Disaksikan Kepala BRG dan Staf Khusus Kepresidenan, kelompok masyarakat Kampung Pachas, Distrik Muting, Merauke, Papua mempraktekan cara pembuatan abon ikan gastor, sekaligus pengemasannya. Foto-Ist/TN

TEROPONGNEWS.COM, MERAUKE – Guna melakukan peninjauan kegiatan Revitalisasi dan Bantuan Ekonomi di Kabupaten Merauke, Papua, Kepala Badan Restorasi Gambut RI, Nazir Foed bersama Staf Khusus Kepresidenan RI, Gracia Josaphat J. Mambrasar mendatangi Kampung Pachas, Distrik Muting.

Kunjungan lebih fokus kepada masyarakat penerima alat tangkap ikan, mesin perahu dan pelatihan pembuatan abon ikan serta bantuan pemasaran oleh YKB (Yayasan Kitong Bisa).

Selain itu, Kepala BRG RI dan Staf Khusus Kepresidenan juga melakukan penanaman padi secara simbolis seluas 30 hektare di Kampung Jaya Makmur, Distrik Kurik. Adapun kegiatan BRG bekerja sama dengan Yayasan Kitong Bisa pada tahun 2020 ini dalam proses pendampingan masyarakat penerima bantuan.

“Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan keahlian masyarakat dalam mengolah sumber daya yang dimiliki serta mengoptimalkan bantuan yang telah diberikan sehingga menjadi produk yang bernilai jual tinggi,” ujar Kepala BRG dalam Konferensi Pers usai kunker di Merauke.

Yayasan Kitong Bisa mendukung kegiatan di 5 Kampung di Kabupaten Mappi (Kp. Agham, Kp. Wairu, Kp. Obaa, Kp. Ima ) dan 2 Kampung di Kabupaten Merauke (Kp. Pachas dan Kp. Boha). Kegiatan yang dilaksanakan berupa pelatihan pembuatan abon ikan gastor/gabus serta olahan pangan kreasi dari tepung sagu.

Dikatakan, area prioritas kerja BRG di Papua tahun 2020 tersebar di 5 Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) yaitu KHG Sungai Kumbe – Sungai Bian, KHG Sungai Ifufeki Obathrow – Sungai Ifufeki Berapto/ KHG Sungai Ifufeki Berapto – Sungai Ifufeki Obat, KHG Sungai Kuis – Sungai Bapai, KHG Sungai Buru Mappi – Buru Obaa, KHG Sungai Jaman – Sungai Kawarga yang mencakup lintas kabupaten, yaitu Kabupaten Merauke, Asmat dan Mappi.

“BRG menargetkan untuk merestorasi 39,315.65 Ha lahan gambut di Provinsi Papua. Kabupaten Merauke memiliki target restorasi hampir 1/3 luas target Provinsi Papua, yakni 11,653.16 Ha. Karena itu Kabupaten Merauke menjadi prioritas restorasi gambut sejak tahun 2018 hingga tahun 2020,” sebutnya.

Kabupaten lain yang menjadi target kegiatan restorasi BRG adalah Kabupaten Mappi, dan
Kabupaten Asmat. Sampai dengan tahun 2020, BRG telah memberikan sebanyak 69 paket Revitalisasi Ekonomi di Papua (9 paket melalui skema penugasan hanya di Kabupaten Merauke dan 60 paket melalui skema tugas pembantuan).

Adapun rincian sebagai berikut, 52 paket Revitalisasi Ekonomi di Kabupaten Mappi sejak 2018 dengan kegiatan budidaya tanaman sagu untuk meningkatkan produksi dan konsumsi sagu di masa mendatang sebagai makanan pokok masyarakat Papua.

Dua paket Revitalisasi Ekonomi di Kabupaten Asmat berupa kegiatan budidaya tanaman sagu pada tahun 2020. Enam paket Revitalisasi Ekonomi di Kabupaten Merauke sejak 2019 dengan rincian dua paket penanaman sagu di Kp. Kaliki dan Kp. Senegi serta 4 paket kegiatan penanaman sawah padi di Kp. Harapan Makmur, Kp. Jaya Makmur, Kp. Sumber Mulya, dan Kp. Sumber Rejeki.

Selanjutnya, sembilan paket Revitalisasi Ekonomi yang dilaksanakan dengan skema penugasan dilaksanakan di wilayah Suaka Margasatwa Danau Bian dan Taman Nasional Wasur dengan jenis kegiatan meliputi peningkatan tangkapan ikan, pengolahan abon ikan, usaha ternak babi, dan pengolahan tepung sagu.

Meskipun profil dan karakteristik gambut yang berbeda, keberlanjutan pertanian ramah gambut tetap perlu dilakukan di Papua terutama dengan mempertimbangkan karakteristik
dan kapasitas lokal. Saat ini untuk program Desa Peduli Gambut, sudah ada 12 DPG di provinsi Papua dan mengelola sebanyak 10 mini demplot (kebun percontohan).

Kemudian untuk pengembangan daerah lebih lanjut, saat ini sudah masuk tahap pengusulan untuk Kawasan Pedesaan Berkelanjutan Merauke yang mencakup 4 distrik yakni Distrik Malin, Distrik Kurik, Distrik Tanah Miring dan Distrik Semangga.

Untuk kegiatan penelitian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati Papua, sekaligus menjaga ekosistem gambut, saat ini sudah ada beberapa kajian dan lesson learned agroforestry (paludikultur dan agrosilvofishery – kombinasi agroforestry + ikan) serta penelitian budidaya sagu dan kekayaan keanekeragaman hayati Papua untuk mendukung restorasi dan revitalisasi ekonomi masyarakat terutama jenis yang bernilai ekonomi seperti sagu, kumbili, petatas dan keladi, ikan gabus, kakap, mujair, ternak babi dan rusa.

“Dari luasan lahan gambut di Papua, masih aman sekitar 85 persen dan yang mengalami kerusakan/terbakar hanya sekitar 15 persen. Jadi kita ingin menjaga yang 85 persen, tapi yang sudah terbakar itu kita perbaiki tata kelolahnya. Kalau dia cocok di budi daya apakah perikanan, sawah atau sagu, ya kita bantu. Sehingga memiliki manfaat ekonomi, tapi tidak lagi rusak dan mudah terbakar,” pungkasnya.

Berita lain untuk anda