Walikota Sorong, Drs. Ec. Lamberthus Jitmau, MM saat menyerahkan bantuan beasiswa kepada mahasiswa asli suku Moi. (Foto:Ist/TN)

TEROPONGNEWS.COM,SORONG – Pemerintah Kota Sorong kembali menyalurkan bantuan beasiswa kepada 250 mahasiswa asli suku Moi, Jumat (08/01/2021) yang bertempat di Aula Samu Siret kompleks Kantor Walikota Sorong. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Walikota Sorong, Drs. Ec. Lamberthus Jitmau, MM kepada dua perwakilan mahasiswa asli suku Moi.

Walikota dalam sambutannya mengatakan, bantuan tersebut merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda, dimana dalam satu tahun, bantuan yang diberikan sebanyak dua tahapan, yang disesuaikan dengan dua semester disetiap tahunnya. Diharapkan, kebutuhan mahasiswa di setiap semester dapat diselesaikan dengan baik.

“Saya minta tolong Sekda untuk mempelajari waktu perkuliahan dari ade-ade ini. Semester ganjil dan genap dimulai dari bulan apa, agar mereka bisa membayar uang kuliah dengan tepat waktu,” kata Walikota.

Disebutkan, ini merupakan suatu tantangan. Sebagai senior, kakak, dan orang tua, sudah seharusnya dirinya memperhatikan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), dan memberikan uang buku untuk dapat mengurangi beban orang tua mahasiswa.

“Jadi ade-ade sekalian, jangan dilihat dari besar atau kecilnya. Tahun ini saya berikan peningkatan. Tapi kalau bisa dua kali, dan segera dibentuk tim, kemudian turun ke kampus masing-masing. Ada SK sekolah jelas, semuanya nanti akan dicek, dan kuliah atau tidak,” ucap Walikota.

Ditegaskan, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukan merupakan suatu masalah dalam menentukan seorang mahasiswa, dapat menerima bantuan beasiswa atau tidak. Namun, IPK tergantung dari kondisi ekonominya, dimana semakin dibebankan dengan biaya hidup dan SPP yang besar, maka dapat menjadi beban pikiran yang mengarah ke tidak fokusnya mahasiswa tersebut dalam perkualiahan. Fatalnya, dapat menyebabkan putus kuliah.

Besar bantuan yang diberikan kali ini sebesar Rp6.000.000/mahasiswa, sehingga Walikota meminta kepada Sekda agar dapat meningkatkan jumlah tersebut di waktu yang akan datang. Tahun ini, aku Walikota, dirinya akan menambah Rp15.000.000. Namun dengan harapan, Rp7.500.000 harus dibayar di semester ganjil, dan sisanya di semester genap.

“Saya sudah siapakan lebih 1Miliar untuk mahasiswa yang studi akhir, karena itu wajib. Jangan terbentur dengan biaya studi, biaya riset dan biaya KKN, akhirnya tertunda. Saya sampaikan tadi, beasiswa saya tingkatkan di tahun ini Rp15.000.000 untuk satu mahasiswa. Pembayaran dilakukan dua kali, dan ada waktu tim dibentuk oleh Sekda,” jelas Walikota.

Salah satu mahasiswi S-2, Irene S. Suu kepada Walikota menanyakan, apakah jumlah beasiswa yang diberikan sama besar untuk semua jalur pendidikan akademik, baik S-1 dan S-2?

Menjawab pertanyaan tersebut Walikota mengatakan, biaya perkuliahan untuk S-1 dan S-2 tidaklah sama, sehingga datanya harus dipisahkan. Beban perkulihan kedua program pendidikan tersebut tidak sama, terlebih kepada mahasiswa yang tengah melakukan penelitian.

“Mereka (Mahasiswa asal Moi, red) adalah aset dan tidak akan dibiarkan begitu saja, tapi harus diselamatkan di dunia pendidikan. Berbicara pembangunan, SDM harus ada terleih dulu. SDM itu andalan satu-satunya untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam membangun negeri dan tanah ini,” sebut Walikota saat diwawancarai Wartawan.

Diakui, bantuan beasiswa tersebut bukan baru sekarang dilakukan, namun sudah berjalan empat tahun. Keterlambatan bantuan kali ini disebabkan oleh pandemi virus Corona dan keterlambatan transfer dana.

“Saya harus hargai mereka, tanah moi dan mahasiswa moi. Dana otsus untuk mereka, dan tetap saya kasih untuk mereka, supaya orang moi tidak pergi ke tempat lain. Moi tetap ada di tanah moi,” pungkas Walikota.

Sementara itu, Koordinator Bantuan Beasiswa bagi Mahasiswa Moi, Elje S. Doo, SE.,MM menjelaskan, bantuan beasiswa yang diberikan merupakan anggaran tahun 2021, dimana jumlah mahasiswa penerima bantuan sebanyak 250 orang, dengan jumlah per mahasiswa sebesar Rp6.000.000, sehingga totalnya sebesar 1,5 Miliar.

“Tahun ini ada hampir 500 orang, tapi pemerintah kota hanya bisa mengakomodir 250 orang. Itu seluruh Sorong Raya, sehingga untuk bisa menjawab 250 itu, kami memilah sesuai dengan tempat mereka,” jelas Koordinator.

Harapannya, langkah yang telah dilakukan Walikota Sorong, dapat diikuti oleh kepala daerah lainnya, terlebih khususnya kepada mahasiswa moi. Mengingat, sebanyak 500 mahasiswa asal suku Moi yang terdata lagi menempuh pendidikan sarjana, pascasarjana dan doktoral, namun baru 250 orang yang bisa mendapat bantuan beasiswa dari Pemda Kota Sorong saat ini.

“Ini sangat menolong mereka untuk melanjutkan studi, karena ada juga mereka yang putus kuliah karena terkendala dengan biaya. Kita berharap, ke depan masih tetap mendapat perhatian dari bapak Walikota terkait dengan beasiswa,” harapnya.

Berita lain untuk anda