Pengajian Akbar Isra’ Mi’raj, Pesan Kyai Cholil Nafis: Warga NU Harus Istiqomah Ramaikan Masjid

Aimas, TN – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kabupaten Sorong, menghadirkan ulama kondang asal Jakarta, KH Muhammad Cholil Nafis Ls, MA, Ph.D dalam Pengajian Akbar di Masjid Al Muttaqin Aimas Unit 2, Senin (9/3/2020) malam.

Umat muslim di Kabupaten Sorong, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU), terlihat antusias mengikuti ceramah agama dai yang rutin mengisi pengajian di sejumlah televisi nasional ini.

“Saya sangat bergembira bapak ibu sekalian, acara seperti ini (dilaksanakan) di masjid.  Biasanya orang NU hanya pintar membangun masjid, setelah ada masjidnya, tidak ada orangnya,” sentil Kyai Cholil.

Agar masjid NU tidak kehilangan ruhnya, kyai kelahiran Sampang, Madura ini mengingatkan kepada warga nahdliyin, agar terus menjaga ghirah-nya, mulai dari membangun masjid hingga meramaikan masjid dengan ibadah maupun dengan kegiatan keagamaan.

Jangan sampai masjid yang sudah dengan susah payah dibangun warga NU, dikuasai kelompok-kelompok intoleran yang justru banyak berseberangan dengan NU.

“Contohnya masjid Al Azhar Kebayoran Jakarta.  Itu yang bangun orang tua kita, orang NU. Tapi sekarang apa, ditempati teman-teman sebelah. Padahal masjid di tempat yang strategis, sebelahnya Blok M itu, yang bikin orang NU. Ini salah kita sendiri,” katanya.

Agar tragedi itu tidak terulang, Kyai Cholil kembali menegaskan bahwa warga NU harus menjaga dan merawat masjidnya. “Jangan hanya pintar dan semangat membangun,” tegasnya.

Pesan lain yang disampaikan alumni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan ini, adalah para orangtua memberikan pendidikan agama sedini mungkin kepada anak-anaknya, melalui pendidikan pondok pesantren.

Menurutnya, warga NU tidak perlu minder jika anak-anaknya hanya mengenyam pendidikan agama di pondok pesantren sebagai pondasi moralnya. Sebab, selepas dari pondok, anak tersebut masih tetap bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan formal seperti dirinya.

“Pendidikan agama itu pondasi, jadi ini sangat penting. Saya sendiri setelah selesai dari pondok, saya masih bisa sekolah formal, bisa kuliah dan menempuh pendidikan formal lainnya. Jadi bapak ibu tidak usah khawatir,” katanya.

KH Muhammad Cholil Nafis bersama para pengurus PCNU Kabupaten Sorong.

Kyia Cholil sendiri menamatkan pendidikan formalnya di Madrasah Ibtidaiyah (MIN) Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Sampang, Madura, kemudian Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pesantren Sidogiri di Pasuruan (1987-1990), dan Sekolah Menengah Atas (MAN) Al Miftah di Pamekasan, Madura (1990-1993).

Selanjutnya ia meneruskan pendidikan di Ibnu Sa’ud Islamic University, Jakarta dan meraih gelar Lc (1996-2000) dan di tahun yang sama juga meraih gelar S. Ag dari Sekolah Tinggi Agama Islam Az-Ziyadah Jakarta (1996-2000. Pendidikan Pascasarjana-nya diselesaikan dari Program Pascasarjana UIN Jakarta dengan gelar MA (2001-2003) dan University of Malaya, Malaysia dengan gelar Ph. D (2008-2010).

Selain itu, Kyai Cholil juga mengikuti berbagai program pendidikan non-gelar bersertifikat seperti pendidikan jenjang I’dad dan Takmili di Lembaga Bahasa Arab Jakarta program Bahasa & Sastra (1993-1996), Pendidikan Kader Muballigh/PKM (1996-1997), Pendidikan Kader Ulama (PKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi DKI Jakarta (1997-1998), Kursus Bahasa Inggris di Intenational English Course (IEC) Jakarta (1999-2000), dan Kursus TOEFL Lembaga Bahasa Universitas Islam Negeri (LB-UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (2002).

Kyai Cholil juga pernah mengikuti Short Course Education Management di University of Leeds, UK (2005), Short Course di National University of Singapore (2009), dan Short Course Islamic Economic di International Mustafa University Qom, Iran (2011), dan pernah menjadi visiting scholar di Oxford University, Inggris. **

<