Makassar, TN – Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah menjelaskan alasan kenapa adanya keterlambatan informasi soal kematian almarhum COVID-19 285, di Makassar, Kamis (19/3).

Menurut Nurdin, keterlambatan tersebut disebabkan ketergantungan alat pemeriksaan sampel darah Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Dimana, selama ini Sulsel masih bergantung dengan laboratorium di Jakarta.

“Kita sudah punya alat di Universitas Hassanudin (Unhas), dan di Rumah Sakit Wahidin. Kita sudah miliki tim medis yang memadai. Jadi, kita tinggal persetujuan dari Kementerian Kesehatan,” jelas Nurdin Abdullah lewat siaran persnya yang diterima Teropongnews.com, di Makassar, Sabtu (21/3).

Nurdin mengatakan, pasien terjangkit COVID-19 285 itu berjenis kelamin perempuan, dan mulai terjangkit setelah kembali dari berumroh, kemudian mengalami keluhan diare dan batuk satu minggu setelah dari tanah suci.

Menurut dia, pasien tersebut kemudian dirawat di rumah sakit dengan keluhan demam. Dan pasien tersebut sempat diambil sampel untuk kemudian dikirim ke laboratorium di Jakarta

“Saya ingin jelaskan pasien Covid-285 jadi kita tidak sebut identitas, itu mengalami keluhan dan dirawat di Rumah Sakit Siloam dengan keluhan demam, serta sesak. Dan ketika dilaksanakan foto toraks menunjukkan pneumonia di kedua paru,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan, almarhumah diketahui terjangkit virus corona tersebut, empat hari setelah pengambilan sampel. Sampel tersebut pun kata Nurdin, diambil pasca pasien COVID-19 285 meninggal dunia.

“Yang bersangkutan kita ambil sampelnya sudah meninggal dunia. Tetapi hasilnya baru Kamis kita dapatkan, bahwa pasien tersebut positif corona,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita lain untuk anda