Ade Irma; Tak Perlu Memarahi Kegelapan

TEROPONGNEWS.COM, MERAUKE – Kalimat Tak Perlu Memarahi Kegelapan adalah ungkapan inspirasi yang disampaikan Ny. Ade Irma Suryani Safanpo ketika dirinya mendapatkan fitnah dan pemberitaan miring.

Sebagai istri dari Penjabat Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo, tentu tidaklah mudah untuk menghadapi setiap guncangan yang datang silih berganti, namun ia hadapi dan dilewatinya tanpa harus mengotori ucapan, atau tindakan kepada orang di sekelilingnya termasuk yang berkoar-koar di media sosial.

“Kita tidak perlu memarahi kegelapan (orang jahat yang menyebarkan fitnah untuk menjatuhkan), apalagi untuk sesuatu yang tidak saya lakukan. Lebih baik kita tetap menjadi cahaya kecil yang mampu menembusi kegelapan,” kata Ade Irma Suryani dalam obrolan santai sepanjang perjalanan menuju rumah kerabatnya yang baru mengalami kedukaan di Salor, Sabtu (16/12/2023).

Meski istri pejabat, Ade Irma memilih tetap menjadi pribadi yang sederhana dan rendah hati, sehingga kedatangannya ke Salor tidak dikabari terlebih dahulu agar tidak merepotkan tuan rumah. Setelah mobil yang disetirnya sendiri itu tiba di sana, dengan santai ia duduk bersila sambil bercerita menikmati kue dan aqua gelas yang disuguhkan tuan rumah. Selang beberapa waktu kemudian, kunjungan tersebut diakhiri dengan pamitan untuk kembali ke kota.

Sepanjang jalan pulang, banyak hal diceritakannya sebagai motivasi bahwa untuk mencapai tujuan yang baik, orang harus berusaha, berjuang dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tidak menjatuhkan atau menyingkirkan siapapun dengan cara apapun. Prinsipnya, hidup bukan hanya memikirkan tentang hari ini saja, melainkan hari-hari yang akan datang dan di akhirat nanti, bahwa setiap jiwa akan mempertanggungjawabkan kepada Allah akan semua yang diperbuat semasa hidup di dunia.

Hematnya lagi, di setiap keluarga pasti memiliki keturunan anak cucu yang melanjutkan hidup. Dalam kehidupan mereka (anak cucu) akan mencerminkan seperti apa para leluhur atau orang tuanya, sebab didikan yang baik akan menghasilkan generasi yang baik dan berkualitas, bukan pelaku kejahatan.

“Silahkan orang menilai saya dari berbagai sudut pandangnya, karena kita tidak bisa memaksa orang untuk menyukai kita. Sebab saya meyakini di dalam kehidupan ini ada hukum tabur tuai. Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai hasilnya,” ucap wanita berdarah melayu.

Baginya, anugerah terindah akan didapat ketika seseorang memperlakukan orang lain dengan kasih serta santun, bersahabat tanpa memandang perbedaan ras, warna kulit, agama, jabatan atau status sosial. Dengan demikian hidupnya akan penuh dengan kedamaian karena selalu berusaha menjauhkan dari yang namanya penyakit hati yaitu iri, dengki, benci, cemburu, amarah, rakus, serta berbagai rancangan buruk yang berasal dari hati dan pikiran lalu keluar melalui ucapan dan tindakan untuk menyakiti sesama.

Lebih dari itu, sebagai orang beriman, juga menyadari sebagai manusia yang punya keterbatasan, sudah sepantasnya untuk mengedepankan kebijaksanaan yaitu mampu menyikapi segala sesuatu yang terjadi segala situasi yang terjadi dengan bijaksana.

“Orang yang memperlakukan kita tidak baik patut kita kasihani karena menunjukkan jiwanya sedang tidak baik-baik saja, sebab orang baik pasti akan memperlakukan siapapun dengan baik,” tandasnya.