Lapak penjual sayur di Pasar Pagi Warmon Aimas, Jumat (10/4/2020), banyak yang kosong. Pegadang terpengaruh dengan isu lockdown tiga hari yang tidak jelas sumbernya. (Foto:Tantowi/TN)

Aimas, TN – Masyarakat Kabupaten Sorong ternyata lebih patuh dan percaya dengan berita bohong (hoax) yang tidak jelas sumbernya, daripada himbauan resmi yang disampaikan Bupati sebagai Kepala Daerah.

Faktanya, dengan adanya seruan untuk Berhenti Total Tiga Hari yang disebut berlaku serentak di seluruh Indonesia dan berlaku sejak tanggal 10 sampai 12 April 2020, lebih dipatuhi oleh sebagian besar warga Kabupaten Sorong.

Baca juga: https://teropongnews.com/berita/sah-kabupaten-sorong-tidak-ada-lockdown-3-hari/

Sejak Jumat (10/4/2020) pagi,sejumlah ruas jalan protokol di wilayah Kabupaten terlihat lengang. Sementara para pegadang di Pasar Pagi Warmon Aimas Unit 2, banyak yang tidak pergi berjualan.

“Sejak keluar dari rumah sampai di pasar, saya tidak bertemu orang dijalan. Benar-benar sepi,” kata Arif, pedagang bubur ayam yang ada di Pasar Pagi Warmon.

Di bagian lapak penjual kue dan makanan, bahkan tidak ada yang datang menjual, kecuali Imam, penjual kopi.

Ketika tiba di pasar, Arif mendapati banyak lapak yang kosong. Penjual kue dan makanan lain, tidak ada yang berangkat. Dari pantauan Teropongnews, hanya ada beberapa mama-mama Papua yang berjualan hasil kebun di lapaknya.

Begitu juga para penjual sayur yang ada di lapak bagian belakang, hanya ada beberapa orang. Di los penjual ayam dan daging, hanya ada dua orang penjual. Begitu juga di deretan penjual ikan segar yang ada di samping pasar, hanya ada 4 orang yang menggelar dagangannya.

Kondisi ini menurut Akmadi, Lurah Malasom, menunjukkan kondisi warga Kabupaten masih gampang dihasut dan terprovokasi dengan sumber informasi yang tidak jelas asalnya.

“Ketika pemerintah daerah secara resmi menghimbau agar tetap di rumah, mengurangi aktivitas di luar rumah agar penyebaran virus corona bisa dilakukan, pasar masih tetap saja ramai. Tidak ada yang mengindahkan. Jalanan tetap banyak yang lalu lalang. Tapi dengan seruan yang tidak jelas sumbernya, warga justru patuh,” kata Akmadi.

Seruan Berhenti Total Tiga Hari itu masif beredar secara berantai dari aplikasi percakapan WA. Sedikitnya ada dua versi design yang beredar, bergambar telapak tangan yang jari jempol dan telunjuk melingkar, serta bergambar perempuan menggunakan masker dengan kedua tangan terkatup.

Meski tidak ada sumber resmi sebagai penyeru, banyak warga yang percaya bahwa seruan itu benar adanya, ketika menyaksikan pernyataan Walikota Sorong, yang juga menyerukan untuk lockdown selama tiga hari. Pernyataan walikota itu sendiri akhirnya dianulir melalui Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Sorong, yang menyatakan bahwa tidak ada lockdown.

“Heran saja. Kita ini tinggal di wilayah kabupaten dan pemimpinnya Bupati, tapi kita lebih percaya sama walikota,” ujar Akmadi. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita lain untuk anda