Salah satu peserta sedang mengeringkan hasil karyanya di bawah sinar matahari. Foto-Getty/TN

TEROPONGNEWS.COM, MERAUKE – Fakultas Bidang Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) ditugaskan melakukan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka pemulihan ekonomi periode 2021, dengan teknik guta tamarin untuk peningkatan produktivitas UMKM Kampung Buti, Kelurahan Samkai Kabupaten Merauke, Papua.

Teknik guta tamarin adalah pengembangan teknik batik terbaru menggunakan bahan dasar biji buah asam yang dihaluskan. Bubuk asam kemudian dicampur air dan sedikit lemak nabati atau margarin menjadi sejenis pasta.

Berbahan dasar guta tamrin, ITB mengajarkan warga asli Papua Kampung Buti, Kelurahan Samkai, Merauke cara membuat batik sederhana khas daerah, dengan menampilkan kearifan lokal yang belum pernah dimunculkan.

“Kami sudah mengembangkan lima tahun yang lalu, tapi baru dapat kesempatan di Papua. Sasarannya ke anak-anak muda putus sekolah, tapi ibu rumah tangga juga banyak yang tertarik. Mungkin ini bisa untuk pemberdayaan ibu-ibu di Papua,” terang Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB sekaligus pelatih kegiatan membatik, Nuning Damayanti di Kantor Lurah Samkai, Selasa (06/04).

Motif yang digambarkan seperti burung cenderawasih, kasuari, tifa, bunga khas daerah, alat tangkap ikan lokal, alam Papua dll. Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini cukup menarik minat warga yang ingin bergabung dengan yang terdaftar mencapai 27 peserta bahkan akan terus bertambah. Di dalamnya termasuk siswa SMP, SMA, mahasiswa Musamus, ibu RT dan yang putus sekolah.

Nuning,mengatakan peserta sangat antusias dan cepat tanggap dengan ilmu yang diajarkan sehingga hasil sementara sudah sangat bagus. Jangka waktu pembuatan batik tulis ini paling lama dua hari dan paling cepat hanya empat jam untuk ukuran kecil.

“Tujuan ke depannya kita harapkan bisa dikembangkan guna pemulihan ekonomi di tengah Pandemi Covid-19, lalu menjadi produk baru seperti membuat masker, tas, dompet, dijadikan cover buku, pakaian dan keperluan pariwisata,” sebut Nuning.

Sebelum ke Papua, ITB sudah mensasar di wilayah NTT di Labuan Bajo, Dili, Kupang, Lombok, Djokja dan Jawa Barat dengan progres peserta sudah sangat mampu dan mandiri. Khusus di Samkai sendiri, peserta punya kemampuan kreaktifitas yang sangat bagus dengan sekali ajar. Untuk itu harus terus diarahkan, sidorong hingga benar-benar memberikan hasil terbaik, dengan harapan akan ada perhatian lanjutan dari Dinas Perindakop dan UMKM Bidang Perindustrian setempat.

“Mudah-mudahan dengan saya mengenalkan ini mereka akan melanjutkan pengetahuan yang ada kepada yang lain karena teknisnya sangat mudah dan biayanya sangat ekonomis serta ramah lingkungan,” tambah Nuning.

Generasi muda Papua punya potensi dalam krekatifitas yang menghasilkan karya seni dan punya nilai jual. Seperti diketahui ketika batik Papua dipasarkan di luar Papua harganya sangat tinggi sehingga orang asli Papua, Merauke harus mampu menghasilkan hasil karya batik khas daerah sendiri.

“Saya bersyukur dengan adanya pelatihan dari ITB Bandung akan menjawab cita-cita untuk memproduksi karya lokal kita sekaligus menjawab kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Di sini kita mengangkat sesuatu yang belum ada yang berasal dari etnik kehidupan kita sehari-hari,” ujar Siti Habibah Letsoin sebagai Ketua Pengelola PKB Weda Agletop Sai.

Sementara Lurah Samkai Amelia E. Padwa menyebut kegiatan membatik ini adalah perdana dilakukan di Kelurahan Samkai. Selain peserta baru, sebagian lagi adalah mama-mama yang sudah tergabung dalam kelompok usaha merajut atau menganyam.

“Saya harapkan bisa tercipta motivasi baru untuk menciptakan hasil karya atau inovasi terbaru yang punya daya tarik tersendiri karena mengenalkan budaya Merauke,” tuturnya.

Sebagai orang asli Papua, ia mengaku senang dan menyapaikan apresiasi kepada ITB Bandung yang mengadakan kegiatan pelatihan khusus untuk pemberdayaan masyarakat asli Papua dan hasilnya akan berkelanjutan dengan mendapat suport dari Pemkab setempat melalui dinas terkait.

Kesempatan yang sama, Kabid UKM Dinas Perindakop dan UMKM Merauke, Ardin menyampaikan bahwa dinas pasti mendukung melalui pembina maupun pendamping kepada UMKM di Merauke. Kata Ardin, di 2017 lalu pernah ada pelatihan batik di daerah Gudang Arang hingga pesertanya diterbangkatkan ke Bali. Namun dalam perjalanan terhenti karena terkendala modal.

Menurutnya, kerajinan batik sangat berpotensi namun perlu didukung dengan pendanaan sehingga tidak terputus kegiatannya. Untuk itu, dinas memberikan pendampingan agar pelaku usaha benar-benar mempersiapakan modal usaha yabg dimulai dari skala kecil. Sebab, dinas tidak bisa memberikan bantuan tunai melainkan bantuan peralatan yang dibutuhkan namun harus didahului dengan pengusulan.

“Semua kegiatan UMKM kami siap memberikan pendamping maupun pelatihan namun perlu dipersiapkan untuk modal yang cukup agar usaha yang digeluti terus berkembang. Kalau saya lihat ini peluangnya cukup besar dan diminati oleh masyarakat luar Papua karena motif khas daerah yang sangat unik, sehingga perlu diproduksi banyak dilihat dari nilai ekonomi yang menjanjikan,” pungkasnya.

Dalam waktu dekat ini, para pembatik asli Papua dipersiapkan hasil karyanya untuk nanti dipajang di stand yang ada pada venue-venue PON XX Papua dan salah satunya Merauke sebagai klaster PON. Sementara ini, dinas masih menunggu konfirmasi dari Panitia Besar PON XX Papua mengenai berapa lapak yang dibutuhkan di venue. Selanjutnya membuka pendaftaran bagi pelaku UMKM dan salah satunya mempersiapkan lapak batik khas Papua asli Merauke.

Berita lain untuk anda