bisa dilakukan instansi kesehatan milik pemerintah saja, namun juga dari swasta untuk sama-sama mengatasi masalah penularan penyakit TBC ini.

Maka Ia mengimbau, bagi masyarakat yang keluarganya atau orang terdekatnya terindikasi mengidap penyakit TBC, agar dibawa ke rumah sakit atau tempat kesehatan lainnya, agar segera diobati.

“Sebagaimana diketahui, pasien dengan gejala aktif akan membutuhkan perjalanan pengobatan panjang yang melibatkan beberapa antibiotik,” tandas dia.