Pertumbuhan dan Kontraksi Ekonomi Provinsi Papua

Listya Endang Artiani, Dosen dan Peneliti di Universitas Islam Indonesia.

LAJU pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi Papua memiliki dua karakteristik berbeda jika dilakukan perbandingan dengan kontribusi tambang dan tanpa kontribusi tambang. Nilai positif menunjukkan pertumbuhan ekonomi, sedangkan jika negatif, menunjukkan adanya kontraksi ekonomi.

Laju Pertumbuhan PDRB sebagai salah satu indikator keberhasilan Pembangunan di Provinsi Papua lebih tinggi jika tanpa memasukkan tambang dibandingkan jika memasukkan tambang. Hal ini menjadi menarik, karena kita mengenal bahwa terdapat potensi tambang di provinsi Papua.

  • Batu bara, endapannya ditemukan di Distrik Paniai Barat, Siriwo dan Distrik lainnya di Kabupaten Paniai.
  • Emas, ditemukan di Distrik Sugapa,Agisipa, Homeyo,Aradide, Mbiandogo, Bogobaida, dan Paniai Barat.
  • Besi, ditemukan di Puncak Cartens, jumblah cadangan besi diperkirakan sebesar 4 % dari tembaga dan perak.
  • Batu kapur, ditemukan di Distrik Paniai Timur Dalam jutaan meter persegi.
  • Pasir Kualin, terdapat di Distrik Paniai Barat.
Sumber : BPS Provinsi Papua

Namun demikian pemanfatan sumber daya tersebut diatas masih sangat terbatas dan masih dalam tahap eksplorasi. (www.papua.go.id). Artinya potensi tersebut bisa memberikan kontribusi pada perekonomian provinsi Papua.

Pendekatan yang bisa menjelaskan adalah pada beberapa tahun selama periode 2010 – 2022 laju pertumbuhan pertambangan dan penggalian tumbuh negatif , artinya sektor ini mengalami kontraksi atau penurunan dalam kontribusinya terhadap PDRB.

Hal ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti penurunan produksi, berkurangnya permintaan, ketidakstabilan keuangan, atau masalah ekonomi lainnya.

Tentu saja kedepan kondisi ini akan memberikan dampak. Berikut beberapa implikasi yang terkait dengan laju pertumbuhan PDRB sektor pertambangan dan penggalian yang negatif:

  1. Pengaruh Terhadap Perekonomian Keseluruhan: Sebagian besar provinsi atau wilayah yang memiliki ketergantungan tinggi pada sektor pertambangan akan merasakan dampak signifikan terhadap PDRB keseluruhan jika sektor ini mengalami kontraksi. Penurunan produksi atau harga komoditas pertambangan dapat menyebabkan penurunan nilai tambah ekonomi.
  2. Pengangguran Sektor Pertambangan: Penurunan dalam sektor pertambangan dapat berarti penurunan aktivitas ekonomi, yang dapat mengakibatkan pemotongan pekerjaan dan peningkatan tingkat pengangguran dalam sektor ini.
  3. Ketergantungan Ekonomi: Jika wilayah tersebut sangat tergantung pada pendapatan dari sektor pertambangan, kontraksi dalam sektor ini dapat memberikan dampak serius pada perekonomian wilayah tersebut. Ketergantungan yang tinggi pada satu sektor dapat membuat ekonomi menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dan permintaan global.
  4. Pengaruh Fiskal dan Pendapatan Daerah: Penurunan kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB juga dapat mempengaruhi pendapatan daerah dan kemampuan pemerintah setempat untuk membiayai proyek-proyek pembangunan dan layanan publik.

Pada jangka yang tidak terlalu lama eksplorasi potensi tambang di provinsi Papua dapat direalisasi menjadi eksploitasi secara berkelanjutan sehingga dapat memberi kontribusinpositif pada PDRB Papua .

Listya Endang Artiani
Universitas Islam Indonesia
listya@uii.ac.id