TEROPONGNEWS.COM, BINTUNI – Tahapan pesta demokrasi pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Teluk Bintuni yang selama ini berlangsung santun dan damai, dicederai ulah oknum ketua partai pengusung kandidat pasangan Ali Bauw-Yohanis Manibuy (AYO) saat melangsungkan kampanye di Distrik Kamundan, Selasa (10/11/2020).

Informasi yang diterima media ini, peristiwa itu terjadi saat rombongan tim AYO melintas di posko pemenangan Ir. Petrus Kasihiw-Matret Kokop SH, menuju tempat orasi. Di posko PMK2 Jilid 2 ini, simpatisan Pit-Matret sedang bersuka ria berjoget di iringi musik.

Atus Frabun, salah seorang simpatisan Pit-Matret yang ada di posko PMK2 sempat mengingatkan mereka agar berjoget di area posko saja, jangan sampai meluber di jalanan dan mengganggu rombongan kampanye AYO. Hal itu juga disaksikan sejumlah anggota Panwaslu Distrik Kamundan, Kepala Kampung Maroro dan sekretaris kampung.

“Saya merasa lucu saja melihat mereka bergoyang,” kata Atus Frabun.

Rupanya kalimat itu di dengar Joko Linggara, Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang menjadi salah satu partai pengusung pasangan AYO. Joko yang merasa tersinggung dengan ucapan itu, lalu mendatangi Atus Frabun, dan langsung menampar wajahnya. Karena merasa usianya lebih muda, Atus Frabun tidak melawan meski diperlakuan seperti itu.

Tetapi menurut Fransiskus Lusianak, Sekretaris Tim Pemenangan PMK2 Jilid 2, tindakan arogan itu tidak boleh dibiarkan. Apalagi peristiwa itu juga disaksikan anggota Panwas distrik, yang seharusnya bisa menjaga situasi dan kondisi tahapan pilkada.

“Sangat disayangkan. Seharusnya insiden tersebut dapat diantisipasi oleh pihak Panwaslu dan aparat keamanan serta Tim AYO. Namun hal itu tidak dilakukan, sehingga posko PMK2 menjadi sasaran di serang bahkan terjadi tindakan penganiayaan oleh salah satu petinggi DPC PPP Teluk Bintuni terhadap simpatisan Pit-Matret di dalam posko PMK2,” ujar Fransiskus.

Kekerasan ini seharusnya tidak boleh terjadi jika dalam komunikasi internal AYO, selalu menerapkan pendidikan politik santun, bermartabat dan menjunjung nilai-nilai moral yang demokratis kepada para pendukung. Bukan sebaliknya, semakin memprovokasi dan memicu kerusuhan sehingga tidak dapat mengendalikan emosional, bertindak kasar dan tidak dapat menghindari kekerasan bahkan pengrusakan terhadap kubu lawan.

Hal ini sungguh menciderai demokrasi politik Teluk Bintuni yang sehat dan damai. Fakta ini juga menunjukkan kelemahan dan ketidaksiapan pihak penyelenggara pemilu yang seharusnya berintegritas dan sigap menghadapi kerawanan situasi kampanye menjelang pilkada.

“Kami berharap pihak Bawaslu harus melakukan evaluasi kepada petugas lapangan karena di beberapa distrik justru Panwas yang menjadi pemicu gesekan antar pendukung secara tidak langsung,” pungkasnya. **

Berita lain untuk anda