Akbar Sergio Abdul Gawang, S.Tr.Stat. Statistisi pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Sorong Selatan.

Oleh : Akbar Sergio Abdul Gawang, S.Tr.Stat

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis hasil Sensus Penduduk (SP) 2020 di seluruh Provinsi di Indonesia pada Januari 2021 lalu. Rilis diadakan bersama dengan Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) mengingat SP2020 sedikit berbeda dengan Sensus Penduduk sebelumnya yaitu dengan menggunakan metode kombinasi.

Metode tersebut adalah dengan memanfaatkan data administrasi kependudukan (adminduk) dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) sebagai data dasar dipadukan dengan konsep penduduk dari BPS. Hal itu merupakan suatu bentuk upaya untuk mewujudkan Satu Data Kependudukan Indonesia sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019.

Hasil SP 2020 mencatat jumlah penduduk Indonesia pada September 2020 sebanyak 270.203.917 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk per tahun dari 2010-2020 sebesar 1,25 persen, angka tersebut melambat jika dibandingkan dengan periode 2000-2010 yaitu sebesar 1,49 persen. Jika melihat dari sebaran penduduk, Pulau Jawa masih menjadi wilayah konsentrasi penduduk Indonesia yaitu sebesar 56,1 persen meskipun luas geografisnya hanya sekitar tujuh persen dari seluruh wilayah Indonesia. Sebaliknya Maluku dan Papua menjadi wilayah dengan presentase jumlah penduduk yang paling rendah yaitu 3,17 persen meskipun luas wilayah jauh lebih besar jika dibandingkan Pulau Jawa.

SP2020 Papua Barat

Provinsi Papua Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk paling sedikit ke 2 di Indonesia setelah Provinsi Kalimantan Utara. Jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di wilayah Maluku Papua, Provinsi Papua Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk paling sedikit dengan jumlah penduduk sebanyak 1.132.068 jiwa.

Dalam jangka waktu sepuluh tahun sejak hasil SP 2010 dirilis, jumlah penduduk Papua Barat mengalami penambahan sebanyak 373.650 orang. Dari total 1,13 juta penduduk Papua Barat, sebanyak 84,55 persen atau sekitar 958.892 penduduk berdomisili sesuai dengan alamat Kartu Keluarga (KK), sementara sisanya 10,36 persen berdomisili tidak sesuai dengan alamat KK. Jumlah ini mengindikasikan cukup banyak jumlah penduduk yang bermigrasi dari wilayah tempat tinggal sebelumnya. Sementara rasio jenis kelamin Papua Barat sebesar 111, artinya terdapat 111 penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan. Hal tersebut menunjukkan jumlah penduduk laki-laki di Papua Barat lebih banyak jika dibandingkan perempuan yaitu sebesar 52,65 persen.

Struktur Komposisi Penduduk

Terdapat hal yang menarik mengenai hasil rilis SP 2020 yaitu tentang struktur komposisi penduduk. Struktur komposisi penduduk menurut William H Frey analysis of Census Bureau Population Estimates (25 Juni 2020) terbagi menjadi 6 klasifikasi yaitu, Post Generasi Z adalah penduduk yang lahir tahun 2013 dst (perkiraan usia sekarang s.d. 7 tahun), Generasi Z adalah penduduk yang lahir antara tahun 1997-2012 (perkiraan usia sekarang 8-23 tahun), Milenial adalah penduduk yang lahir antara tahun 1981-1996 (perkiraan usia sekarang 24-39 tahun), Generasi X adalah penduduk yang lahir antara tahun 1965-1980 (perkiraan usia sekarang 40-55 tahun), Baby Boomer adalah penduduk yang lahir antara tahun 1946-1964 (perkiraan usia sekarang 56-74 tahun), dan yang terakhir adalah Pre-Boomer yang lahir sebelum tahun 1945 (perkiraan usia sekarang di atas 75 tahun).

Melihat struktur komposisi penduduk di Papua Barat, mayoritas penduduk didominasi oleh generasi milenial sebanyak 32,42 persen atau sebanyak 364.623 jiwa. Generasi milenial adalah generasi dengan usia emas yang produktif sehingga dapat membangun perekonomian di Papua Barat.

Tetapi hal tersebut tidak serta merta akan terlaksana apabila generasi milenial di Papua Barat tidak siap dalam bersaing. Hal yang patut menjadi perhatian tentunya adalah modal manusia (pendidikan dan kesehatan) dan yang tidak kalah penting adalah teknologi informasi, terlebih lagi sejak masuknya pandemi Covid-19 semakin banyak kegiatan yang dilakukan serba digital. Lantas apakah generasi milenial Papua Barat siap menghadapi hal tersebut ?.

Menurut data BPS hasil Susenas 2020, persentase penduduk berumur 5 tahun ke atas yang mengkases internet sebesar 50,21 persen, terbilang rendah jika dibandingkan dengan provinsi lain. Hal itu didukung dengan rendahnya jumlah desa yang memiliki Base Transceiver Station (BTS), yaitu sebanyak 271 desa/kelurahan atau hanya sekitar 14 persen saja (BPS, 2019). Selain itu dilihat dari tujuan penggunaan internet, persentase tertinggi di Papua Barat adalah untuk media sosial yaitu 83 persen dari pengguna internet Papua Barat.

Tidak hanya untuk mengkases media sosial, sebanyak 70 persen pengguna internet Papua Barat bertujuan untuk mengkses hiburan. Sebaliknya dilihat dari sisi pendidikan, hanya sekitar 25 persen pengguna internet Papua Barat menggunakan dalam proses pembelajaran. Dilihat dari sisi kegiatan ekonomi, hanya sekitar 2 persen pengguna internet Papua Barat yang menggunakan internet untuk penjualan barang/jasa.

Dari statistik tersebut, dapat dikatakan secara umum penduduk Papua Barat belum bisa memanfaatkan internet untuk tujuan meningkatkan kualitas dan taraf hidup. Padahal generasi milenial yang mendominasi penduduk di Papua Barat, seharusnya sudah familiar dengan internet dan dapat memanfaatkan untuk hal yang positif.

Generasi milenial Papua Barat harus menjadi agen perubahan yang seharusnya bisa berdampak positif bagi Provinsi Papua Barat seperti percepatan pertumbuhan ekonomi, rendahnya pengangguran, serta turunnya persentase kemiskinan. Dengan segala keterbatasan yang ada, bukan menjadi penghalang dalam meningkatkan kualitas diri. Generasi milenial harus mulai merubah pola pikir yang terbiasa pasif menjadi aktif kemudian kreatif dan selalu inovatif.

Tinggalkan kebiasaan buruk yang akan menjadi faktor non teknis yang menghambat kualitas manusia terutama generasi milenial Papua Barat. Perlahan tapi pasti, generasi milenial pasti mampu membawa Papua Barat menjadi lebih sejahtera.

Berita lain untuk anda