Oleh :
Melkianus Sairdekut-Mahasiswa Pasca Sarjana
Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon, Jurusan Kehutanan

PEMBANGUNAN Berkelanjutan atau Sustainable Development pertama kalinya diperkenalkan pada konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam bidang Lingkungan Hidup di Stocklom pada tahun 1972.

Latar belakang diadakan konferensi ini, karena kekhawatiran global akan kemiskinan dan masalah lingkungan, serta kesadaran bahwa ketersedian sumber daya alam untuk mendukung pembangunan ekonomi pada suatu waktu akan habis atau juga terbatas. Tentu saja benar adanya akan kekuatiran global sebagaimana dimaksud.

Hal ini dapat ditunjukan dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia dari tahun ke tahun, yang pada ujungnya akan sangat berimplikasi pada ketersediaan dan penggunaan sumber daya alam yang tersedia di muka bumi.

Memang disadari sungguh, bahwa perbicangan akan pembangunan yang berkelanjutan ini terjadi salah satu alasannya karena persoalan kondisi lingkungan global yang dari hari ke hari semakin memprihatinkan, terutama terkait dengan upaya penurunan Emisi Gas rumah kaca. Karena itu pembangunan yang menekankan aspek lingkungan sudah saatnya menjadi perhatian semua pihak tak terkecuali.

Peran semua pihak disini perlu ditekankan karena bencana alam atau bencana ekologi yang terjadi tidak akan mengenal status sosial, jabatan, bahkan batas-batas administratifpun tak dikenal, ketika datangnya bencana alam.
Sekilas bila kita melakukan perenungan bersama, atas semua bencana yang sifatnya alam, maka dapatlah kita katakan atau setidaknya menurut penulis, bahwa semua ini terjadi bukan karena sesuatu yang sifatnya alamiah semata, akan tetapi juga karena kesalahan, termasuk didalamnya karena ketamakan manusia sebagai pengelola alam ciptaan yang diberikan Tuhan.

Manusia secara berlebihan terlalu mengganggap dirinya sebagai pusat dari seluruh aktifitas pembangunan, sehingga terkadang (bahkan cenderung) lupa untuk mempertimbangkan keseimbangan ekologi lingkungan sebagai faktor yang penting.

Padahal kita tahu bersama bahwa risiko dari adanya sebuah pembangunan yang mengabaikan atau tidak memperhitungkan faktor ekologi akan sangat mahal ongkos sosial dan ekonominya bila terjadi bencana alam.

Dan karena itu sekali lagi bagi penulis, mempertimbangkan keseimbangan ekologi lingkungan sudah harus menjadi bagian dari seluruh keputusan-keputusan kita.

Dalam konteks ini, etika lingkungan menjadi kebutuhan penting bahkan mendesak untuk dipertimbangkan dalam seluruh aktifitas pembangunan. Memang disadari sungguh, bahwa dewasa ini krisis lingkungan dan SDA yang dihadapi manusia moderen merupakan akibat langsung dari pengelolaan lingkungan hidup yang nir-etik atau tidak beretika.

Artinya, bahwa manusia melakukan pengelolaan sumber daya alam hampir tanpa peduli pada peran etika lingkungan itu sendiri. Karenanya krisis ekologi yang dihadapi umat manusia berakar dalam pada krisis etika dan krisis moral.

Manusia seakan egois dan tidak peduli pada upaya merawat dan melestarikan lingkungan dan kehidupannya. Alam begitu saja dieksploitasi tanpa merasa bersalah dan tanpa tanggungjawab, akibatnya terjadi penurunan kualitas sumber daya alam. Dimulai dari hilangnya sebagian spesies dimuka bumi, pencemaran lingkungan, kebakaran dan pembakaran hutan, penebangan sumber daya hutan secara illegal, hingga pada pemusnahan berbagai jenis sumber daya alam itu sendiri.

Kenyataan seperti ini telah, sedang dan akan dihadapi secara bersama-sama. Sehingga mendorong semua orang untuk mulai berpikir dan bertindak menyelamatkan sisa sumber daya alam yang masih tersedia.

Saat ini telah banyak pihak yang tengah berupaya dalam rangka menciptakan pembangunan berkelanjutan tetapi yang pro terhadap Alam ciptaan Tuhan atau pro-lingkungan.

Hal ini dapat kita lihat bersama pada upaya penciptaan pembangunan yang rendah karbon, pembangunan yang ramah terhadap lingkungan, bahkan dewasa ini telah lahir konsep pengembangan ekonomi yang berbasis pada lingkungan atau yang sering kita dengar sebagai Green Economy.

Tentunya berbagai upaya ini dengan satu tujuan, dapat mempertahankan keseimbangan ekologi bumi yang hari ini kita sebagai manusia tempati. Juga karena keyakinan bahwa sumber daya alam yang hari ini ada, bukan hanya menjadi miliki kita sekarang ini saja, akan tetapi adalah juga merupakan titipan dari anak dan cucu kita atau generasi dimasa yang akan datang.

Atas dasar tujuan dan keyakinan seperti inilah, maka tanggungjawab sekaligus kewajiban moral kita semua hari ini adalah bagaimana merawat dan melestarikan bumi beserta seluruh sumber daya yang berada didalamnya untuk kebaikan dan keselamatan kita bersama.(***)

Berita lain untuk anda