Orideko Iriano Burdam (kanan) saat bercengkrama dengan warga masyarakat Raja Ampat. Foto ist/TN.

TEROPONGNEWS.COM, WAISAI- Video keterlibatan salah satu tokoh agama dalam aksi unjuk rasa menentang pasangan calon (Paslon) bupati dan wakil bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati dan Orideko Iriano Burdam pada Pilkada Raja Ampat 2020, beredar luas di media sosial (medsos).

Dalam video tersebut, tampak salah satu pimpinan gereja di Raja Ampat, yang diduga adalah ketua Klasis GKI Raja Ampat, Christopel Padwa, sedang melakukan orasi “berbau” politik, seakan menyudutkan kedua Paslon bup-wabub yang dipastikan sebagai calon tunggal pada Pilkada Raja Ampat 2020 itu.

Sementara itu, pernyataan lainya dalam video terpisah, yang beredar di YouTube. Dimana yang bersangkutan menyampaikan statmennya mengatasnamakan lembaga Gereja dalam hal ini Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, secara khusus Klasis Raja Ampat, menolak dengan tegas dan tidak memberi ruang kepada Faris Umlati untuk maju pada periode kedua, diyakini tanpa sepengetahuan BP Am Sinode GKI di Tanah Papua.

Sebagai anak Gereja Kristen Injili di Tanah Papua dan anak asli Raja Ampat, Orideko Iriano Burdam, yang juga merupakan calon wakil bupati Raja Ampat yang akan maju pada Pilkada Raja Ampat 2020 bersama Cabub Faris Umlati ini, mengaku kecewa dengan manufer politik yang dilakukan oleh ketua Klasis GKI Raja Ampat, Crishtofel Padwa, yang mengatasnamakan lembaga gereja.

Padahal menurut Oridek, mestinya ketua Klasis harus berdiri netral di tengah-tengah untuk memberikan masukan-masukan yang positif dan menyelamatkan.

“Sebagai anak GKI, terlepas dari saya akan maju sebagai wakil bupat Raja Ampat di Pilkada 2020 ini. Jujur saja, saya sangat kecewa dengan pak ketua Klasis GKI Raja Ampat, pak Christofel yang membawa nama GKI dalam kepentingan pribadi dan kelompoknya. Saya yakin keterlibatannya dalam aksi unjuk rasa berbau politik tempo hari itu adalah atas nama pribadi dan kelompok saja. Tapi kenapa harus mengatasnamakan lembaga gereja dalam hal ini GKI,” tegas Orideko Burdam, Kamis (10/9/2020).

Dikatakan, apa yang dilakukan oleh ketua Klasis Raja Ampat itu, tidak diketahui oleh BP Am Sinode GKI di Tanah Papua. “Saya yakin keterlibatan ketua Klasis Raja Ampat dalam aksi unjuk rasa waktu itu, dan juga statmennya di YouTube yang mengatasnamakan GKI di Tanah Papua, itu tidak diketahui oleh BP Am Sinode GKI di Tanah Papua,” tandasnya.

Oridek Burdam minta, ketua Klasis GKI Raja Ampat, agar berdiri netral sebagai seorang hamba Tuhan, supaya tidak menciptakan perpecahan diantara masyarakat, terutama anak-anak GKI di Raja Ampat. Ia juga menyarankan kepada oknum-oknum Politisi untuk tidak memanfaatkan dan menjadikan tokoh-tokoh agama sebagai corong politik untuk memecah belah umat.

“Saya minta kepada ketua Klasis Raja Ampat, untuk berdiri netral sebagai seorang hamba Tuhan, agar tidak menciptakan perpecahan diantara anak-anak GKI di Raja Ampat. Namun saya yakin, seratus persen anak-anak GKI pasti mendukung pasangan Faris dan Oridek,” tegasnya.

“Selain itu juga, saya menyarankan agar para oknum-oknum Politisi untuk tidak menjadikan tokoh agama atau pimpinan gereja sebagai tameng politik, karena dampaknya akan besar ditengah-tengah masyarakat, biarkanlah tokoh agama itu berjalan sesuai jalur dan tugas pelayanan mereka terhadap umatnya masing-masing,” lanjut Orideko Burdam.

Berita lain untuk anda