Penanaman Pohon Mangrove di Pantai Lampu Satu Merauke. Foto-Getty/TN

TEROPONGNEWS.COM, MERAUKE – Dalam rangka memperingati Hari Air se-Dunia (HAD) ke XXVIII tahun 2020, Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua Merauke menggelar penanaman pohon mangrove, di Pantai Lampu Satu Merauke dengan tema Ketahanan Air, dan Tantangan Perubahan Iklim.

Ketua Panitia, Darwin Patpahan dalam laporan panitianya mengaku, kegiatan ini tujuannya ikut membantu pembangunan melalui kegiatan nonfisik, sehingga ekosistem pantai dapat tetap terjaga, sehingga terjadi keselarasan antara pembangunan dengan alam sekitarnya.

“Penanan pohon direncanakan 1.500 pohon, 1.400 telah dilakukan penanaman dan hari ini ditanam 100 pohon,” ujar Darwin, Selasa (11/8).

Penanaman pohon mangrove ini sangat bermanfaat bagi perlindungan kawasan pantai Lampu Satu, sehingga mengurangi pengaruh gelombang pasang terhadap daerah pemukiman sekitarnya.

Selanjutnya, sambung dia, masih rangkaian Hari Air Dunia, akan dilakukan senam bersama dan eksekusi saluran pada tanggal 14 Agustus 2020 nanti.

Kepala Balai Wilayah Sungai Papua Merauke, Yulianus Manuel Mambrasa mengatakan, Pantai Lampu Satu menjadi perhatian pemerintah daerah sampai pusat. Salah satunya, telah membangun tanggul sejak 2012, dan penanaman mangrove yang terus dilakukan. Diharapkan, masyarakat sekitar tidak mengganggu hutan di pinggir pantai melainkan turut menjaganya.

“Apa yang kita kerjakan hari ini menunjang kita ke depan. Lokasi yang bagus ini kita jaga. Jangan wariskan air mata bagi anak cucu kita tapi wariskan mata air bagi mereka,” ajak Yulianus dalam sambutannya mewakili Dirjen Sumber Daya Air Ketentuan PUPR RI sembari berharap, penanaman ini kedepan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

Asisten II Setda Kabupaten Merauke sekaligus Kepala PUPR Kabupaten Merauke, Ir. H.B.L. Tobing menyampaikan penghargaan kepada BWS, yang telah berupaya mempertahankan kelestarian lingkungan.

Semua stakeholder diajak bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dengan mengurangi, bahkan tidak melakukan penggalian pasir secara ilegal di pinggir pantai.

Kata dia, penggalian pasir liar marak di Merauke dan mengakibatkan abrasi, kerusakan lingkungan pantai dan infra struktur jalan terputus yang menghubungkan daerah yang satu dengan daerah yang lain.

“Mari kita ciptakan lingkungan kita menjadi lingkungan yang baik. Jika kita menjaga alam, pasti alam menjaga kita,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita lain untuk anda