Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaDaerah

Workshop Bertajuk KGBO Hingga Pameran Foto Digelar oleh FJPI PBD

×

Workshop Bertajuk KGBO Hingga Pameran Foto Digelar oleh FJPI PBD

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TEROPONGNEWS.COM, SORONG – Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Papua Barat Daya bersama FJPI pusat menggelar workshop dan pameran foto di Hotel Mariat Sorong, (5/7/2024)

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari dari 5-6 Juli 2024. Kegiatan yang di hadiri oleh Sekretaris Jendral FJPI pusat, komisioner perempuan yang juga merupakan Ketua Sub Com Partisipasi Masyarakat, Penjabat Gubernur Papua Barat Daya Mohammad Musa’ad yang diwakili Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Papua Barat Daya, Irma Riyani Soelaiman.

Example 300x600

Workshop itu sendiri mengambil tema tentang Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) untuk penting nya meningkatkan pemahaman Jurnalis Perempuan khususnya di Papua Barat Daya. Selain kegiatan workshop FJPI pusat juga menggelar pameran foto yang menampilkan karya foto dari beberapa jurnalis perempuan yang ada di Indonesia.

Sekretaris Jendral (Sekjen) FJPI Pusat Khairiah Lubis mengatakan tujuan dilaksanakannya workshop yaitu untuk meningkatkan pemahaman para jurnalis perempuan yang ada di Provinsi Papua Barat Daya tentang Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).

Khairiah Lubis juga menyampaikan FJPI telah mengadakan workshop dan pameran foto di 5 provinsi yaitu Medan, Jawa Timur, Kalimantan Barat tepatnya di Pontianak, Manado dan Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

Suasana pameran foto yang digelar FJPI PBD

“Harapannya untuk kegiatan kali ini yang terlaksanakan di Papua Barat Daya bisa memberikan banyak ilmu kepada jurnalis perempuan. Bagaimana kita sebagai jurnalis turut mengurangi angka kekerasan, serta bagaimana kita memberitakan tentang kekerasan seksual dan juga yang terbaru terkait kekerasan berbasis gender online,” harapnya.

Ditambahkan olehnya, saat ini perkembangan dunia internet sudah semakin masif dimana dunia sekarang semakin banyak kekerasan yang terjadi di Media Online.

Hingga kini banyak sekali kekerasan terhadap perempuan dan juga gender, baik secara langsung maupun secara online yang terjadi dan terus meningkat.

Dengan adanya Forum Jurnalis Perempuan ini bisa menjadi tempat curhat buat lembaga perempuan-perempuan, karena jurnalis perempuan punya kelebihan dan kepekaan yang lebih. Contohnya ketika mendapat informasi terkait kekerasan terhadap anak dan perempuan, biasanya jurnalis perempuan menjadi terdepan untuk melakukan advokasi.

Komisioner Komnas Perempuan yang juga merupakan Ketua Sub Com Partisipasi Masyarakat Veryanto Sitohang menyampaikan pers termasuk di dalamnya jurnalis perempuan memiliki andil yang sangat besar, karena turut serta menyuarakan dan menyampaikan informasi yang tengah terjadi di masyarakat.

“Kehadiran jurnalis khususnya jurnalis perempuan memberikan pengetahuan dan informasi yang membuat kita memang harus bekerja,” ujarnya.

Veryanto mengatakan turut prihatin karena ancaman kekerasan berbasis gender online sudah semakin tinggi.

“Dulu memang orang tidak terlalu menaruh perhatian terhadap isu ini. Tapi sejak pandemi COVID-19 tahun 2020, isu ini meledak. Karena masyarakat seluruh Indonesia tidak hanya Indonesia tapi global, waktu itu diminta untuk bekerja menggunakan aplikasi-aplikasi. Ternyata di dalamnya ada predator-predator atau orang-orang yang ingin melakukan kejahatan pun sangat banyak,” katanya.

Pada tahun 2021 Komnas Perempuan dan Anak, kata dia, mencatat kasus kekerasan berbasis gender online melampaui angka 1.000 kasus yang dilaporkan ke Komnas Perempuan dan anak.

Sementara itu, di tahun 2023 Komnas Perempuan dan Anak mencatat secara spesifik kasus kekerasan seksual berbasis gender sebanyak 838 kasus yang dilaporkan. Tentu yang tidak dilaporkan pasti jauh lebih banyak.

“Kasus ini tidak hanya terjadi di kota-kota saja. Bahkan ini lebih menyasar pada perempuan-perempuan yang tinggal di desa umumnya usianya adalah remaja, tapi juga menyasar ibu-ibu,” imbuhnya.

Dia turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada FJPI yang telah menaruh perhatian terhadap KBGO.

” Kami juga akan menyelenggarakan workshop terkait dengan stop KBGO untuk jurnalis perempuan, karena jurnalis perempuan sebagai pilar dari demokrasi sangat rentan menjadi korban KBGO,” tambahnya.

Penjabat Gubernur Papua Barat Daya Mohammad Musa’ad yang diwakili Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Irma Riyani Soelaiman menyatakan, kegiatan ini dianggap penting dan strategis. Karena melalui forum ini jurnalis perempuan mendapat pemahaman secara lebih baik tentang apa itu KBGO.

Menurut Irma, keberadaan teknologi digital ini bagaikan dua sisi mata uang. Disatu sisi digitalisasi mampu mempermudah beragam aktivitas manusia, di sisi lainnya teknologi digital juga mampu membawa dampak negatif jika tak diiringi dengan literasi yang baik.

“Ditambah lagi dengan konten berbasis gender yang mana perempuan menjadi obyek, karena perempuan di Indonesia masih menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tindak kekerasan,” imbuhnya.

Pelantikan FJPI Papua Barat Daya oleh Sekjen FJPI Pusat, Khairiah Lubis

Irma juga menyampaikan upaya untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan juga harus mendapat perhatian yang serius.

“Peran perempuan sangat strategis dan potensial sebagai sumber daya pembangunan, karena perannya tidak tergantikan sebagai ibu bangsa. Sehingga permasalahan berbasis gender tidak dapat kita biarkan terus menerus terjadi. Harus ada upaya yang komprehensif dan terukur untuk menghilangkan itu semua, minimal meminimalisir. Sehingga kekerasan berbasis gender online semakin berkurang,” ucapnya.

Ditambahkannya, Kadis Kominfo PBD, Pemerintah dan pers harus menjadi garda terdepan. Dimana Pemerintah sendiri dalam hal mendorong adanya pendidikan literasi dan keamanan digital, implementasi UU tindak pidana kekerasan yang serius dan kerja sama dari perusahaan media sosial dengan berbagai pihak terutama kaum muda. Dengan memberikan edukasi melalui pemberitaan yang positif.

“Saya berharap dengan dilaksanakan kegiatan ini sudah membuka ruang dialog, untuk terus mengkampayekan stop kekerasan digital berbasis gender,” harapnya.

Pada hari yang sama, FJPI Papua Barat Daya resmi dilantik oleh Sekretaris Jendral (Sekjen) Pusat. FJPI Papua Barat Daya sendiri diketuai oleh Norma Fauzia Muhammad, Sekretaris Maria Baru, Bendahara Juhra Nasir serta koordinator dan anggota.

Khairiah Lubis berharap dengan dilantiknya pengurus FJPI Papua Barat Daya ini semakin solid, sukses dan sehat selalu kepada FJPI Papua Barat Daya.

Reportase : Triani & Hesty

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *