Ismawati, Anggota DPRD Kabupaten Sorong bersama konsituennya. (Foto:Tantowi/TN)

“Meski Ibu Isma ini pendatang,tapi beliau ini selalu ada buat kami. Walau berjilbab sampai panjang, dia buang gengsi dan mindernya untuk duduk bersama kami”

SEORANG lelaki paruh baya bergegas memarkir sepeda motornya. Bertelanjang kaki, berambut keriting. Di belakangnya, sosok kepala kampung mengikuti. Keduanya lantas menuju iring-iringan mobil yang lebih dulu tiba.

“Maaf ibu. Tadi kami sudah berkumpul menunggu disini. Tapi karena tidak kunjung tiba, warga banyak yang pulang lagi,” kata Paul Yongki Malakabu.

Paul adalah Kepala Kampung Yeflio, Distrik Mayamuk. Dia sedang berbicara dengan Ismawati, anggota DPRD Kabupaten Sorong dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

Hari itu, Ismawati memang memiliki agenda berbagi paket bahan makanan kepada warga kurang mampu. Kegiatan ini sengaja digagas, untuk membantu meringankan beban masyarakat di tengah wabah corona.

Ismawati yang datang bersama kader DPD Partai Nasdem Kabupaten Sorong, menyampaikan permohonan maaf karena terlambat datang. Sedianya dia akan memulai aksi sosial itu pada pukul 10.00 WIT.

“Ada warga tetangga dari kader kami yang meninggal dunia, jadi sebelum kesini, kami pergi dulu ke rumah duka, untuk menyampaikan bela sungkawa. Mohon maaf kalau akhirnya kami terlambat datang,” ujar Ismawati, yang tiba di Kampung Yeflio sekitar pukul 12.00 WIT.

Kampung Yeflio adalah salah satu basis konsituen Ismawati, yang telah mengantarkan dirinya duduk di kursi parlemen. Di kampung ini, mayoritas penduduknya adalah Orang Asli Papua (OAP). Tetapi bagi masyarakat setempat, sosok Ismawati bukanlah orang asing, meski Ismawati seorang politisi non OAP.

Di Kampung Klain yang merupakan kompleks masyarakat Moi, Ismawati sudah dianggap seperti anak maupun kakak bagi anak-anak asli Papua. Saat pembagian paket bama, semua KK yang ada di kampung ini dapat bagian.

“Jauh sebelum saya maju sebagai caleg Partai Nasdem, saya sudah berinteraksi dengan mereka sebagai Pendamping Distrik Teknik melalui program P3MD. Jadi kalau saat Pemilu Legislatif lalu saya mendapatkan suara cukup signifikan dari Kampung Yeflio, ya itulah buah yang saya petik dari hasil menanam,” kata Ismawati.

Dalam pemilu legislatif 17 April 2019 lalu, Ismawati mendulang 508 suara. Itulah modal yang cukup menjadikan dirinya mewakili Partai Nasdem duduk di Gedung DPRD Kabupaten Sorong di Kilometer 18. Bahkan dia juga dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Fraksi Noken Aspirasi, fraksi gabungan dari Partai Nasdem dan Perindo.

Di daerah pemilihan 3, sebagai caleg baru yang berada di nomor urut 4, Ismawati bertarung dengan para politisi senior di Distrik Mayamuk, Salawati dan Distrik Mariat.

Sokongan suara dari masyarakat OAP, bukan hanya dipetik Ismawati dari Kampung Yeflio. Di Kampung WEN, Kampung Warmon Kokoda, Asjitba, Arar, Klain,  Malamay dan sejumlah kampung lain yang hari itu dia kunjungi, adalah basis OAP dan lumbung suara Ismawati

“Bagi mereka (OAP), saya sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Kampung saya (Malamay dan Klain) yang mayoritas adalah Suku Maybrat, sudah menganggap saya sebagai anak atau kakak. Sejak kecil saya sudah tumbuh dan bergaul dengan mereka. Pergaulan itu pun terus berlangsung hingga sekarang. Saya berupaya selalu ada, saat mereka ada masalah. Mereka membutuhkan bantuan,” urainya.

Banyak hal yang ia selalu berupaya ambil bagian, meski itu urusan sepele dan mengeluarkan uang receh. Seratus, dua ratus ribu. Tapi juga tidak selalu soal uang. Ismawati bagi mereka adalah sosok yang hangat untuk diajak berdiskusi, bertukar pendapat menyelesaikan persoalan.

Berbagi paket bahan makanan kepada OAP di Kampung WEN, Distrik Mayamuk, yang menjadi basis konsituennya. (Foto:Tantowi/TN)

Duduk bersama di tengah-tengah mereka dengan menghilangkan sekat, membuang rasa gengsi, risih dan jijik itulah yang menumbuhkan rasa solidaritas dan tanggungjawab bagi OAP yang ada di sekitar Ismawati, untuk mengusung dirinya sebagai wakil rakyat.

“Meski Ibu Isma ini pendatang,tapi beliau ini selalu ada buat kami. Walau berjilbab sampai panjang, dia buang gengsi dan mindernya untuk duduk bersama kami. Kalau sekarang dia maju, kenapa kita harus tinggalkan dia,” kata Paul Yongki Malakabu.

Bagi mereka, Ismawati bukanlah seperti caleg lain, yang datang dan sok merakyat ketika mau minta dukungan. “Selama ini orang-orang yang seperti itu kemana? Padahal mereka ada di sekitar kami orang-orang Papua ini,” pungkasnya. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita lain untuk anda