Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaHukumPeristiwa

FJPI PBD Minta Oknum Anggota TNI AL Usir dan Ancam Dua Wartawan Perempuan di Kota Sorong Minta Maaf

×

FJPI PBD Minta Oknum Anggota TNI AL Usir dan Ancam Dua Wartawan Perempuan di Kota Sorong Minta Maaf

Sebarkan artikel ini
Ketua FJPI PBD, Fauzia
Ketua FJPI PBD, Fauzia
Example 468x60

TEROPONGNEWS.COM, SORONG – Dua anggota Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Provinsi Papua Barat Daya (PBD) di Kota Sorong, Papua Barat Daya diduga mengalami intimidasi dan ancaman oleh oknum TNI AL saat berusaha mengkonfirmasi terkait kasus dugaan bunuh diri anggota TNI AL di Pos penjagaan.

Kasus intimidasi dan ancaman terjadi pada dua anggota FJPI PBD bersama sejumlah rekan wartawan lainnya pada sekitar pukul 10 pagi WIT, Selasa (9/7).

Example 300x600

Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia Cabang Papua Barat Daya (FJPI PBD), Fauzia tentu saja mengecam tindakan oknum TNI AL tersebut dan meminta agar oknum TNI AL Lantamal XIV tersebut melakukan permohonan maaf.

Fauzia menegaskan agar oknum TNI AL tersebut dipindahkan ke daerah lain, karena selama ini menurutnya, hubungan antara pers dan Lantamal XIV Sorong baik-baik saja.

“Jadi oknum ini datang bikin kabur air saja, merusak silaturahmi kita antara Pers dan Lantamal XIV Sorong,” jelas Fauzia dengan nada yang kesal.

Selain itu, kata Fauzia, FJPI PBD akan meminta FJPI Pusat dan untuk menyurat ke Markas Besar Angkatan Laut (Mabes AL) terkait insiden ini yang belum ada respon dari Komandan Lantamal XIV dan Panglima Koarmada III terkait kejadian ini.

“Kami juga akan melaporkan hal ini ke Komnas Perempuan, karena intimidasi dan ancaman merupakan kejahatan, apalagi dialami oleh anggota kami yang sedang bekerja,” ujar Fauzia dalam keterangan persnya.

Diceritakan oleh Fauzia, kejadisn berawal saat 2 anggota FJPI PBD bersama rekan wartawan lainnya mendapatkan informasi tentang kasus bunuh diri oknum anggota Lantamal XIV Sorong pada Minggu (7/7) sekitar pukul 15.00 WIT.

Mereka kemudian, sambung dia, mencoba mengkonfirmasi informasi tersebut kepada Danlantamal XIV melalui pesan whatsapp, namun tidak mendapatkan balasan.

“Selasa 9 Juli 2024 pagi, 2 anggota FJPI PBD dan beberapa teman pers berupaya mencoba mengkonfirmasi dugaan bunuh diri oknum TNI AL tersebut dengan mendatangi Mako Lantamal XIV Sorong. Setibanya di Mako Lantamal XIV Sorong, sejumlah jurnalis (termasuk 2 anggota FJPI) menunggu rekan-rekan wartawan lainnya di luar Lantamal XIV Sorong,” ujarnya.

Tak lama kemudian, sejumlah jurnalis didatangi salah seorang oknum anggota Pomal dan mempertanyakan alasan para jurnalis berhenti di samping jalan tersebut.

“Para wartawan pun menjelaskan bahwa mereka sedang menunggu rekan-rekannya, sehingga mereka memakirkan kendaraan disamping jalan. Selanjutnya oknum anggota Pomal itu pergi,” bebernya.

Tidam berselang lama, muncul salah satu anggota TNI AL dengan menggunakan pakaian preman dan nada arogan langsung meminta handphone milik wartawan dan memerintahkan agar menghapus foto-foto di galeri salah satu wartawan.

“Datanglah seorang oknum anggota TNI AL lain yang tidak berseragam dinas. Dia dengan arogansi meminta para wartawan untuk membuka handphone mereka dan menghapus foto-foto yang telah dituduhkan diambil di sekitar Mako Lantamal IV Sorong. Oknum tersebut menuduh para wartawan telah mengambil gambar tanpa izin,” ungkap Fauzia.

Para wartawan merasa keberatan dengan tuduhan tersebut dan menolak untuk membuka handphone mereka. Mereka menjelaskan bahwa mereka adalah wartawan dan dilindungi UU Pers. Apalagi, saat itu para jurnalis tidak mengambil 1 gambarpun.

“Perdebatan pun terjadi antara para wartawan dan oknum anggota TNI AL tersebut. Oknum tersebut bahkan mengeluarkan suara nada tinggi dan mengatakan bahwa wilayah Mako Lantamal adalah wilayah militer dan tidak boleh ada yang parkir di sana dengan jarak 100 meter,” tuturnya.

Para wartawan mencoba menjelaskan bahwa tidak ada rambu-rambu yang melarang parkir di sekitar Mako Lantamal. Namun, oknum tersebut tetap bersikeras dan meminta para wartawan untuk pindah dari tempat tersebut. Saat hendak memindahkan sepeda motornya, wartawan kembali diancam akan ditangkap jika tidak segera berpindah.

“Kalau kalian melawan kita tangkap”,Hal ini membuat para wartawan semakin emosi. Untungnya, beberapa anggota intel yang berada di lokasi kejadian kemudian datang dan menenangkan situasi. Para wartawan kemudian memilih untuk meninggalkan Mako Lantamal dan menunggu di tempat lain sambil menunggu konfirmasi dari Danlantamal,” ujarnya.

Hingga saat ini, tambah Fauzia wartawan belum mendapatkan konfirmasi dari Danlantamal terkait kasus bunuh diri oknum anggota Lantamal XIV Sorong dan kejadian pengusiran dan ancaman yang dialami rekan – rekan wartawan.

“Mereka juga berencana untuk melaporkan kejadian yang mereka alami kepada pihak berwajib, sebab ada dugaan pelanggaran pidana, ” tutup Fauzia.

Reportase : Hesty

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *