Pimpin Misa Perdananya, Stefanus Mahuze Berbagi Kisah Perjalanan Hingga Ditahbiskan

Misa Perdana RD.Stefanus Mahuze di Gereja Paromi Sang Penebus Kampung Baru Merauke. Foto-Getty/TN

TEROPONGNEWS.COM, MERAUKE – Setelah penantian panjang, akhirnya RD. Stefanus Mahuze memimpin misa perdananya di Paroki Sang Penebus Kampung Baru Merauke, Papua Selatan usai ditahbiskan menjadi imam Projo oleh Uskup Keuskupan Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC pada Sabtu, (20/1/2023) di Gereja Katedral setempat.

Imam muda kelahiran Jayapura, 10 Desember 1992 ini memiliki motto , ”Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak Mu.”
Ia mengisahkan bahwa benih panggilan tumbuh ketika masuk dan aktif sebagai misdinar di Paroki Sang Penebus.

“Penantian panjang dimulai dari gereja Sang Penebus Kampung Baru pada tahun 2000, usai sambut baru kemudian mendaftar sebagai misdinar. Meski tanpa pembina, namun semua berjalan baik dan di situlah benih panggilan mulai muncul. Ada figur yang membuat saya tertarik adalah Pastor Miler Senduk, MSC yang begitu semangat dalam pelayanan,” ungkap RD Stefanus dalam kotbah misa perdananya.

Pemotongan tumpeng syukuran misa perdana RD. Stefanus Mahuze

Ia pun mengisahkan di masa remajanya pernah ditolak saat menyatakan cinta, akhirnya membuatnya semakin bulatkan tekad untuk tidak lagi memikirkan keinginan duniawi. Lalu, RD Stefanus memutuskan masuk Seminari Pastor Bonus Merauke untuk melanjutkan karya misi gereja sebagai imam dan mulai belajar sejarah Gereja Katolik tentang satu abad karya pelayanan para Misionaris MSC di Selatan Papua. Meski motivasinya itu lahir dari para misionaris MSC tapi ia lebih memilih sebagai imam projo agar bisa mengabdi di Keuskupan Agung Merauke melayani umatnya sendiri.

Beberapa teman satu paroki juga ikut masuk Seminari yang sama namun tidak semua berhasil. Besar harapannya dengan ia ditahbiskan menjadi motivasi bagi generasi muda lainnya khususnya anak asli Papua dari Sang Penebus dan Papua Selatan pada umunya.

Ia mengakui bahwa perjalanan mengikuti Tuhan tidaklah gampang, harus melewati penantian panjang dengan berbagai tantangan dan kegagalan. “Pengalaman saya pernah gagal dalam hal studi sehingga harus berlama-lama di Jogja. Dari kegagalan itu saya sadar bahwa saya telah membangun tembok kesombongan dalam diri saya karena merasa paling hebat dibiayai sangat mahal. Ketika saya sadar dari kegagalan, saya merasa saya harus turun rendah hati dan mulai belajar dari hal-hal sederhana karena mengikuti Yesus harus rendah hati,” ucap imam asli Marind itu.

Diakuinya, kerendahan hati ia pelajari dari sikap Bunda Maria saat mendengarkan kabar sukacita atas diriNya yang disampaikan oleh malaikat Gabriel. Kala itu, Bunda Maria hanya menjawab dengan penuh kerendahan hati yakni Akulah Hamba Tuhan, Terjadilah Padaku Seturut Kehendak Mu. Ungkapan inilah yang kemudian paling menarik bagi RD Stefanus Mahuze untuk menjadikan sebagai motto panggilannya.

Usai kegagalan pertama, ia juga belum ditahbiskan tapi masih menjalani masa Diakon selama satu tahun. Sempat putus asa, serta hilang harapan. “Di situlah saya harus belajar lebih rendah dan tetap jalani dengan penuh keyakinan untuk meraih apa yang saya harapkan. Menyadari teladan Bunda Maria untuk tetap berpasrah, percaya akan kuasa dan kasih Allah, maka seluruh hidup saya tergantung apada Tuhan, tugas saya menjalankan apa yang Tuhan kehendaki. Semoga kita semua yang ada di sini bisa belajar dari Bunda Maria, dengan renda hati membawa kita pada kesuksesan,” ucap RD Stefanus.

Selepas perayaan Ekaristi, dilanjutkan dengan syukuran bersama umat, diawali dengan pemotongan tumpeng oleh RD Stefanus lalu diserahkan kepada kedua orang tua imam, Sekda Merauke, Tokoh Masyarakat, dan juga kedua rekan imam yang sama-sama ditahbiskan yaitu RD. Wilfridus Fallo dan RD. Simon Petrus Laian.

Ketua Panitia, Fransiskus X. Wombon dalam laporannya mengatakan, tujuan dari resepsi misa perdana imam baru adalah sebagai ungkapan kebahagiaan RD. Stefanus Mahuze dalam misa syukur perdana sebelum memimpin perayaan ekaristi di tempat lain. Selain itu memberikan keteladanan bagi umat khususnya generasi orang asli Papua untuk terpanggil menjadi imam.

Kunjungan RD. Stefanus Mahuze ke lingkungan

Tokoh masyarakat, Johanes Gluba Gebze dan Sekda Merauke, Yeremias Ndiken mewakili Pemkab Merauke mengutarakan ungkapan sukacita bahwa dari banyak yang dipanggil, RD Stefanus salah satu putra asli Papua Selatan yang diurapi melalui tahbisan imamat.

Merasa bangga atas salah satu umatnya ditahbiskan, Pastor Paroki Sang Penebus Kampung Baru, Pastor Christofel F. Andries, MSC menyerahkan cinderamata berupa noken (tas) buatan asli Papua untuk tiga Pastor yang baru ditahbiskan itu.

Bukan hanya itu, hari sebelumnya, Minggu (21/1/2024) sore, RD. Stefanus dijemput dari Keuskupan Agung Merauke kemudian mengelilingi lingkungan dan stasi yang ada di wilayah Paroki Sang Penebus Kampung Baru untuk menyapa dan memberikan berkat khusus kepada umat. Masing-masing lingkungan juga memberikan cinderamata mulai dari noken, riasan kepala Papua, selendang adat dari berbagai suku.

Bahkan, sebelum perayaan misa perdana RD. Stefanus Mahuze dijemput di rumah keluarga dengan pengalungan bunga diiringi tarian Papua dan drum band menuju gereja Kristus Hidup Paroki Sang Penebus. Misa perdana dihadiri para pastor, suster, bruder, frater Seminari Pastor Bonus, kaum keluarga, Forkopimda, serta umat paroki setempat.