Peletakan batu pertama pembangunan Rumah Tongkonan IKT Kabupaten Merauke, oleh Bupati Merauke, Frederikus Gebze. Foto-Getty/TN

TEROPONGNEWS.COM, MERAUKE – Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Kabupaten Merauke, Papua melakukan peletakan batu pertama pembangunan rumah tongkonan (rumah adat) di Jalan Onggatmit, Sabtu (15/8).

Kegiatan ini dihadiri Bupati Merauke, Frederikus Gebze bersama istri, tokoh masya, tokoh adat, tokoh agama, ketua paguyuban, warga IKT dan hadir pula para bakal calon bupati Merauke, Heribertus Silubun, Hendrikus Mahuze, dan Romanus Mbaraka.

Rumah tongkonan ini adalah, bangunan pertama setelah sejak tahun 60an masyarakat Toraja mulai berdomisili di Merauke. Puluhan tahun lamanya mereka punya harapan untuk mempunyai rumah bersama dan impian ini mulai terwujud dengan peletakan baru pertama.

Dalam laporan Ketua Pembangunan Tongkonan, Leo Patriamogot mengatakan, biaya pembangunan gedung tongkonan diperkirakan sebesar 6 miliar rupiah. Dengan luas bangunana utama 25 kali 50 meter persegi kapasitas 1000 orang. Selanjutnya menata halaman, tempat parkir dan asesosris, serta pagar keliling dari beton.

“Dana yang sudah terhimupun sekitar dua miliar lebih, bersumber dari bantuan Pemda Kabupaten Merauke, hasil sumbangan donatur warga IKT, sumbangan kelompok arisan rutin setiap bulan,” sebutnya.

Berikut, Ketua IKT Merauke, Yansen Banni mengatakan, bangunan tongkonan sebagai rumah adat, dan lambang identitas suku Toraja.

“Tongkonan punya arti yang sangat dalam, ibaratkan sebagai ibu yang mengayomi anak-anaknya,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, pembangunan tongkonan sebagai bagian dari eksistensi warga IKT dan upaya memelihara adat istiadat di tanah rantau.

“Kami harapkan perhatian pemerintah ke depannya untuk bisa menyelesaikan pembangunan ini,” pinta Ketua IKT.

Mewakili Tokoh Masyarakat Marind, Drs. Romanus Mbaraka, MT, menyampaikan apresiasi kepada Ikatan Keluarga Toraja atas setiap dukungan dan kerja sama untuk pembangunan di Tanah Marind.

“Kita telah menjadi saudara dalam semboyan Izakod Bekai Izakod Kai, satu hati satu tujuan. Mari kita kerja sama agar semua pembangunan bisa berjalan. Pesan saya semua yang punya hati saya titip orang Marind yang jujur jumlahnya sangat kurang. Kita lihat juga masyarakat asli di tanah ini. Jangan sampai mereka hilang di atas tanahnya sendiri,” pinta Romanus.

Apresiasi yang sama juga disampaikan Bupati Merauke, Frederikus Gebze pada kesempatan berikut. Freddy mengatakan, pemerintah berkewajiban menjaga stabilitas pembangunan di Kabupaten Merauke melayani semua suku yang tinggal di dalamnya.

“Inilah rumah peradaban, identitas, jati diri IKT di tanah rantau. Pemda tidak tinggal diam dengan memberikan dukungan dana,” sebut Freddy.

Lanjut dikatakan, peran pemerintah menyiapkan dan memperkenalkan daerah Merauke sebagai daerah pariwisata. Bahkan ia menyebut, beberapa rumah adat lainnya sudah dibangun dan tidak luput dari bantuan Pemda setempat.

Sikap nasionalisme dan semangat semboyan Bhineka Tunggal Ika menurut Freddy adalah dengan membangun Indonesia dari Merauke sampai Sabang yang di dalamnya diisi oleh semua suku, adat dan budaya.

Cita-citanya, pada waktu mendatang bahwa semua suku yang sudah diterima untuk tinggal, hidup dan berkarya di atas Tanah Marind supaya memberikan sumbangsih ikut membangun rumah adat Marind.

“Setelah semua rumah adat dibangun, semua harus bersatu membangun rumah orang Marind sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada masyarakat Marind,” tuturnya mengakhiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita lain untuk anda