Semuel Asse Bless,Ketua panitia pembangunan Gedung Gereja Katolik Santo Petrus Seya Distrik Mare kabupaten Maybrat. Foto Ones.

TEROPONGNEWS.COM, MAYBRAT- Ketua Panitia Pembangunan gedung gereja Katolik Santo Petrus Seya, distrik Mare kabupaten Maybrat, Samuel Asse Bless mengingatkan, bahwa gubernur Papua Barat harus berlaku adil dalam pembagian dana bantuan sosial (Bansos) untuk pembangunan sarana ibadah di Papua Barat yang bersumber dari Dana OTSUS.

Semuel Bless menilai, selama ini bantuan yang disalurkan oleh gubernur Papua Barat untuk gereja Katolik sangat kecil dan hanya menerima Rp150-500 juta. “Sementara gereja-gereja Kristen di Tanah Papua serta gereja-gereja yang baru lahir tahun-tahun kemarin, menerima sampai miliaran rupiah bahkan lebih besar nominalnya,” ujar Bless kepada, Jumat (23/4/2021).

Dikatakannya, banyak denominasi gereja yang baru hadir hanya sebagai “Pameran Tuhan” dalam bentuk gedung-gedung mewah, musik meriah tetapi praktik iman, moral dan etik masih nol kok didukung.

“Saya melihat di BPKAD di Manokwari, orang pendatang dan non Papua yang mendominasi ketika proses pencairan bansos sarana ibadah setiap tahunnya. Kami punya gereja Katolik di Seya Distrik Mare kabupaten Maybrat hingga sekarang terbengkelai karena bantuan yang diberikan oleh Gubernur Papua Barat itu sangat kecil,” tandasnya.

Contoh kasus bansos tahun Anggaran 2020 kami hanya terima 471 juta sementara gereja lain di Papua Barat ini ada yang menerima sampai 3 miliar lebih. Mungkin karena para Anggota DPR Papua Barat juga ikut bermain sehingga ada yang dapat lebih lalu jami lain dapat dia punya sisa-sisa saja perlu bapak gubernur juga tahu bahwa memberi bantuan untuk gereja-gereja di pedalaman dan pesisir agar lebih besar atau batasan minimum 500 juta hingga 1 miliar agar dapat membiayai transportasi dan harga bahan toko dan bahan lokal yang terlalu mahal selama ini .

Keputusan gubernur yang pasti tentang besaran bantuan untuk pembangunan gereja yang pedalaman dan jauh serta batasan untuk bantuan sarana ibadah orang asli Papua dengan non Papua, lalu gereja tua dengan denominasi yang baru lahir 30 tahun terakhir dan hanya lokal Papua dan Papua Barat, hal tersebut semoga dapat diperhatikan.

Berita lain untuk anda