Destinasi Wisata Kali Biru Dikelola Tanpa Bantuan Pemerintah, Ini Harapan Alfred L Mentansan

Destinasi wisata kali biru (atas) Jetty Mangrove (bawah) Foto IST/TN

TEROPONGNEWS.COM, RAJA AMPAT – Alfred L Mentansan anak adat suku ambel maya Raja Ampat mengisahkan kisahnya mengelola destinasi wisata kali biru Raja Ampat tanpa bantuan Pemerintah Daerah.

Kepada awak media, Kamis (28/12/2023) Alfred L Mentansan menceritakan kisahnya mengelola destinasi wisata kali biru yang berhasil mencuri hati setiap wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke lokasi itu.

Kata Alfred selain destinasi wisata kali biru, masih ada sport baru yang belum tersentuh olehnya. Sehingga untuk saat ini, Alfred bersama anak-anak Papua yang bekerja di Jetty Mangrove fokus pada destinasi wisata kali biru. Ia menyebut, destinasi wisata kali biru dikelola tanpa bantuan pemerintah.

“Untuk spot wisata baru yang belum tersentuh oleh wisatawan itu ada, cuma saat ini kami fokus ke spot wisata kali biru, karena dari awal kami kelola pariwisata kali biru tanpa bantuan pemerintah,” ucapnya Alfred L Mentansan.

Pria asal Kampung Warsambin itu berujar, belum lama ini dirinya bersama 36 pengelola homestay di Raja Ampat bertemu dengan Pj Gubernur Provinsi Papua Barat Daya Muhammad Musa’ad. Dia berharap dengan adanya pertemuan itu kata Alfred, Pemerintah lebih fokus untuk menata pengelolaan pariwisata di Raja Ampat yang lebih baik, terutama pemberdayaan manusianya.

“Kemarin kami dari pengelola The Jetty Mangrove bersama 36 pengelola homestay di Raja Ampat pergi bertemu dengan Pj Gubernur Provinsi Papua Barat Daya. Semoga dengan pertemuan itu, Pemerintah fokus pada pemberdayaan masyarakat di bidang pariwisata karena pemberdayaan masyarakat di bidang pariwisata sangat minim di Raja Ampat bahkan nyaris tidak ada jadi hal-hal itu yang kami minta agar pemerintah fokus pada bagian pemberdayaan manusia sehingga kedepan kami bisa kelola spot wisata dengan hati,” bebernya.

“Kami juga membutuhkan support
dari pemerintah, jangan hanya spot tertentu saja yang diperhatikan oleh pemerintah,” sambung Alfred Mentansan.

Lebih lanjut, Alfred menyebut, melalui pengelolaan Jetty Mangrove kali biru Raja Ampat kami management memperkerjakan anak-anak Raja Ampat yang tersebar di empat pulau besar Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Kami juga sekolahkan sekitar empat karyawan kami ke salah satu perguruan tinggi di Kota Sorong.

Sebelum mengakhiri wawancara, suami dari Cristine Natalia Wijaya, S.Si mengatakan Jetty Mangrove selalu menyuguhkan wisatawan yang berkunjung ke kali biru dengan pakaian adat Papua hal ini dilakukan sehingga setiap wisatawan yang datang ke jetty mangrove selalu terlayani dengan baik.

Sementara itu, Cristine Natalia Wijaya, S.Si yang juga sebagai pengelola The Jetty Magrove Kampung Warsambin mengatakan untuk membangun pariwisata di Raja Ampat pihaknya bekerjasama dengan asosiasi kapal-kapal pesiar guna mengatur jadwal kunjungan wisatawan ke destinasi wisata kali biru.

“Tamu mancanegara yang datang ke Jetty Mangrove selalu gunakan Life board atau kapal pesiar. Management Jetty Mangrove sudah bekerja sama dengan asosiasi kapal-kapal, jadi ada komunikasi antara team Jetty Mangrove kali biru dengan masing-masing agen travel untuk mengatur jadwal, jadi kita membangun jaringan sesama tim pariwisata seperti speedboat, life board dan rental mobil. Jadi kami saling berkalaborasi antara tim pariwisata,” ucapnya.

Cristine Natalia Wijaya menjelaskan, Jetty Mangrove memiliki “Restoran Jetty Mangrove” yang merupakan satu-satunya restoran di Raja Ampat yang dimiliki orang asli papua Raja Ampat. Menurutnya hal-hal seperti inilah yang harus diperhatikan oleh Pemerintah.

“Kenapa tidak disupport, apa alasannya..?. Yang anehnya mengapa dinas terkait yang berhubungan langsung dengan pariwisata tidak mengsuport usaha anak asli papua, malahan yang selalu memberikan support buat kami adalah Kementrian Perhubungan,” kata Cristine.

Untuk itu dirinya berharap Pemerintah Daerah memberdayakan orang asli papua melalui kuliner pada saat menggelar berbagai kegiatan pemberdayaan terhadap orang asli papua sesuai amanat Undang-undang Otsus terwujudkan.

“Kami di Jetty Mangrove punya Restoran Jetty Mangrove sehingga kami berharap kepada pemerintah agar ketika ada kegiatan jangan order makanan atau sejenisnya di tempat lain. Kenapa tidak mengsuport pengusaha orang asli papua,” lanjut Cristine.

“Syahbandar saja mengsuport usaha anak lokal. Bisa saja pesan makanan di tempat lain, tetapi harus mengsuport usaha anak lokal,” sambung kekasih dari Alfred L Mentansan itu.

Jadi jika pemerintah benar-benar ingin mengsuport orang asli papua sesuai amanat Undang-undang Otsus yang sesungguhnya, supportlah kami disini mempekerjakan anak-anak lokal semua, yang punya Jetty Mangrove juga orang asli papua, kenapa tidak support..?

“Jadi kami hanya minta dari pemerintah agar setiap ada kegiatan diharapkan memberdayakan orang asli papua melalui kuliner yang dimiliki Jetty Mangrove,” harapnya.