Produk lokal yang dipamerkan disela-sela Festival Suling Tambur Wejim 2021 kabupaten Raja Ampat. Foto Wim/TN

TEROPONGNEWS.COM, RAJA AMPAT- Kerajinan tangan berupa produk lokal khas Raja Ampat yang diproduksi sendiri oleh masyarakat lokal di sejumlah kelompok usaha, mendapat kebagian dalam Festival Suling Tambur 2021 di kampung Wejim Kepulauan Sembilan, kabupaten Raja Ampat Papua Barat.

Produk lokal yang dipamerkan seperti ukiran kayu motif Raja Ampat, ukiran jenis kapal Live on Board (LoB), patung asmat, ukiran burung Cenderawasih, gelang dari kulit kayu dan kalung dari kulit kerang.

Wisatawan yang sedang melihat hasil produk lokal yang dijajakan pada Festival Suling Tambur Wejim 2021 kabupaten Raja Ampat. Foto Wim/TN

Ada juga produk kerajinan tangan seperti noken khas Raja Ampat, anyaman topi dari daun tikar, anyaman topi bentuk ikan Pari Manta serta bermacam-macam makanan ringan yang dibuat dari ikan dan sagu.

Korina Lapon masyarakat lokal Raja Ampat yang tergabung dalam kelompok usaha kerajinan tangan Mani Abian Raja Ampat (Mara) mengatakan pemerintah daerah sudah mulai peduli dengan kelompok-kelompok kerajinan yang ada di Raja Ampat.

Menurutnya pemerintah juga telah memberikan pelatihan dan pendampingan, seperti peningkatan sumber daya manusia melalui kreatifitas dan kapasitas kepada masyarakat lokal. Hanya saja yang menjadi kendala adalah bentuk pemasarannya.

“Kami bersyukur, pemerintah telah memberikan bantuan pendampingan kepada kami para pengrajin lokal. Banyak kerajinan tangan dan produk pengolahan ikan yang sudah kami produksi,” ujar Korina Lapon kepada media ini, disela-sela pembukaan Festival Suling Tambur di Wejim Kepulauan Sembilan, Rabu (10/11/2021).

“Hanya saja yang menjadi persoalan bagi kami, adalah pemasarannya. Jadi kami minta agar pemerintah memberikan solusi agar kami visa memasarkan produk yang sudah kami buat,” lanjutnya.

Dikatakan bahwa pemerintah sudah berikan pelatihan peningkatan kapasitas, masyarakat pun telah memberikan produksi, namun tidak ada tempat atau lokasi untuk memasarkan produk lokal tersebut.

“Kita sudah produksi, kita sudah berikan lebel yang bagus, tapi tidk ada tempat untuk kita pasarkan, ini kan sama dengan istilah sudah ada pancing dan mata kail, tapi umpannya tidak ada,” jelasnya.

Hal senada juga datang dari Nomensen Mambraku, pengrajin seni ukir motif Raja Ampat. Lelaki asal kampung wisata Arborek distrik Waigeo Barat Kepulauan itu, berharap agar pemerintah menyiapkan satu tempat untuk dirinya dan kelompok-kelompok usaha kerajinan yang lain memasarkan hasil produksi mereka.

“Kami punya kendala itu adalah menjual kerajinan tangan ini. Kami berharap pemerintah melalui dinas terkait menyiapkan satu tempat di kota Waisai, untuk kita letakan kerajinan yang sudah kita buat untuk di jual,” terang Mambraku.

Harapan kedua masyarakat lokal yang mempunyai ketrampilan yang baik ini, dengan adanya Festival Sulung Tambur di Wejim ini, hasil produksi lokal yang sudah mereka buat ini, laku terjual, dibeli oleh wisatawan yang berkunjung

Berita lain untuk anda