Berita

Demonstrasi Bukan Cara Terbaik Untuk Selesaikan Masalah

×

Demonstrasi Bukan Cara Terbaik Untuk Selesaikan Masalah

Sebarkan artikel ini
Pertemuan Bupati Merauke Romanus Mbaraka, Kadis Perikanan dan Pemilik Tanah Andreas Mahuze bersama rekannya di Gedung Negara Merauke. Foto-Getty/TN

TEROPONGNEWS.COM, MERAUKE – Aksi demonstrasi bukanlah pilihan terbaik untuk menyelesaikan suatu masalah. Untuk itu, masyarakat diajak lebih bijak dalam menangani sebuah persoalan.

1498
Mana Calon Gubernur Papua Barat Daya Pilihan Anda yang Layak?

 www.teropongnews.com sebagai media independen meminta Anda untuk klik siapa calon yang digadang-gadang oleh Anda untuk dipilih dan layak jadi calon Gubernur Papua Barat Daya Periode 2024-2029,  kemudian klik Vote pada bagian paling bawah ini.

Demikian ini disampaikan Bupati Merauke Romanus Mbaraka saat menyambut kedatangan Pemilik Tanah Kantor Dinas Perikanan Merauke, Andreas B. Mahuze yang datang menuntut haknya dengan membawa massa di Halaman Gedung Negara Merauke, Senin (01/11).

Dalam pertemuan itu, Romanus minta sebagai orangtua harus selesaikan masalah dengan cara yang lebih pantas, bukan dengan mengajak massa untuk melakukan demo, sebab berdemo bukanlah karakter orang Marind.

“Kalau kamu ribut, saya ambil jalur hukum, nanti kamu susah. Kamu datang sebagai orangtua, kita bicara baik nanti saya kasi jalan,” tutur Romanus.

Sementara itu, Andreas Mahuze selaku Pemilik Tanah kepada media mengutarakan kedatangannya bersama puluhan massa untuk menuntut haknya atas tanah yang sudah 11 tahun digunakan Dinas Perikanan Merauke. Ia pun mengaku, meski membawa massa pihaknya tidak membuat keributan, tapi sebatas menuntut kejelasan pembayaran ulayat miliknya itu.

Tidak sia-sia, kali ini pemilik ulayat mendapatkan kepastian dari Bupati Merauke, yakni dalam waktu tidak terlalu lama, bupati akan memanggil pihaknya untuk membahas penyelesaian tuntutan tersebut. Mengingat, sementara ini Bupati Romanus masih harus mengurus urusan penting yang tidak bisa ditunda.

“Masalah kantor ini sudah 11 tahun berdiri di atas saya punya tanah. Saya sebagai orang Marind menuntut hak kami sebagai orang asli Papua,” tegas Andreas.

Tidak sampai setengah jam usai bertemu bupati, kemudian Andreas bersama pasukannya membubarkan diri, meninggalkan Halaman Gedung Negara Merauke.