Bupati non aktif Kabupaten Teluk Bintuni, Ir. Petrus Kasihiw MT, menunjukkan lokasi proyek pembangunan jembatan Sungai Meyof yang diusulkan ke Pemprov Papua Barat tahun 2019. (Foto:Tantowi/TN)

TEROPONGNEWS.COM, BINTUNI – Jembatan sungai Meyof yang menghubungkan Distrik Merdey dengan distrik lain di dataran Moskona, mulai dibangun. Proyek ini adalah usulan duet pemimpin Kabupaten Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw MT-Matret kokop SH,  ke Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan.

Tiang panjang untuk konstruksi jembatang yang akan membentang sepanjang sekitar 500 meter ini, sudah mulai dikerjakan oleh kontraktor.  Direncanakan, pembangunan jembatan ini akan tuntas dan diresmikan pada tahun 2022 mendatang.

“Itu target yang kami harapkan. Mudah-mudahan nanti di tahun 2022, Pak Gubernur bisa datang ke sini untuk meresmikan jembatan ini,” kata Petrus Kasihiw, Bupati Teluk Bintuni yang sedang mengambil cuti, saat meninjau pembangunan jembatan itu, Kamis (5/11/2020).

Proyek jembatan itu diusulkan Pit-Matret ke Gubernur Papua Barat pada tahun 2019. Sarana infrastruktur itu menurut mantan Kepala Bappeda Kabupaten Tambrauw ini, sangat penting untuk perkembangan wilayah di Distrik Merdey dan sekitarnya.

Karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit, proyek jembatan itu dianggarkan dalam APBD provinsi dengan pola multi years. “Kita usulkan ke provinsi karena biaya yang dibutuhkan cukup besar,” tandas Pit.

Selain masyarakat Distrik Merdey, daerah lain yang akan merasakan dampak positif dari keberadaan jembatan itu adalah warga yang ada di Distrik Biscoop dan Masyeta. Dengan terbangunnay jembatan itu, juga akan berdampak pada pertumbuhan setor ekonomi masyarakat Merdey dan sekitarnya.

Selama ini, keberadaan sungai Meyof itu yang menjadi pemicu tingginya harga kebutuhan pokok masyarakat, karena mahalnya ongkos distribusi. Masyarakat yang akan melintasi sungai itu, harus menggunakan perahu Johnson.

Untuk menyeberangi sungai yang lebarnya sekitar 500 dan membutuhkan waktu tidak sampai 5 menit itu, masyarakat harus mengeluarkan biaya sekitar 700 ribu hingga 1 juta rupiah. “Kalau barangnya satu truk, ongkosnya 1 juta. Kalau hanya menyeberangkan orang, ongkosnya Rp 50 ribu per kepala,” kata salah seorang warga.

Ongkos angkut itu harus dibayar lagi ketika barang belanjaan dibawa dari bibir sungai menuju rumah di perkampungan. Sekali jalan yang tidak menghabiskan waktu perjalanan 15 menit, harus mengeluarkan biaya Rp 500 ribu. “Itu yang membuat harga-harga di sini jadi mahal, Karena biaya transportasinya juga mahal,” tambahnya. **

Berita lain untuk anda