“Sejak menjalani karantina, Dk terpaksa menutup usaha bengkelnya yang selama ini menjadi sumber ekonomi keluarga. Istrinya yang sedang hamil tua, tidak bisa menjadi pengganti tulang punggung ekonomi keluarga”

SUARA sirine ambulan meraung-raung dari kejauhan. Mobil patroli Satpol PP menjadi pembuka jalan. Di belakangnya,minivan ambulan dan kendaraan petugas Satgas Covid-19 Kabupaten Sorong.

Hari itu, 21 April 2020, sebanyak enam orang yang diketahui sebagai pelaku perjalanan dari Gowa, Sulawesi Selatan, dievakuasi Tim Satgas ke Gedung Dharma Wanita Kabupaten Sorong. Jarum jam menunjukkan pukul 15.45 WIT.

Menenteng tas berisi baju dan bekal lainnya, satu persatu penumpang ambulan turun. Mereka bergegas menuju ruang karantina yang telah disiapkan Tim Satgas Covid-19. Ini adalah program karantina khusus yang harus mereka jalani, sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona.

Kegiatan ijtima ulama di Gowa, Sulawesi Selatan yang tidak diijinkan oleh pemerintah, disebut-sebut sebagai area yang diduga banyak terjadi penyebaran virus corona. Satgas Covid-19 Kabupaten Sorong tidak mau ambil resiko.

Para pelaku perjalanan dari kegiatan itu yang ada di Kabupaten Sorong, harus menjalani karantina khusus. Di bawah pengawasan ketat, menjaga mereka agar tidak bebas berbaur dengan masyarakat. Dari rapid test terhadap mereka, ada menunjukkan reaksi sebagai indikasi awal gejala terinfeksi corona.

“Kami akan memenuhi kebutuhan mereka selama dalam karantina,” kata Mohammad Said Noer, Ketua Satgas Covid-19 Kabupaten Sorong.

Selasa, 28 April 2020, Satgas Covid menyampaikan ke publik, sebanyak 10 dari 12 orang yang menjalani karantina di Gedung Dharma Wanita, postif terinfeksi virus corona. Ini adalah hasil analisa swap yang dikirim pada 21 April 2020. Dua orang lainnya, dinyatakan negative.

Meski dinyatakan positif berdasarkan hasil analisa swab, kondisi fisik para ODP yang ada di ruang karantina Gedung Dharma Wanita ini cukup bugar.

Pengumuman ini memicu reaksi yang beragam dari masyarakat Kabupaten Sorong. Ada yang berharap segera dilakukan lockdown, hingga umpatan terhadap para ODP itu. Yang juga tak bisa dihindari, keluarga mereka yang ada di rumah, mendapat perlakuan kurang nyaman dari masyarakat.

“Keluarga saya dikucilkan. Sekarang tidak ada yang mau bergaul dengan istri saya. Kasian. Dia sedang hamil 8 bulan,” kata Dk, salah seorang ODP yang menjalani karantina di gedung Dharma Wanita.

Sebagai pelaku perjalanan, dia dan rombongannya yang saat ini menjalani karantina, tidak pernah diberi tahu hasil test yang dilakukan Satgas, baik rapid maupun swab. Dia menyesalkan tindakan Satgas yang lebih mementingkan pengumuman itu ke publik, daripada kepada mereka.

“Sebagai pasien, kami tidak pernah diberi tahu oleh tim dokter bagaimana hasil tesnya. Kami mendengar hasil itu dari kegaduhan di masyarakat. Kami tahu setelah keluarga saya dikucilkan,” ujar Tl, ODP lainnya.

Para ODP dalam ruang karantina ini berharap ada transparansi dan kebijaksaan dari Satgas. Selama menjalani masa karantina, selain makan dan tidur, tidak pernah ada kegiatan sebagai upaya membebaskan mereka dari infeksi corona. Berolahraga atau berjemur dibawah sinar matahari pagi.  

Yang juga membuat mereka tidak habis pikir, adalah perlakukan terhadap As dan Ju, dua ODP yang dinyatakan negative hasil swab-nya. Hingga kini, mereka masih tinggal menjadi satu ruangan karantina. Belum ada upaya dari Satgas memisahkan keduanya, dari teman-temannya yang positif.

“Kalau memang kami dinyatakan positif, kedua teman kami yang negative itu seharusnya dipisah. Kalau masih seperti ini, mereka bisa tertular dan menjadi positif juga,” kata Dk.

Para ODP di gedung Dharma Wanita ini, tetap optimis dirinya akan bebas dari virus corona.

Tetapi dia tetap berprasangka baik terhadap kondisi dirinya dan teman-temannya yang sedang menjalani karantina. Hasil analisa swab yang menyatakan positif, tidak akan berlanjut pada peningkatan status dirinya sebagai PDP. Keyakinan itu juga merujuk pada hasil rapid tes terhadap keluarganya, yang saat ini dinyatakan negative.

Dk berkisah, setelah acara di Gowa dibatalkan oleh pemerintah, dirinya bersama enam orang lainnya, langsung kembali ke Sorong. Sabtu, 21 Maret 2020 pagi, mereka mendarat di Bandara DEO Kota Sorong.

Karena masih menjalani program perjalanan 40 hari, dirinya tidak langsung pulang ke rumah. Dk dan kawan-kawannya melanjutkan aktivitas dakwah di Kota Sorong hingga beberapa hari. Setelah mendapat telepon dari keluarganya agar pulang, Dk memutuskan kembali ke rumah.

“Saya sempat sekitar satu bulan berkumpul dengan keluarga di rumah. Tapi dari hasil rapid tes terhadap keluarga saya, semuanya dinyatakan negative,” ujar Dk.

Yang menjadi kegundahan Dk dan kawan-kawannya saat ini, bukan hanya soal statusnya sebagai ODP yang dinyatakan positif. Kebutuhan ekonomi keluarga yang mereka tinggalkan, menjadi beban yang memenuhi pikirannya.

Sejak menjalani karantina, Dk terpaksa menutup usaha bengkelnya yang selama ini menjadi sumber ekonomi keluarga. Istrinya yang sedang menunggu detik-detik kelahiran anaknya, tidak bisa menjadi pengganti tulang punggung ekonomi keluarga.

“Saya sedih. Beruntung masih ada teman-teman saya yang mengirimkan bantuan makanan ke rumah,” pungkas Dk. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita lain untuk anda