Secara terus menerus, tim satgas Covid-19 Kabupaten Teluk Bintuni melakukan pemeriksaan usap (swab) terhadap masyarakat, khususnya di lingkungan yang padat penduduk. (Foto:Tantowi/TN)

Menarik sekali dgn data ini.

Jumlah penduduk Kota Sorong dgn Kab Bintuni beda jauh

Tapi dari jumlah yg test lebih banyak Kab Bintuni.

Apakah wajib test di perusahaan sana

Ataukah kesadaran masyarakat yg test banyak

Atau sebaliknya utk Kota Sorong

Rangkaian kalimat itu, adalah status facebook yang diunggah oleh pemilik akun bernama Tri Joko Iriawan pada 17 Oktober 2020. Di bawah kalimat itu, dilampirkan salinan data terbaru gambaran terbaru situasi Covid-19 di Papua Barat yang dikeluarkan Satuan Tugas Covid-19 Pemerintah Provinsi Papua Barat.

Dari data per hari itu, jumlah pasien positif covid-19 di Papua Barat mencapai 3.465 orang dari jumlah yang diperiksa sebanyak 21.240 orang. Sedangkan yang sembuh berada di posisi angka 2.504 orang atau 72,8 persen dari total yang positif.

Tetapi dari yang terbaca di status FB Tri Joko Iriawan, pemilik akun bukan mau mengkritisi jumlah pasien positif covid-19 yang masih di Papua Barat. Namun dia mencoba mengulik lebih dalam, bagaimana upaya pemerintah daerah di provinsi bagian timur Indonesia ini berlomba dalam mencegah penyebaran corona.

Dia membandingkan antara Kota Sorong dengan Kabupaten Teluk Bintuni. Di periode yang sama, Satgas Covid-19 Kota Sorong telah memeriksa 5.870 orang dan mendapati hasil 1.501 orang yang positif. Sedangkan daerah kecil sekelas Kabupaten Teluk Bintuni, telah memeriksa 8.488 orang dan mendapati hasil positif corona sebanyak 7.885 orang.

Secara tersirat Joko hendak menyampaikan, dengan jumlah penduduk Kota Sorong yang mencapai 254.294 pada periode 2019, seharusnya bisa lebih banyak memeriksa jumlah warga untuk mendeteksi penyebaran Covid-19, dibanding dengan Kabupaten Teluk Bintuni yang hanya di diami 80.115 jiwa. Tiga kali lipat dari penduduk Kota Sorong.

“Bintuni punya alat sendiri ada di RS untuk test. Maklum yang punya BP Migas,” kata salah seorang anggota Satgas Covid-19 Kota Sorong, memberikan komentar.

Tetapi kepemilikan alat test, bukanlah satu-satunya penyebab Satgas Covid-19 Kabupaten Teluk Bintuni bisa lebih memeriksa warga yang terindikasi covid. Tetapi kata Joko, dukungan dan komitmen dari semua pihak, termasuk masyarakat sendiri yang menjadi penentu penyebaran virus itu bisa di tekan.

dr Wiendo Sahputra, juru bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Teluk Bintuni. (Foto:Tantowi/TN)

Dokter Wiendo Sahputra, juru bicara Satgas Covid-19 Teluk Bintuni menjelaskan, dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, tim Satgas Covid-19 Bintuni bekerja ekstra melakukan tracing terhadap orang-orang yang kontak erat degnan pasien kasus positif.

Selain itu, secara terjadwal pihaknya melakukan skrining dengan pemeriksaan PCR terhadap masyarakat, ASN, TNI-Polri serta para pasien yang hendak melakukan operasi di rumah sakit. Hasil dari pemeriksaan itu, kemudian didukung laboratorium forensik RSUD Teluk Bintuni yang sudah bisa memeriksa sampel usap untuk PCR.

“Ada dukungan logistik berupa VTM, reagen, mesin PCR 2 buah dan analis labfor yang bisa bekerja Senin – Jumat. Bahkan Sabtu dan Minggu bila sampel banyak, mereka juga masuk kerja,” ujar Wiendo kepada jurnalis media ini, Minggu (29/11/2020).

Kerja ekstra itulah yang membuahkan hasil. Hanya dalam waktu sekitar dua bulan, daerah yang berjuluk Negeri Sisar Matiti ini berhasil keluar dari Zona Merah Covid-19 yang dikeluarkan Satgas Nasional Covid-19 pada periode September 2020.

Kata Wiendo, sejak mencuat kasus pertama pada 15 Agustus 2020, lalu mengalami penambahan di bulan September 2020, Bupati Teluk Bintuni merespons cepat dengan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Skrining ketat dilakukan di tiga penjuru masuk Bintuni; laut, darat dan udara.

setiap kapal yang berlabuh di dermaga Pelabuhan Teluk Bintuni, wajib dilakukan skrining, baik penumpang maupun awak kapal. (Foto:Tantowi/TN)

Dari kebijakan itu, masuk bulan ketiga atau di bulan Oktober, jumlah pasien positif berangsur-angsur menyusut dan kembali ke Zona Orange ketika masuk bulan November. Ini adalah zona dengan jumlah pasien positif dalam kategori sedang.

Untuk mengelompokkan penyebaran Covid-19, Satgas Nasional telah membagi dalam empat zonasi; Hijau (tidak ada kasus), Kuning (resiko rendah), Orange (resiko sedang) serta Zona Merah (resiko tinggi). Kata Wiendo, ada tiga indikator kesehatan yang menjadi variable dalam penentuan zonasi itu, yakni epidemiologi (sebaran penyakit), surveilans serta sistem pelayanan kesehatan.

“Dari total 652 orang yang suspect positif, sekarang tinggal 14 orang saja. Sisanya sudah sembuh. Itulah pencapaian yang kami peroleh dari kerja keras menekan pandemi ini dalam dua bulan ini,” kata Ir Petrus Kasihiw MT bangga, kandidat calon Bupati Teluk Bintuni saat mengikuti debat terbuka yang di siarkan televisi nasional, pada Jumat (27/11/2020) lalu.

Petrus Kasihiw adalah Bupati Teluk Bintuni yang sedang menjalani masa cuti, untuk mengikuti tahapan kampanye Pemilihan Kepala Daerah, yang pencoblosannya berlangsung serentak pada 9 Desember 2020 mendatang. Penyampaikan Petrus Kasihiw itu pun mendapat aplaus dari masyarakat yang hadir, dan menonton siaran. **

Berita lain untuk anda