Berita

Jelatah Jadi Komoditas Mahal, Diekspor Hingga ke Sejumlah Negara Eropa

×

Jelatah Jadi Komoditas Mahal, Diekspor Hingga ke Sejumlah Negara Eropa

Sebarkan artikel ini
Jelantah menjadi salah satu komoditas dari Kalimantan Timur, yang memiliki harga yang mahal, dan diekspor hingga ke sejumlah negara di Eropa. Foto-Ist/TN

TEROPONGNEWS.COM, SAMARINDA – Bagi kebanyakan orang, jelantah atau minyak goreng sisa, mungkin bukan barang berharga. Jelantah justru tidak baik bagi kesehatan bila terus digunakan untuk menggoreng.

Tapi bagi PT Garuda Sinar Perkasa Group, jelantah justru sangat berharga. Dikelolah salah satu pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kalimantan Timur (Kaltim), jelantah justru bisa jadi barang mahal.

Buktinya, jelantah Kaltim sudah diekspor ke sejumlah negara di Eropa. Ekspor jelantah Kaltim itu, bahkan menjadi bagian dari rencana pelepasan ekspor produk Indonesia yang bernilai tambah dan sustainable ke pasar global oleh Presiden RI Joko Widodo secara hybrid pada Jumat (4/12/2020).

“Iya, benar sekali. Minyak jelantah dari Kaltim akan diekspor ke Belanda, Spanyol dan Portugal, besok,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Perindagkop) dan UKM Kaltim, HM Yadi Robyan Noor lewat siaran persnya yang diterima Teropongnews.com, Senin (7/12/2020).

Ekspor jelantah Kaltim ini merupakan yang kedelapan. Di negara-negara maju Eropa, jelantah Kaltim itu digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Salah satunya dimanfaatkan untuk pengoperasian kincir angin di negeri legenda sepakbola dunia, Ruud Gullit dan Marco van Basten.

Ekspor jelantah Kaltim ke pasar global ini sangat monumental, karena berkaitan erat dengan kebijakan Gubernur Isran Noor dan Wagub Hadi Mulyadi untuk mendorong ekonomi kerakyatan Benua Etam, khususnya produk-produk nonmigas (renewable resources), menjadi lebih berdaya saing dan bahkan mampu menembus pasar global.

Produk jelantah ini bisa menembus pasar ekspor global setelah dilakukan kurasi dan penilaian oleh Kementerian Perdagangan.

“Kita usulkan 7 UKM dan 4 UKM yang disetujui pusat untuk masuk ke pasar global. Ini sangat monumental,” sebut Roby, sapaan akrabnya.

Roby mengungkapkan, setidaknya ada permintaan 5 kontainer per bulan dari buyer Eropa. Satu kontainer kira-kira berisi 21 ton minyak jelantah. Nilai ekspor jelantah pada ekspor kali ini bernilai sekitar USD 300.000.

“Minyak jelantah dikumpulkan dari rumah makan, resto dan rumah tangga,” ungkap Roby lagi.

Secara keseluruhan Presiden Joko Widodo telah melepas ekspor produk dari 153 pelaku usaha di Indonesia (termasuk di dalamnya 53 UKM).

Pelepasan dilakukan secara hybrid diikuti oleh pelaku usaha baik perusahaan kecil, menengah dan besar dari 14 kota di Indonesia. Yaitu Lhokseumawe, Surabaya, Medan, Denpasar, Pekanbaru, Mataram, Bandar Lampung, Kupang, Jabodetabek, Bandung, Makasar, Yogyakarta, Sorong dan Bontang di Kalimantan Timur.