BeritaDaerahPeristiwa

PC IMM Kota Sorong Beberkan 2 Alasan Fundamental Menarik Diri Dari Aksi Demo Jilid II Di Polresta Sorong Kota

×

PC IMM Kota Sorong Beberkan 2 Alasan Fundamental Menarik Diri Dari Aksi Demo Jilid II Di Polresta Sorong Kota

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PC IMM Kota Sorong, Sahriyanto Boinauw
Ketua Umum PC IMM Kota Sorong, Sahriyanto Boinauw

TEROPONGNEWS.COM, SORONG – Output dari aksi mahasiswa adalah perubahan atas kondisi yang sebelumnya bermasalah menjadi lebih baik. Oleh karena itu, stempel Agent Of Change sangat melekat pada diri gerakan mahasiswa.

Dimana untuk bisa membuat perubahan dari kondisi tidak ideal menjadi ideal dibutuhkan dua metode komunikatif yakni dengan cara berdialog dan demontrasi. Langkah demo dibutuhkan ketika terjadi kebuntuan saat bernegosiasi.

Dimana gerakan mahasiswa menginginkan agar kriminalitas bisa ditekan dan tindakan represif terhadap gerakan mahasiswa yang terjadi harus diberi sangksi. Itulah misi aksi jilid 2 yang dipelopori oleh beberapa organisasi mahasiswa.

PC IMM Kota Sorong semula ingin bergabung dalam aksi tersebut, namun ada beberapa alasan fundamental sehingga PC IMM Kota Sorong menyatakan menarik barisan dan tidak ikut serta dalam aksi jilid 2. PC IMM Kota Sorong bersikap karena ada beberapa hal yang dianggap bertentangan dengan Kaidah Organisasi di Internal IMM

Terkait dengan sikap PC IMM Kota Sorong atas ketidak ikut serta dalam Aksi jilid 2 yang di pelopori oleh beberapa organisasi mahasiswa di Kota Sorong merupakan sikap organisasi untuk menjaga prinsip-prinsip serta nilai-nilai perjuangan organisasi.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum PC IMM Kota Sorong, Sahriyanto Boinauw dalam siaran pers yang dibagikan kepada redaksi Teropong News, Jumat (17/5/2024).

PC IMM Kota Sorong memiliki beberapa alasan fundamental yang mendasari atas ketidak terlibat nya dalam aksi jilid 2 untuk menuntut Polresta Kota Sorong menyelesaikan tindakan kriminalitas yang terjadi di Kota Sorong.

Alasan fundamental yang pertama adalah upaya aksi demontrasi sudah PC IMM Kota Sorong lakukan dengan permasalahan yang sama yakni masalah kriminalitas yang pada waktu itu menuai tindakan represif dari pihak kepolisian.

Sehingga PC IMM Kota Sorong berpikir bukan aksi demonstrasi lagi yang kami lakukan tetapi menggunakan metode lain untuk menyelesaikan persoalan yang ada baik, itu persoalan kriminalitas maupun aksi represif pihak kepolisian, dan harusnya mendapat atensi sebab gerakan mahasiswa di bagi menjadi 2 bagian dengan kekuatan yang memadai, satunya mem-pressure di Polresta Kota Sorong dan satu nya lagi mem-pressure di Polda Papua Barat.

Alasan fundamental yang kedua, PC IMM Kota Sorong menarik diri dari aksi jilid II yakni adalah kesepakatan pertemuan dengan Kapolres di salah satu cafe di sekitaran KM 12.

“Saya awalnya di hubungi untuk bertemu di lampu merah km 8, namun belum tahu maksud pertemuan itu, sesampainya di sana, teman-teman dari HMI dan GMNI menjelaskan maksud mereka memanggil saya yaitu untuk bertemu dengan Kapolresta Kota Sorong, saya awalnya kaget karena di beberapa tempat diskusi kami telah sepakati untuk menutup ruang berdiam dengan siapapun untuk menjaga nilai-nilai dan prinsip-prinsip gerakan mahasiswa, namun saya waktu itu tetap mengikuti mereka untuk berjumpa dengan Kapolresta Kota Sorong dengan beberapa hal yang telah mereka sampaikan kepada saya yaitu kami akan membahas terkait kriminalitas yang meningkat, bagaimana upaya pencegahan nya, mengutuk tindakan represif kepolisian, mencopot kasat Intel serta meminta agar aksi-aksi berikut nya tidak terjadi lagi tindakan represif,” kata Sahriyanto dalam tulisan rilisnya.

“Saya menyetujui point-point tersebut namun beberapa point-point tersebut telah di sampaikan namun sayangnya pada saat ada bahasa bahwa pergantian kasat Intel harus meminta saran dari seorang oknum kepolisian bahkan harusnya dia yang menggantikan posisi sebagai kasat intel padahal harusnya itu ruang internal kami dengan Kapolresta tapi tidak tahu kenapa dia juga bisa hadir pada malam itu. Ini yang saya tidak suka dan tidak mau menjadi bagian dari gerakan mahasiswa jilid II, ” Sahriyanto menegaskan.

Kami boleh meminta kasat Intel dicopot tapi tidak etis ketika kami merekomendasikan orang lain, selain itu banyak bahasa-bahasa yang harusnya tidak perlu di sampaikan. Hal ini bertentangan dengan Ideologi Oganisasi kami.

Inilah wajah gerakan mahasiswa sekarang bukan lagi fokus pada substansi, perjuangkan gerakan seakan-akan terintervensi dengan embel-embel kepentingan di dalam nya, dengan alasan-alasan diatas. Bagi saya sangat bertentangan dengan nilai-nilai perjuangan di organisasi saya. Sehingga saya memilih untuk tarik barisan dan tidak terlibat di aksi jilid 2.

Hal tersebut sudah saya sampaikan kepada sekretaris PMII lewat chat whatsapp serta langsung kepada Ketua Umum HMI Cabang Sorong dan GMNI Cabang Sorong ketika mereka menemui saya sekitaran jam 3 malam di kediaman saya.

Kami PC IMM Kota Sorong bersama HMI Komisariat Hukum UNAMIN, Permahi Kota Sorong, BEM Fakultas Hukum UNAMIN akhirnya memilih mengambil jalan lain untuk menyelesaikan kasus kriminalitas dan represif terhadap masa aksi pada tanggal 8 Mei lalu dengan audiensi bersama Kapolda pada Jumat, 17 Mei 2024 dan menyampaikan substansi atas masalah-masalah keamanan yang terjadi akhir-akhir ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *