Jakob Oetama, tokoh pers nasional yang juga pendiri Kompas Gramedia, meninggal dunia pada Rabu, 9 September 2020 sekitar pukul 13.05 WIB. Jenazah almarhum akan di makamkan di TMP Kalibata, Jakarta. (Foto:Ist)

SAYA mendengar kabar duka ini, ketika sedang menjalankan tugas liputan di kawasan Indonesia Timur, tepatnya di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas telah tutup usia pada hari Rabu, 9 September 2020.

Tokoh pers nasional ini meninggal dunia di usia 88 tahun, 18 hari sebelum momen hari lahirnya ke 89 tahun di peringati pada 27 September 2020. Jakob Oetama yang lahir di Desa Jowahan, Borobudur, Jawa Tengah pada tahun 27 September 1931 ini, berpulang sekitar pukul 13.05 WIB.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Jacob Oetama menjalani perawatan di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta sejak 22 Agustus 2020. Pernah sembilan tahun bekerja di koran yang menjadi bagian dari Kelompok Kompas Gramedia (KKG) di Surabaya, menjadikan saya  memiliki sekelumit kenangan terkait Jakob Oetama.

Saya bergegas mencari dokumen foto yang mengabadikan momen bahagia ketika saya mendapatkan buku berjudul Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama.

Buku setebal 658 halaman yang merekam jejak perjalanan Jakob Oetama ini disusun redaktur senior harian Kompas, St. Sularto, dan dipersembahkan sebagai hadiah ulang tahun ke 80 Jakob Oetama. Untuk mendapatkan buku rekam jejaknya, harus melalui proses inden yang lumayan lama.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Di keluarga besar KKG, kami biasa menyebut nama Jakob Oetama dengan sapaan hangat, Pak JO. Ada rasa bahagia dan bangga bisa mendapatkan buku itu. Perasaan ini saya yakin juga dirasakan teman-teman saya waktu itu.

Buku berjudul Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama yang disusun St. Sularto, wartawan senior Harian Kompas.

Mengutip kalimat dari sang penyusun, buku Syukur Tiada Akhir merupakan akumulasi proses panjang dari kebersamaan penyusun bersama Jakob Oetama lebih dari 34 tahun. Bagi St. Sularto, sosok JO sudah dianggap sebagai senior, atasan, “bapak”, dan guru besar.

Sejak lima tahun terakhir sebelum buku itu terbit, “bersyukur dan berterima kasih” menjadi kosakata yang selalu JO sampaikan. Bersyukur merupakan salah satu tanda orang beriman. Bersyukur atas segala Rahmat Tuhan yang dilimpahkan, salah satunya adalah “ menjadi perantara bagi kebahagian banyak orang.” Buku ini pada akhirnya menjadi sebuah karya bersama.

Bersyukur! Ya, bersyukur! Itulah luapan perasaan Pak JO di usianya saat itu,  80 tahun. Syukur dan terima kasih diucapkan dalam satu tarikan napas. “Saya yang penuh kekurangan dan kesalahan, kok, dipercaya oleh Tuhan jadi perantara rahmat-Nya bagi kebahagiaan banyak orang”. Tidak ada kata lain, tambahnya, selain bersyukur dan berterima kasih!”.

Ungkapan itu cukup merepresentasikan pribadi JO, sebagai sosok wartawan senior dan tokoh pers nasional yang rendah hati. Almarhum orang yang bersahaja, punya keteguhan dalam sikap. Di mata para tokoh bangsa ini, JO adalah sosok yang mau mendengar, pribadi yang menggambarkan bagaimana seharusnya jurnalisme berkembang.

Presiden Joko Widodo memberikan predikat sebagai jurnalis sejati terhadap sosok JO. Sedangkan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, menilai, JO adalah tauladan jurnalis yang telah membawa jurnalisme Indonesia menjadi lebih baik. Sedangkan Amnesty Internasional menyebut, sumbangsih JO terhadap kebebasan pers Indonesia, sangatlah besar.

Mengutip biografi yang rilis Kompas.com, saat belia JO memiliki cita-citanya sebagai guru seperti ayahnya, Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo. Ia sempat mengajar di SMP Mardi Yuwana Cipanas, Sekolah Guru Bagian B (SGB) Lenteng Agung Jagakarsa, dan SMP Van Lith Jakarta.

Sembari mengajar di SMP, JO mengikuti kursus B-1 Ilmu Sejarah. JO melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta serta Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada hingga tahun 1961.

Setelah berhenti mengajar di SMP Van Lith, Jakob mendapatkan pekerjaan baru sebagai sekretaris redaksi mingguan. Minatnya menulis tumbuh berkat belajar Ilmu Sejarah. Karier JO di dunia jurnalistik bermula dari pekerjaan barunya sebagai redaktur majalah Penabur Jakarta.

Andai sosok sederhana yang lebih senang disebut wartawan daripada pengusaha ini menjadi dosen dan dikirim mengambil program doktor di Universitas Leuven, Belgia atau University of Columbia, AS seperti yang dijanjikan, mungkin tidak akan lahir koran dengan terobosan-terobosan mencerahkan, yang merupakan bagian dari usaha survival-nya di bawah pemerintahan represif Soeharto.

Kata pepatah Perancis; Un journal c’est un monsieur, koran itu bersosok. Karena sosok Jakob Oetama, Harian Kompas pun bersosok. Kini, dunia pers Indonesia telah kehilangan sosok wartawan senior yang jujur, berintegritas dan rendah hati.

Selamat jalan Pak JO, Bapak Pers Nasional. Semoga Tuhan memberikan tempat yang layak di Surga-NYA. ***