Webinar dengan tajuk Being Critical and Inspiring in Educated Ways. Foto istimewa.

TEROPONGNEWS.COM, JERMAN -Perhimpunan Mahasiswa Papua (PMP) di Jerman berkolaborasi dengan Buku Untuk Papua (BUP) menyelenggarakan kompetisi menulis lintas usia, yaitu lomba menulis cerpen untuk murid sekolah dasar (SD) dan critical essay serta inspirational story untuk siswa SMP, SMA, Mahasiswa dan umum yang dimulai sejak 22-25 Maret 2021 lalu.

Kompetisi tersebut merupakan salah satu langkah yang diambil oleh Perhimpunan Mahasiswa Papua di Jerman untuk mendukung Nawacita Presiden Joko Widodo yaitu “Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program Indonesia Pintar”.

“Kompetisi ini ditutup dengan mengumumkan pemenang lomba yang dikemas dalam bentuk webinar yang menghadirkan narasumber-narasumber dari berbagai bidang sehingga peserta mendapatkan pengetahuan khusus tentang Papua.
Webinar dengan tajuk “Being Critical and Inspiring in Educated Ways” ini dipimpin oleh moderator Angel Fonataba yang merupakan ketua panitia pelaksana serta dihadiri oleh peserta dari Sabang sampai Merauke,” ujar Ketua Perhimpunan Mahasiswa Papua (PMP) Jerman, Agustinus Giyai, Senin (5/4/2021).

Dikatakannya, Webinar ini dibuka dengan mendengarkan lagu Indonesia Raya dan Aku
Papua yang dinyanyikan oleh Charolis Sayuri, Alfa Bonay, Franklyn Mansa yang diiringi oleh Rezky Mulyadi serta pembacaan puisi oleh adik Charlos Pull yang pernah diundang oleh Gramedia untuk membacakan puisi di Jakarta.

Kata Giyai, perlombaan yang berlangsung kurang lebih satu bulan ini, sebanyak 230 naskah dari berbagai peserta di seluruh Indonesia yang terkumpul.

Duta Besar RI untuk Republik Federasi Jerman Bapak Dr. Arif Harvas Oegroseno, SH, MH, Ia berpesan kepada pelajar yang mengikuti kompetisi tersebut bahwa menulis merupakan hal penting untuk dikuasai, dan menulis juga dibutuhkan kemampuan untuk melakukan observasi.

“Menulis adalah sesuatu yang sulit namun sangat penting untuk dikuasai. Dan untuk menulis dibutuhkan kemampuan untuk
mengobservasi sehingga bisa menghasilkan tulisan yang baik,” pesan Duta Besar RI untuk Republik Federasi Jerman, Arif Harvas Oegroseno, melalui sambutannya.

Disamping itu juga beberapa tulisannya dimuat baik di media nasional maupun internasional ini juga menyampaikan tentang pentingnya memahami konsep “Merdeka Belajar” dari Ki Hajar Dewantara yang sekarang merupakan salah satu selogan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ia juga mengapresiasi dan mendukung kegiatan yang dilakukan oleh PMP Jerman, serta berharap kegiatan serupa bisa terus dilanjutkan kedepannya.
“Selain menulis, public speaking juga merupakan sebuah skill yang tidak kalah penting sehingga beliau berharap PMP Jerman dapat membuat 3 minutes public speaking competitions kedepannya,” harapnya.

Setelah itu webinar dilanjutkan dengan materi dari Narasumber yang pertama dari Virly Yuriken selaku program director Misool Foundation. Dalam materinya Virly menyampaikan tentang pemasalahan sampah yang juga menjadi salah satu tema penulisan critical essay dan merupakan fokus kerja dari Misool Foundation.

Dikatakannya, untuk memperbaiki lingkungan alam harus dimulai dengan merubah perilaku masyarakat. “Kalau sekarang jika kita melaut dan bisa mendapatkan lima ekor ikan, saya ingin nantinya ketika anak cucu saya
pergi melaut juga mendapatkan jumlah ikan yang sama. Saya tidak ingin ketika cucu saya melaut bukan ikan yang mereka dapatkan melainkan sampah plastik,“ jelas Virly.

Selain Virly Yuriken selaku program director Misool Foundation, Septinus George Saa, salah satu tokoh muda inspiratif yang pernah
memenangkan penghargaan First Step to Noble Prize pada tahun 2004 di Warsawa, Polandia sangat tertarik dengan yang namanya menulis.

“Dalam menulis kita dituntut untuk berpikir kritis dan objektif tanpa ada tendensi. Selain itu kita tidak boleh berhenti hanya sebatas menulis tetapi harus segera mengambil peran dalam
society sehingga membawa perubahan untuk Tanah Papua,” pesan Septinus George Saa, yang saat ini menjabat sebagai salah satu General Manager di PT. Mpaigelah.

Dipenghujung acara webinar tersebut disertai dengan pengumuman pemenang lomba untuk kategori critical essay dan inspirational story oleh bapak Prof. Dr. Ardi Marwan selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin. “Walaupun sulit, kita harus tetap belajar menulis. Karena menulis dengan baik dan benar bisa membuat kita mendapatkan berbagai kesempatan seperti memperoleh beasiswa bahkan kita bisa menentukan
sendiri di negara manapun kita ingin tinggal,” ujar Ardi Marwana.

Pemenang lomba menulis yang dilaksanakan oleh PMP Jerman bersama BUP adalah sebagai berikut, untuk kategori critical essay juara I diraih oleh Sultan Hadi Prabowo dengan judul “Aplikasi ELWASTE (Electronic Waste) Sebagai Solusi Distribusi Sampah Elektronik dan Edukasi EST (Engineering, Science, dan
Technology) di era Society 5.0”, juara II didapatkan oleh Embun Ayudya Pawestri dengan judul “Guru Pelita: Program Wajib Mengajar Daerah 3T pada Jenjang Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai upaya Pemerataan dan Peningkatan Mutu Pendidikan Daerah Terpencil” dan juara ke III adalah Jhony Kosamah dengan judul “Pendidikan di Tanah Papua : Masalah, Penyebab, dan Solusi” dan Wahyudin dengan judul “Lalu, Apa Manfaat Pendidikan Formal untuk Daerah Terpencil?”.

Sedangkan untuk kategori inspirational story juara I dimenangkan oleh Kiani Alvi Saharani dengan judul “Memiliki Impian dan Harapan
yang Tinggi”, juara ke II, Teku Weya dengan judul “Jangan Takut Bermimpi Tinggi” dan juara III, atas nama Delina Wenda dengan judul “Tempat Curhatku adalah Tuhan”.

Pada akhir webinar ketua pelaksana lomba Angel Berlian Fonataba berharap kegiatan ini bisa menjadi pemantik untuk memotivasi para
generasi muda di Papua untuk terus berkarya lewat tulisan dan juga program ini bisa terus dilanjutkan.
Naskah-naskah dari para pemenang ini akan diterbitkan dalam bentuk buku dan juga akan dipublish di website resmi PMP Jerman.

Berita lain untuk anda