Ernes Broning Kakisina dari HPI Raja Ampat sebagai narasumber utama lainnya – tampak beliau sedang memberikan materi kepada peserta kegiatan “Pelatihan Story telling Kepemanduan di TWA Sorong.” (Foto Oleh: CI Indonesia/2021).

TEROPONGNEWS.COM, SORONG- Sebagai upaya lanjutan untuk mengembangkan pengelolaan di Taman Wisata Alam (TWA) Sorong melalui aktivitas pemanfaatan pariwisata secara berkelanjutan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat kembali gandeng Program Papua Barat dari Conservation International (CI) Indonesia dalam mengupayakan peningkatan kapasitas bagi staf-nya serta anggota masyarakat binaan yang tergabung di dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Matoa, dan juga mahasiswa/i dari Universitas Papua.

<

Secara singkat, kegiatan yang diselenggarakan selama empat hari ini merupakan dua tema pelatihan yang diselenggarakan secara berturut-turut. Tanggal 6 dan 7 Desember partisipan turut serta dalam “Pelatihan Penyusunan Paket Wisata di TWA Sorong,” sementara “Pelatihan Storytelling Kepemanduan di TWA Sorong” dilaksanakan pada tanggal 8-9 Desember 2021. Kedua kegiatan tersebut digelar di dalam TWA Sorong dan kantor BBKSDA Papua Barat.

Salah satu sesi praktik dalam “Pelatihan Story telling Kepemanduan di TWA Sorong.” Tampak peserta kegiatan sedang memperhatikan briefing aktivitas wisata yang diberikan oleh salah satu narasumber utama. (Foto Oleh: CI Indonesia/2021)

“Kami ingin agar TWA Sorong ini dapat terkelola dengan baik, fungsi-fungsi wisata juga berjalan dengan baik – tentunya ini perlu kami susun sebaik mungkin perencanaan-perencanaan ke depan, bagaimana menyusun TWA Sorong ini menjadi suatu kawasan wisata yang layak untuk bisa dikembangkan dan mempunyai value yang tinggi, baik untuk BBKSDA Papua Barat maupun dampaknya kepada masyarakat di sekitar kawasan,” papar Budi Mulyanto, S.Pd., M.Si., Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BBKSDA Papua Barat, dalam sesi pembukaan kegiatan.

Budi Mulyanto juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi antara masyarakat sekitar kawasan, pemangku kepentingan terkait, dan juga pemerintah daerah Kota Sorong, untuk bersama-sama mengembangkan TWA Sorong menjadi objek daya tarik wisata alam bagi wisatawan lokal, nusantara, maupun mancanegara.

Selain BBKSDA Papua Barat dan CI Indonesia, dua kegiatan ini juga melibatkan dua pengurus teras dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) – Raja Ampat, terkhusus sebagai narasumber utama pelatihan, yaitu Ranny Iriani Tumundo dan Ernes Broning Kakisina.

Ketika ditemui usai kegiatan, Ranny Iriani Tumundo yang juga adalah Ketua HPI – Raja Ampat, menilai bahwa TWA Sorong memiliki potensi yang tinggi sebagai sebuah objek wisata. Namun demikian, Ranny juga mengingatkan, “(Perlu) Hati-hati dalam merancang pengelolaan pariwisata, karena TWA Sorong ini ada di tengah kota, dan memiliki potensi benturan kepentingan di dalamnya: mulai dari galian C, pembangunan di sekitar TWA Sorong, penebangan liar, dan seterusnya.”

Secara ringkas, pelatihan penyusunan paket wisata di TWA Sorong mengajarkan kepada peserta topik-topik seperti pengertian dan tujuan pembuatan paket wisata, pembahasan daftar potensi wisata di TWA Sorong, penyusunan prioritas potensi, hingga kepada teknik penyusunan paket wisata. Sementara pelatihan storytelling kepemanduan menggenapkannya dengan topik mulai dari strategi pemasaran melalui berbagai kanal, pelatihan kepemanduan wisata, sampai kepada pengertian dan teknik storytelling dan interpretasi dalam kepemanduan wisata.

Ketika dihubungi secara terpisah, Manajer Pariwisata dan Peningkatan Kapasitas Wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) dari CI Indonesia, Meidiarti Kasmidi, menyatakan bahwa kolaborasi kemitraan di TWA Sorong perlu terus melakukan pendampingan dan pembinaan sumber daya manusia kepada KTH Matoa, agar anggotanya bisa menjadi pemandu wisata yang handal.

Meidiarti Kasmidi juga menekankan, “TWA Sorong perlu melakukan penataaan, mulai dari fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan, menyediakan code of conduct wisata, hingga kepada promosi yang terarah. Kesemuanya memerlukan kolaborasi antara pemangku kepentingan mulai dari BBKSDA Papua Barat, masyarakat adat, dinas-dinas terkait dari Pemerintah Kota (Pemkot) Sorong, hingga kepada organisasi non-pemerintah seperti CI Indonesia.”

Salah satu peserta dari KTH Matoa, Yokbet Dumatubun, yang juga tinggal di sekitar TWA Sorong, menyatakan, “Pelatihan ini memberikan manfaat bagi kami, mengajarkan kami menggunakan media sosial untuk memasarkan paket wisata. Harapannya agar masyarakat umum menjadi tahu bahwa banyak potensi yang terdapat di TWA Sorong.” Yokbet juga merasa bahwa pelatihan ini semakin memperkuat keinginan diri dan rekan-rekannya sesama anggota KTH untuk menjaga dan berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan lindung ini.

Berita lain untuk anda