Louhenapessy: Kemiskinan Akar Masalah Stunting

Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy, saat membuka rapat koordinasi stunting Kota Ambon tahun 2022, yang berlangsung di Hotel Marina, Rabu (16/2/2022). Foto-Ist/TN

TEROPONGNEWS.COM, AMBON – Penanganan stunting di Kota Ambon, harus diselesaikan dari akar permasalahannya yakni kemiskinan, sehingga pola pendekatan yang digunakan tidak bisa secara parsial.

Untuk diketahui, sasaran penanganan stunting di kota Ambon di tahun 2022 adalah 600 anak, dengan angka prevalensi 4,6 persen.

“Stunting korelasi dengan kemiskinan, itu akar permasalahannya. Jadi pendekatan tidak bisa parsial. Stunting lalu berikan obat, perbaiki gizi. Harus akar permasalahannya, yaitu selesaikan kemiskinan,” ujar Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy kepada wartawan, di Ambon, Kamis (17/2/2022).

Menurutnya, tidak semua warga miskin di Kota Ambon menderita stunting, namun hampir sebagian besar. Hal itu menjadi bukti, bahwa stunting erat korelasinya dengan kemiskinan.

“Situasi saat ini, karena pandemi Covid-19 banyak yang di PHK, sehingga untuk makan saja sulit, apalagi untuk beli susu. Oleh sebab itu, mari kita melihat stunting ini sebagai masalah bersama,” ujarnya.

Dengan alasan tersebut, kata Louhenapessy, maka seluruh OPD dalam lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon tidak boleh lagi mempertahankan ego sektoral dalam penanganan stunting, dengan target nasional dibawah 14 persen pada tahun 2024 mendatang.

“Ambon diharapkan dibawah di target nasional. Ini cukup beralasan, karena semua lokus stunting dapat dijangkau dengan alat transportasi, baik dengan kendaraan maupun jalan kaki, dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Maluku. Sehingga jika kita tidak bisa mencapai itu, maka ada yang salah dengan kita,” tegas Louhenapessy.

Dia kemudian meminta tiap OPD, untuk dapat melaksanakan aksi konvergensi yang telah dirumuskan dalam penanganan stunting sesuai tupoksi masing–masing dibawah koordinasi Bappeda Litbang

“Ada delapan aksi konvergensi, walaupun dalam laporan 100 persen, tapi saya minta betul-betul diperhatikan. Yang pertama harus sistematis, bertahap dan yang harus terintegrasi di bawah Bappeda Litbang,” imbuh dia.

Selain itu, Louhenapessy juga berharap, semua komponen bangsa harus bersama–sama terlibat dalam penanganan stunting, karena dapat menyebabkan lost generation atau hilangnya generasi bangsa,

“Seluruh komponen harus terlibat bersama sama, tanggung jawab pemerintah bagaimana, akademisi, media, masyarakat dan swasta bagaimana, sehingga lewat tanggung jawab itu kita tangani stunting secara bersama,” tandas Louhenapessy.

<