Berita

Kuliner PKL Sultan Agung di Bandung Jadi Incaran Wisatawan

×

Kuliner PKL Sultan Agung di Bandung Jadi Incaran Wisatawan

Sebarkan artikel ini
Kawasan PKL Sultan Agung, di Kota Bandung, yang kulinernya menjadi incaran wisatawan. Foto-Ist/TN

TEROPONGNEWS.COM, BANDUNG – Tak ada yang menyangkal jika Kota Bandung disebut kota kuliner. Tak hanya kelas restoran atau cafe, kuliner Pedagang Kaki Lima (PKL) juga menjadi incaran wisatawan.

1739
Mana Calon Gubernur Papua Barat Daya Pilihan Anda yang Layak?

 www.teropongnews.com sebagai media independen meminta Anda untuk klik siapa calon yang digadang-gadang oleh Anda untuk dipilih dan layak jadi calon Gubernur Papua Barat Daya Periode 2024-2029,  kemudian klik Vote pada bagian paling bawah ini.

Salah satunya, kawasan PKL Sultan Agung yang kini naik kelas. Kawasan tersebut masuk pada zona kuning, yaitu lokasi yang diperkenankan berjualan tetapi dibatasi oleh batas waktu, yaitu hanya pada pukul 07.00-17.00 WIB.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung telah menata dan memperbaiki kawasan ini, agar para pengunjung lebih nyaman.

Saefudin, pedagang Gudeg mengaku kali ini kawasan PKL Sultan Agung lebih nyaman untuk para penjual dan pembeli.

“Di sini lebih bersih, nyaman. Pelanggan juga nyaman makan di sini,” katanya kepada wartawan, di Bandung, Senin (26/6/2023).

Ia yang sudah berjualan sekitar 30 tahun itu mengapresiasi Pemkot Bandung, yang ikut memperhatikan kawasan tersebut. Pasalnya, hal itu cukup berpengaruh terhadap omzetnya.

“Alhamdulillah, sekarang itu mempengaruhi juga ke dagangan saya. Sekarang saya bisa menjual sekitar 400 porsi per hari,” tuturnya.

Selain Saefudin, ada juga Didin Jaenudin (49), penjual pisang keju.

“Alhamdulillah saya berjualan di sini mulai tahun 1998, dari dulu sampai sekarang tetap jualan pisang keju,” ujarnya.

Ia mengaku, saat ini PKL kawasan Sultan Agung lebih tertata, dan semakin nyaman.

“Sekarang ini bersih. Alhamdulilah jadi laris. Kalau lagi ramai bisa sampai 100 porsi dengan harga Rp13.000 per porsi,” akunya.

Sedangkan Darsono (41) merasa bangga berjualan di kawasan Sultan Agung. Ia akui, kawasan tersebut sangat ramai pengunjung.

“Ramai sekali, apalagi kalau weekend. Penuh, sampai baris (antre) buat pesan batagor. Suasananya nyaman. Terpenting itu bersih. Efeknya lumayan ya, sehari itu 100 porsi bisa terjual,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua RW 03 Kelurahan Citarum Kecamatan Bandung Wetan, Mamat Sudiutama menerangkan, PKL kawasan Sultan Agung dibina, sehingga bisa bersaing dengan pedagang di kawasan lainnya.

“Ini bentuk hasil binaan dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Mikro dan Menengah (KUMKM), dan kami sebagai lapisan masyarakat meyakinkan PKL ini mampu dibina, sehingga terasa saat ini lingkungan lebih nyaman,” katanya.

Mamat mengungkapkan, di kawasan Sultan Agung terdepat toko clothing, cafe, sekolah, gereja hingga PKL. Banyaknya pengunjung di kawasan tersebut dapat dimanfaatkan oleh para PKL.

“Intinya saling menguntungkan. Buktinya PKL Sultan Agung nyaman dan bersih. Pengunjung pun bisa menikmati kuliner yang ada,” tuturnya.

Sedangkan Kepala Bidang Usaha Non Formal Dinas KUMKM Kota Bandung, Evy Oktaviyanti mengatakan, pemerintah membina PKL dengan harapan bisa naik kelas.

“PKL Sultan Agung itu salah satu dari 22 binaan Kota Bandung. Sultan Agung ini mudah dibina dan koperatif. Mereka mau dipasarkan, sehingga inisiatif juga untuk membentuk koperasi pemasaran,” katanya.