Berita

Kematian Siswa SMA Presiden Disebut Murni Karena Kecelakaan

×

Kematian Siswa SMA Presiden Disebut Murni Karena Kecelakaan

Sebarkan artikel ini
ayah kandung J, Jevrier N. Kewetare saat memberikan keterangan pers terkait kematian salah satu siswa SMA Presiden. (Foto:Mega/TN)

TEROPONGNEWS.COM,SORONG – Seorang remaja bernama Stevanus Frabuku (15) meninggal dunia pada Kamis (19/1/2023). Siswa SMA Presiden ini meninggal dunia usai mengalami kecelakaan di Jln. Inspeksi Kalimalang, Jakarta.

Pihak keluarga menduga almarhum dibunuh oleh rekannya berinisiaL J (16). Namun hal tersebut dibantah keras oleh Jevrier N. Kewetare selaku ayah dari J.

Jevrier menceritakan, saat itu Stevanus datang ke kontrakan J untuk menjenguknya yang sedang sakit. J sempat menyuruh Stevanus untuk kembali ke asrama sebab sudah mendekati hari masuk sekolah.

“J sudah menyuruh almarhum Stevanus untuk balik ke asrama tapi almarhum mau masuk sekolah sama-sama J. Kemudian pada hari Rabu tanggal 18 Januari 2023 juga mamanya Stevanus sudah menelpon Stevan untuk kembali ke asrama, namun almarhum tidak mau,”ujar Jevrier.

Lebih lanjut diceritakan Jevrier, sekitar pukul 04.00 WIB, almarhum Stevan berboncengan dengan temannya yang berinisial AS, sementara J mengendarai kendaraan sendiri. Mereka bertiga bersama-sama keluar dari kontrakan untuk mencari makan.

“Kakak dari AS yang bernama Gres sudah melarang mereka untuk keluar, karena sudah terlalu larut. Dan itu kemauan almarhum juga. J sebelumnya mau berboncengan dengan Almarhum Stevan, namun karena ban motornya kempes akhirnya Almarhum berboncengan dengan AS,”jelas Jevrier, Jumat (27/1/2023) di salah satu kafe di kota Sorong.

Jevrier mengungkapkan, almarhum meninggal dunia murni karena kecelakaan yang dibuktikan dengan surat keterangan yang kematian yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit.

surat keterangan kematian almarhum Stevan yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit.

“Saat itu J melihat Almarhum Stevan sudah tidak sadarkan diri dan AS masih sadar. J juga mencari pertolongan agar mereka berdua dibawa ke rumah sakit. Logikanya saja, dari situ mana mungkin J berniat jahat. Buktinya lengkap kalau almarhum meninggal karena kecelakaan dan meninggalnya di rumah sakit bukan di lokasi kejadian,”ungkapnya.

Di samping itu, ia juga merasa terpukul dengan adanya pemberitaan yang menyebut bahwa meninggalnya almarhum karena diduga dibunuh oleh anaknya.

“Saya sempat membaca berita itu dan saya merasa terpukul. Padahal saya dan keluarga almarhum sudah bertemu beberapa waktu lalu di Polres Sorong Kota dan ada kesepakatan bersama untuk menyelesaikan permasalahan tersebut usai pemakaman. Namun kenyataannya, mereka memberikan statemen seperti itu di media,”bebernya.

Selain itu, kata Jevrier, akibat statemen tersebut di pemberitaan membuat anaknya yang masih berstatus pelajar di SMA Presiden itu menjadi shock.

“Anak saya ini juga masih kecil, mereka langsung shock dengan pemberitaan itu. Usianya masih 16 tahun. Logikanya saja kalau mereka ada niat jahat tidak mungkin sampai dibawa ke rumah sakit. Mereka berdua ini sangat dekat. Almarhum anak yang baik, selalu bergaul dengan J dan kita sudah anggap keluarga. Kita juga merasa sedih. Bahkan seluruh pembiayaan kita tanggung sampai di Sorong,”terangnya.

Karena merasa namanya dicemarkan, Jevrier akan mengambil langkah hukum. Sebab, informasi tersebut dirasa sangat mengganggu psikologi J dan keluarga.

“Kita hanya ingin meluruskan karena sempat dimuat di media. Menurut kami itu sangat mengganggu psikologi anak kami dan keluarga. Kita akan mengambil langkah hukum karena kita tidak bersalah dan kemudian disalahkan, bagi saya itu tidak boleh, jadi harus dipertanggungjawabkan. Bagi saya itu langkah yang tepat agar semuanya terbuka,”pungkasnya.