TEROPONGNEWS.COM, SORONG – Team management PT Kilang Pertamina Internasional RU VII bersama General Manager (GM) PT Pertamina Kilang Internasional RU VII Kasim Yulianto Triwibowo melakukan pertemuan dengan Walikota Sorong.

Pertemuan tersebut bertempat di gedung samusiret kantor walikota Sorong, dan langsung di terima oleh Wali Kota Sorong Drs. Ec. Lambert Jitmau, M. M,., Jumat (15/1/2021). Pertemuan itu juga melibatkan team Management PT Hutamakarya (HK), yang merupakan konsorsium Pembangunan Proyek EPC Open Acces Pembangunan Jetty III (pelabuhan khusus minyak) dan tanki timbun Crude Oil milik PT Kilang Pertamina Internasional RU VII Kasim.

Pada pertemuan itu, GM PT Pertamina Kilang Internasional RU VII Kasim Yulianto Triwibowo menyampaikan bahwa tujuan kedatangannya beserta tim adalah untuk bersilaturahmi, sekaligus melakukan sosialisasi terkait proyek pembangunan EPC Open Access kilang RU VII Kasim.


“Kedatangan kami ini pertama-tama silahturahmi bapak Walikota beserta jajarannya, dan juga maksud dari kunjugan ini adalah untuk melakukan sosialisasi terkait proyek pembangunan EPC Open Access kilang RU VII Kasim. Kilang RU VII Kasim adalah kilang dengan kapasitas produksi 10.000 barrel per hari, menghasilkan produk Premium,Biosolar B-30 dan Marine Fuel oil (MFO), “ujar Yulianto.

Lanjutnya, Kilang Kasim juga merupakan satu-satunya kilang yang ada di Indonesia timur, dan berkontribusi aktif untuk pemenuhan BBM wilayah Sorong raya, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

“Perlu walikota ketahui bahwa pemenuhan BBM di wilayah timur Indonesia oleh kilang RU VII Kasim masih sangat rendah yaitu sekitar 10-20% saja sedangkan kekurangannya disupply dari kilang RU V Balikpapan,ini merupakan salah satu hambatan dan juga peluang buat RU VII, karna pangsa pasarnya sangat besar bagi RU VII, “jelasnya.

“Harapan kita RU VII, bagaimana RU VII bisa memberikan kontribusi yang maksimal kepada pembangunan energi yang ada di Kabupaten Sorong dan papua pada umumnya, dan bisa berdiri sendiri. Kalo sekarang  10-20% sumbagannya harapannya nanti bisa 100% cukup dari RU VII, sehinga bisa memacu pembangunan di kawasan timur Indonesia (KTI), “tambah Yulianto.

Yulianto memaparkan, pembangunan open access ini dilatarbelakangi oleh menurunya produksi Crude Oil atau minyak mentah yang di hasilkan oleh Petrogas Basin Ltd. Sehingga hal tersebut menurunkan kapasitas pengolahan kilang RU VII yang secara desain mampu mengolah 10.000 barrel per stream day (BPSD), sekarang hanya mampu berproduksi 6000 BPSD saja yang merupakan kapasitas minimal pengolahan kilang (turn down capacity), dan menurunkan margin kilang sehingga tidak ekonomis.

Hal Inilah yang melandasi RU VII melaksanakan proyek ini, yaitu untuk mempertahankan stabilitas supply dan stock crude oil sehinga supply BBM dari kilang RU VII ke wilayah Maluku dan Papua ini bisa tetap terjaga.

Konsep dari proyek pembangunan open access RU VII Kasim ini, adalah membuka pintu masuk crude oil dari luar daerah untuk diolah di kilang RU VII baik crude dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Sehingga perlu dibangun beberapa fasilitas di RU VII seperti, pembangunan jetty dengan kapasitas 50.000 DWT sehingga kapal dengan kapasitas 200.000-250.000 barrel crude oil dapat bersandar di jetty tersebut.

Selain itu juga akan dibangun 4 buah tangki berkapasitas masing-masing 110.000 Barrel dengan total 440.000 Barrel, sehinga ketahan crude oil kilang RU VII adalah sebesar 40 hari.

“Setelah pembangunan jetty dan tangki crude oil tersebut, kami memiliki rencana jangka panjang pengembangan kilang RU VII dari kapasitas awal 10.000 BPSD, dan harapannya dapat dikembangkan hingga 50.000 BPSD, sehingga kilang RU VII bisa menjadi barometer pembangunan energi untuk wilayah Indonesia timur, “ucap Yulianto.

Harapannya juga agar masyarakat bisa mendapatkan multiplier effect dari pengembangan kilang RU VII, baik pada pengembangan masyarakatnya, pengembangan ekonomi masyarakat, serta dapat bersama saling bahu- membahu membangun Papua Barat.

“Tujuan dari proyek open access ini adalah mengembalikan kapasitas pengolahan RU VII ke kapasitas desain yaitu 10.000 BPSD. Proyek ini sendiri akan di kerjakan oleh konsorsium PT. HK- PT GSB sebagai EPC Contractor. Kami sangat berharap dukungan pada Bapak Walikota Sorong atas kegiatan proyek ini, di mana Kota Sorong ini merupakan pintu masuk wilayah Sorong raya ini, sehingga perlu meminta dukungan dari pemerintah Kota Sorong, agar seluruh kegiatan ini bisa berjalan lancar dan tepat waktu. Karena material dan orang yang akan mengerjakan proyek ini akan sering melewati Kota Sorong sebagai kota transit, “terang Yulianto Triwibowo.

Pada kesempatan yang sama, Walikota Sorong, drs. Ec. Lambert Jitmau, M. M,. berimakasih atas kunjugan ini. Ia juga berterimakasih pertamina Kilang RU VII karena sudah banyak bekerja bersama-sama mengatasi beberapa hal pada masa-masa pandemi ini

“Meski masih dalam masa pandemi COVID-19, kita tetap harus semangat untuk terus bekerja demi pembangunan ekonomi di Kota, Kabupaten yang ada di Papua Barat pada umumnya. Terutama untuk wilayah Kota dan Kabupaten Sorong agar multi player efek ekonomi bisa terus di rasakan oleh warga yang berada di Kota Sorong ini. Apalagi kota Sorong ini merupakan pintu gerbang masuknya orang dan barang. Sebagai kota transit, kami akan mendukung proyek pemerintah yang di kerjakan oleh pertamina kilang RU VII yang berkedudukan di sele,”kata Lambert Jitmau.

Pada kesempatan yang sama juga Manager ComRel & CSR PT Kilang Pertamina Internasional Dodi Yapsenang melaporkan beberapa kegiatan program CSR terkait Bencana alam dan aktifitas bantuan CSR ke wilayah kota Sorong dan Program penyaluran Program Kemitraan kepada UMKM yang berada di wilayah Kota Sorong dan kegiatan bencana bersama BPBD Kota Sorong.

Berita lain untuk anda