BNPB PBD Gelar Sosialisasi Pembentukan Kelurahan Tangguh Sigap Bencana di Kota Sorong

BNPB PBD Gelar Sosialisasi Pembentukan Kelurahan Tangguh Sigap Bencana di Kota Sorong, Sabtu (25/11/2023). Foto Doni/TN

TEROPONGNEWS.COM, SORONG – Dalam rangka meminimalisir terjadinya bencana non alam dan bencana alam di wilayah Kota Sorong Provinsi Papua Barat Daya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) PBD menggelar Sosialisasi Pembentukan Kelurahan Tangguh Sigap Bencana di Kota Sorong, Sabtu (25/11/2023).

Sosialisasi Pembentukan Kelurahan Tangguh Sigap Bencana di Kota Sorong merupakan Program Fasilitasi Penguatan Ketangguhan Masyarakat membahas langkah-langkah implementasi Indonesia Disaster Resilience Project (IDRIP). Kegiatan ini berlangsung di rumah Ketua, RT 04 RW 05 Kelurahan Klaligi, Kecamatan Sorong Manoi.

Fasilitator Daerah Andrie Augustinus, ST mengatakan kegiatan tersebut digelar di Kota Sorong karana berdasarkan data yang dimiliki, Kota Minyak itu termasuk dalam wilayah dengan resiko ancaman bencana alam.

“Bahwa Kota Sorong ini termasuk ke dalam Wilayah dengan ragam wilayah dengan risiko ancaman, beberapa resiko ancaman terhadap bencana, terutama dalam hal ini bencana, gempa dan tsunami, oleh Sebab itu Dari BNPB melalui program fasilitasi penguatan ketangguhan masyarakat lewat kerja sama Antara Bank Dunia dengan pemerintah Indonesia,” ujar Andrie.

Program Indonesia Disaster Resilience Project (IDRIP) sendiri bernaung dibawah Indonesia Develop Insiatif Science Project. Project ini diterapkan di seluruh Provinsi di Indonesia termasuk Kota Sorong Ibu Kota Provinsi termuda di Indonesia.

“Khusus untuk Papua Barat Daya Sementara ini kita di kota sorong adalah menjadi pionir projek ini,” kata dia.

“Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat terhadap ancaman tsunami walaupun, di dalam pelaksanaannya Masyarakat melakukan sendiri kajian secara subjektif dan secara partisipatif untuk mengetahui sampai sejauh mana kemampuan kita dalam menghadapi atau mengantisipasi resiko bencana maupun ancaman bencana itu sendiri,” sambungnya.

Kota Sorong terdapat 6 (enam) Kelurahan yang sementara ini menjalankan program tersebut yaitu, Kelurahan Malawei dan Klaligi Distrik Sorong Manoi, Kelurahan Kampung Baru, Kelurahan Klasur Distrik Sorong Kota, serta Kelurahan Rufey dan Kelurahan Klawasi Distrik Sorong Barat.

“Khusus di kelurahan Klaligi kita sudah mulai dari tahap sosialisasi tentang program ini dari bulan September kemarin, kemudian yang berikutnya kita sudah melakukan kegiatan penilaian ketangguhan Kelurahan,” ungkap Fasilitator.

Kegiatan penilaian ini dilakukan sendiri oleh masyarakat dengan didukung oleh Pemerintah Kelurahan dengan tujuan bagaimana masyarakat mengetahui Indeks ketangguhan bencana di setiap kelurahan. Selain itu, tujuannya untuk bisa melihat sampai sejauh mana program ini berhasil pada saat closing project di tahun 2024 mendatang.

Sebagai fasilitator, Andrie Augustinus menjelaskan dalam proses kegiatannya selain kegiatan penilaian, ketangguhan kelurahan kita juga sudah melakukan kegiatan kajian resiko bencana, pengkajian resiko bencana dilakukan secara partisipatif oleh masyarakat sehingga masyarakat bisa menilai ragam ancaman apa yang ada di kelurahan Klaligi. Kata dia, itu nanti sudah dibuat ranking rankingnya sehingga kita bisa tahu prioritas pengurangan resiko bencana apa yang menjadi prioritas utama di setiap kelurahan.

Sebagai contoh, Andrie mengungkapkan contoh kasus di Kelurahan Klaligi kita di sini Prioritasnya adalah Tsunami dan Hidrometeorologi yaitu banjir Kemarau panjang, gelombang pasang, dan angin besar.

Kebetulan secara tidak sengaja juga ancaman ancaman bencana ini sudah pernah terjadi di sini, oleh sebab itu kami berharap lewat Program Fasilitas penguatan ini Masyarakat jadi lebih Paham akan resiko bencana yang dihadapi di wilayahnya sehingga bisa dibuat suatu sistem yang seragam berdasarkan dari Kehidupan masyarakat sehari hari, sehingga kita bisa menjadi waspada kita bisa menjadi siap siaga terhadap setiap ancaman potensi bencana yang akan terjadi di wilayah kita.

Jumlah peserta sesuai dengan arahan dari BNPB Nasional adalah 30 orang yang tergabung di dalam Forum diskusi Grup ( FGD ) Andre “Berharap dari 30 orang ini, kita nanti akan menyebar seperti prinsip jaring laba laba untuk minimal ke setiap