Max Hari salah seorang penjual BBM eceran saat mengisi bahan bakar jenis premium di kendaraan. Foto endy/TN.

Talaud, TN – Pertalite, merupakan salah satu Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan angka oktan 90 atau lebih tinggi dari premium yang hanya memiliki angka oktan 88. Meski demikian, angka tersebut tak mempengaruhi sebagian warga Kabupaten Kepulauan Talaud, baik pengendara motor, mobil, ataupun nelayan.

Dari penelusuran di lapangan, minat masyarakat Talaud terhadap premium tercatat lebih tinggi dibandingkan pertalite.

“Saya juga tidak tahu kenapa masyarakat lebih suka bensin (premium) dibanding pertalite. Ukurannya, ketika saya menjual pertalite, sangat lama laku dan pengendara yang mampir kebanyakan menanyakan bensin,”ungkap Max Hari, salah seorang penjual BBM eceran di Desa Tarohan, Kecamatan Beo Selatan, ketika diwawancarai Senin (6/4).

Dikisahkannya, beberapa waktu lalu ketika premium habis dan hanya tersisa pertalite di SPBU, dirinya berinisiatif untuk menjual pertalite di kios tepi jalannya. Namun kata dia, dari 100 liter yang dia jual, dalam kisaran waktu sepekan, hanya laku sekitar 20 liter.

Padahal kata dia, jika yang dipajang adalah premium, tak sampai sepekan 100 liter tersebut sudah ludes dibeli pengendara, maupun nelayan setempat.

“Saya menjual pertalite sebotol ukuran satu liter Rp. 10.000, sama juga dengan premium. Tapi ketika premium habis, ada pengecer lain menjual bensin seharga Rp. 15.000. Herannya, banyak pengendara motor lebih memilih membeli bensin seharga Rp. 15.000 daripada pertalite yang hanya Rp. 10.000,”terang Hari.

Dia juga mengaku tak tahu apa alasan pengendara lebih menyukai premium dibanding pertalite. Padahal menurut dia, dari berita yang ditontonnya di TV, pertalite lebih bagus dibanding premium.

Seorang nelayan desa Niampak, Nusa, yang dimintai tanggapan soal perbandingan dua bahan bakar ini, juga mengakui hal yang sama.

Menurutnya, mesin laut yang digunakannya, sudah terbiasa dengan premium dan tak bisa tahan lama jika menggunakan pertalite.

“Dulu saya melaut pakai pertalite, mesin saya pecah ketika gas saya tinggikan. Beruntung saat itu saya menggunakan dua mesin, sehingga saya bisa kembali dari laut ke rumah. Mulai hari itu, saya memilih untuk tak menggunakan pertalite,”ujar Nusa, di kediamannya.

Sementara itu, salah seorang pegawai SPBU Beo yang dimintai tanggapan soal ini, mengakui hal tersebut. Namun kata dia, jika dibandingkan dari segi penjualan di SPBU, kurang lebih sama dan tak akan bertahan lama di tangki penampungan.

“Memang kebanyakan orang mencari bensin, tapi kalau di sini penjualnya hampir sama. Kalau oktannya memang pertalite lebih tinggi, tapi kalau minat masyarakat memang mereka lebih suka bensin,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita lain untuk anda