Bupati Kaimana, Fredy Thie, meletakan batu pertama atau batu penjuru gedung gereja GPI Ebenhezer Esania Kuna. Foto istimewa.

TEROPONGNEWS.COM, KAIMANA- Bupati Kaimana, Fredy Thie, meletakan batu pertama atau batu penjuru gedung gereja GPI Ebenhezer Esania Kuna distrik Buruway pada Senin (31/6/2021).

Kampung yang tidak lasim bagi bupati Fredy Thie dan kekuarga besarnya ini membawa kenangan yang mengharukan. Dimana kampung Esania adalah salah satu kampung yang dulunya kakek dan neneknya tinggal menyatu dengan masyarakat di kampung itu.

Bupati Fredy Thie yang merasa kampung itu pernah berjasa bagi keluarga besarnya yang adalah keturunan Tionghoa itu, akan berupaya membangun kampung itu secara fisik maupun sumber daya manusianya.

“Sejak diminta kesedian saya pada peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja GPI Jemaat Ebenhezer Esania Kuna, oleh ketua panitia dan bapak pendeta, walaupun cuacanya ombak dan tidak bersahabat, kenapa saya bersedia, karena kampung ini, bagi keluarga saya, tete dan Nenek saya, ini bukan kampung yang baru, waktu perang Jepang kurang lebih Tahun 40 an, tete dan Nene saya tinggal disini, bahkan om saya yang nomor 6 namanya Kuna, karena lahir di sini(Esania Kuna-red), makanya om saya dikasi nama Ongko Kuna” ujar Bupati Fredy Thie, mengawali sambutanya pada peletakan batu pertama Gedung Gereja ke lima GPI Papua Kaimana Jemaat Ebenhezer Esania Kuna Senin (31/5/2021).

Sebagai anak cucu dari ence Goa (tete dari bupati Kaimana Fredy Thie-red) akan punya kerinduan juga melihat kampung ini.

” Apa yang sudah dilakukan oleh orang tua kita yang sudah baik, sebagai anak tentunya juga akan berbuat yang lebih baik pula, sehingga dirinya berharap agar pembangunan gedung gereja ini dapat berjalan cepat dan lancar, untuk selanjutnya dapat dipergunakan untuk peribadatan kepada Tuhan yang Maha Kuasa,” terangnya.

Pada kesempatan itu, sebagai cucu dari Ongko Goa yang sejak tahun 40 telah berada di Kampung dimaksud, secara spontan bupati juga menegaskan, siap membantu sedikit anggaran untuk pembangunan gereja di kampung Esania yang dianggarkan melalui APBD Perubahan Tahun Anggaran 2021 sebesar Rp 200 juta.

“Untuk secepatnya panitia membuat proposal, memasukannya ke pemerintah daerah, sehingga saya selaku bupati akan membantu dana sedikit, tetapi bukan hari ini, akan dimasukan pada APBD Perubahan Tahun anggaran 2021, karena Tahun ini tidak seperti Tahun sebelumnya yang kebijakan bupati bisa langsung, tetapi anggaran hiba pemerintah untuk tempat tempat ibadah baik muslim maupun Nasrani harus di masukan terlebih dahulu, disetujui dalam paripurna ditetapkan baru dapat dicairkan,” tandasnya.

Berita lain untuk anda