Ali Ibrahim Bauw, didampingi pasangannya Yohanis Manibuy (kiri), menjelaskan programnya yang akan mengembalikan kejayaan masa lalu. Tapi argumen kandidat nomor urut 1 ini dengan mudah dipatahkan Petrus Kasihiw Mt dan Matret Kokop (kiri), kandidat nomor urut 2. (Foto:Tantowi/TN)

TEROPONGNEWS.COM, MANOKWARI – Visi misi dan argumen kejayaan masa lalu yang disampaikan kandidat Bupati dan Wakil Bupati Teluk Bintuni nomor urut 1, Ali Ibrahim Bauw – Yohanis Manibuy yang dilontarkan dalam debat terbuka di Aula Utama Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Jumat (27/11/2020) sore, dengan mudah dipatahkan Petrus Kasihiw – Matret Kokop, kandidat nomor urut 2.

Yang pertama ketika Ir Petrus Kasihiw MT menanyakan, kejayaan apa yang ingin dikembalikan Ali Bauw-Yohanes Manibuy, ketika terpilih sebagai Bupati Wakil – Bupati Teluk Bintuni.

“Saya baca di spanduk-spanduk saudara, ada kalimat mau mengembalikan kejayaan masa lalu. Kira-kira kejayaan apa yang mau dikembalikan, karena yang saya tahu masa lalu itu meninggalkan banyak persoalan,” tanya Petrus Kasihiw.  

Menjawab pertanyaan itu, Ali Bauw menjelaskan bahwa salah satu yang akan dilakukan ketika terpilih sebagai Bupati, akan menggratiskan biaya sekolah dan biaya kesehatan masyarakat, yang telah di inisiasi pemimpin sebelum Piet-Matret, pada 10 tahun lalu.

“Pendidikan gratis sebagai bukti kejayaan masa lalu. Sekolah gratis, kesehatan gratis. Selain itu kita jangan terfokus pada kalimat kejayaan. Tapi bagaimana masyarakat bisa hidup tenang, masyarakat tidak mengeluh,” jawab Ali Bauw.

Mendengar jawaban itu, Petrus Kasihiw menukas bahwa di era 3,5 tahun kepemimpinannya, kesehatan dan pendidikan grastis, masih tetap dijalankan. Bahkan ada program tambahan di sektor pendidikan, dengan dibangunnya Petrotekno sebagai lembaga pendidikan untuk anak-anak tujuh suku di Teluk Bintuni.

“Jadi yang saudara maksud kejayaan masa lalu itu, saat ini sudah kami lakukan, dan bahkan lebih baik lagi. Kami ad amengirimkan anak-anak Teluk Bintuni untuk studi ke luar daerah, bahkan luar negeri,” tukas Piet.   

Ketika mendapat giliran bertanya, Ali Bauw menanyakan kiat apa yang akan dilakukan Piet-Matret jika kembali terpilih sebagai Bupati dan wakil Bupati Teluk Bintuni, dengan APBD yang mencapai Rp 3,1 triliun.

Ali Bauw membandingkan dengan kondisi di Kabupaten Raja Ampat dan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang APBD-nya jauh lebih kecil dari Teluk Bintuni, kondisi daerah dan masyarakatnya bisa lebih makmur.

“APBD Teluk Bintuni tiga kali lipat dari mereka, tapi kenyataannya, sampai saat ini kita masih dikatakan daerah yang belum keluar dari kemiskinan. Kira-kira kiat apa yang akan bapak lakukan jika bapak terpilih kembali menjadi Bupati?” tanya Ali Bauw.

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Petrus Kasihiw terlihat tersenyum. Kemudian kandidat petahana ini mengingatkan Ali Bauw, agar membuat perbandingan dengan melihat fakta lapangan dan kondisi geografis.

“Mungkin paslon nomor urut 1 harus sadar bahwa luas wilayah Kabupaten Teluk Bintuni adalah 21 persen dari luas Papua Barat. Kita harus menjangkau wilayah dengan tiga moda transportasi, laut, darat dan udara. Itu yang tidak ditemukan di Raja ampat atau daerah lain. Dan kita menangani tujuh suku dengan jumlah penduduk terbesar ke empat di Papua Barat, jadi konteksnya berbeda. Begitu juga dalam hal pembangunan,” urai Petrus Kasihiw.

Tetapi terlepas dari luas wilayah dan kondisi geografis yang tidak mudah dijangkau, pemerintahan era Piet-Matret sudah melakukan pemerataan pembangunan infrastruktur hingga menjangkau daerah pedalaman.

“Mungkin tahun depan kita sudah menebus Moskona Utara dan Moskona Timur. Kami juga punya tujuh program untuk masyarakat,” tandas Piet.

Distrik Moskona Utara dan Moskona Timur, adalah wilayah terjauh yang menjadi area kekuasaan Kabupaten Teluk Bintuni. Untuk mengjangkau daerah itu, satu-satunya moda transportasi adalah lewat udara, dengan menggunakan pesawat perintis berkapasitas 8 penumpang. **

Berita lain untuk anda