TEROPONGNEWS.COM, JAKARTA – Budi Said crazy rich asal kota Surabaya akhirnya menjalani sidang perdana kasus emas PT Antam Tbk seberat 1.136 kilogram di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (27/8/2024).
Jaksa M Nurochman Adikusumo dalam dakwaannya menyebutkan bahwa terdakwa Budi Said selaku pembeli emas pada Butik Emas Logam Mulia (BELM) Surabaya 01 PT Antam Tbk telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran.
Perbuatan Budi Said itu kata JPU melanggar melanggar Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.
Selain pasal korupsi, Penuntut Umum juga menjerat Budi Said dengan Pasal 3 atau Pasal 4 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
Selanjutnya JPU menyebutkan bahwa terdakwa Budi Said diduga merugikan negara dengan bersekongkol antara lain Eksi Anggraeni, Kepala BELM 01 Surabaya Endang Kumoro, bagian administrasi BELM 01 Surabaya Misdianto.
Selain itu Budi Said berselongkol dengan mantan General Trading and Manufacturing Service PT Atam Pulo Gadung Ahmad Purwanto. General Manager pada Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia (UBPPLM) Pulogadung PT Antam Abdul Hadi Aviciena turut serta. Kasis ini terjadi tahun 2018-2022. Transaksi jual beli dipermasalahkan, karena tidak sesuai dengan penetapan harga emas Antam.
Kronologi kasus ini berawal saat Budi asaid dan Eksi menerima emas 100 kilogram dari Endang, Ahmad, dan Misdianto melalui pengiriman dari UBPPLM Pulo Gadung Antam. Penerimaan itu diyakini tidak sesuai dengan spesifikasi jumlah berat yang seharusnya.
JPU menambahkan, pengiriman seharusnya 41,8 kilogram emas dengan pembayaran Rp25,2 miliar. Ada selisih 58,1 kilogram yang tidak masuk dalam pembayaran resmi.
Jaksa juga menyebut masih banyak transaksi terkait jual beli emas yang merugikan negara akibat kongkalikong itu. Dalam dakwaan, jaksa juga menyebut Budi bisa membeli emas Antam di bawah harga resmi dengan mudah. Caranya, dengan memberikan uang ke Eksi, Ahmad, dan Endang. Sebagian pemberian berupa barang.
Dalam kasus ini Budi dan Eksi juga meminta BELM Surabaya 01 mengeluarkan surat kekurangan penyerahan emas Antam sebanyak 1.136 kilogram. Harga per kilonya Rp505 juta.
Dikatakan Jaksa, untuk tujuan mendapatkan emas Antam dari transaksi yang tidak benar oleh terdakwa Budi Said melalui Eksi Anggraeni sebelumnya, maka terdakwa Budi Said menggunakan surat keterangan yang tidak benar tersebut sebagai dasar gugatan perdata kepada PT Antam Tbk yang seolah-olah PT Antam Tbk memiliki kewajiban kekurangan serah emas Antam kepada terdakwa Budi Said sebesar 1.136 kg dengan harga Rp505 juta.
Budi Said disangkakan menerima selisih emas Antam sebanyak 58,1 kilogram. Nilainya menyentuh Rp35 miliar. Akibat kasus ini Negara ditaksir merugi sampai Rp1 triliun lebih.
Sidang kasus ini ditunda selama satu pekan. Dan dalam persidangan terdakwa didampingi sejumlah pengacara yang antara lain Hotman Paris Hutapea serta pengacara handal lainnya. ***