Berita

Kota Sorong Berpotensi Terjadi Gempa dengan Magnitudo 8 SR, Ini Penjelasan BMKG

×

Kota Sorong Berpotensi Terjadi Gempa dengan Magnitudo 8 SR, Ini Penjelasan BMKG

Sebarkan artikel ini

TEROPONGNEWS.COM, SORONG – Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Sorong Papua Barat Rully Oktavia Hermawan mengatakan bahwa di wilayah Sorong berpotensi terjadi gempa bumi dengan magnitudo 8 skala richter (SR). Mengingat terdapat 9 patahan besar di Papua dan Papua Barat,

“Potensi gempa besar dengan magnitudo hingga 8 Skala Richter akan selalu ada terjadi di Sorong. Hal ini mengingat ada 9 patahan besar di Papua dan Papua Barat mulai dari Sesar Sorong, Sesar Manokwari, Sesar Yapen, Sesar Pengunungan Tengah Wamena, Ransiki, Salawati dan beberapa Sesar di Papua,” ungkapnya kepada sejumlah awak media, saat ditemui di Kantor BMKG, Senin (20/12/2021).

Rully menjelaskan, dari sejarah juga ada catatan pernah terjadi beberapa kali gempa besar di Sorong, contohnya pada tahun 2015 terjadi gempa dengan magnitudo 6,8 SR.

Kendati demikian, BMKG Sorong belum bisamemastikan kapan terjadi gempa besar serta memprediksi kekuatan gempa yang akan terjadi.

Menurutnya, ilmu tentang gempa bumi atau prakiraannya belum dapat diprediksi, bahkan di negara maju sekalipun. Jadi belum ada ilmu yang dapat memprediksi kapan terjadi gempa bumi besar, karena gempa berada dibawah permukaan tanah.

“Untuk itu kita tidak pernah memberikan prediksi gempa bumi. Yang ada prediksi cuaca, cuaca dapat diprediksi dan secara teknologi pengamatan dari satelit berupa radar dan peralatan alat pemantau cuaca.

“Tapi dari sisi potensi memang ada. Meskipun demikian, kita mohon kepada semua pihak termasuk masyarakat, untuk sama-sama membantu Pemerintah dengan belajar mitigasi bencana gempa bumi,” tegasnya.

Dikatakan Rully, masyarakat khususnya yang ada di wilayah Sorong harus tahu tentang mitigasi bencana yaitu apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana alam.

Karena sebagai perbandingan, sambungnya, gempa besar di Jepang sering sekali terjadi, akan tetapi korbannya sangat minim. Hal tersebut berbanding terbalik dengan Indonesia, dimana gempa yang terjadi kecil tapi korbannya cukup besar.

“Ini membuktikan bahwa ada yang masih kurang, khususnya terkait bagaimana mitigasi bencana. Makanya BMKG mempunyai program go to school di SMP, SMA dan komunitas seperti Pramuka dan Rapi. Kami memberikan simulasi dan informasi jika terjadi bencana gempa, langkah apa yang harus dilakukan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *