TEROPONGNEWS.COM, BINTUNI – Orang yang kecewa terhadap pasangan Petrus Kasihiw-Matret Kokop dalam memimpin Teluk Bintuni selama 3,5 tahun berjalan, adalah mereka yang tidak puas dengan pola kebijakan pembangunan pemerintah daerah.

Selama ini, mereka cukup puas dengan pemerintahan sebelum Piet -Matret, karena bisa menguasai proyek pembangunan bersama kelompoknya. Ketika rezim berganti ke Piet-Matret, kebijakan pembangunan di bagikan langsung ke masyarakat melalui program Padat Karya.

“Dengan pola Padat Karya, semua lapisan masyarakat bisa merasakan pekerjaan, menikmati uang yang beredar. Anggaran proyek bukan hanya dinikmati sekelompok kontraktor pemilik CV. Kalau sekarang ada yang kecewa dan menyebut tidak ada pembangunan, mereka itulah orang-orang yang rakus,” kata Petrus Kasihiw MT, kandidat petahana dalam orasi politiknya, di Posko Pemenangan PMK2 Jilid2, Ambeg Utomo Andhap Asor, di Jalur 2 SP 2 Korano Jaya, Rabu (18/11/2020).

Contoh pembangunan yang hingga kini masih berlangsung, kata Piet, adalah pengaspalan di ruas jalan utama SP 2. “Proyek jalan bukan hanya di SP2. Di tempat lain juga sedang dibangun jalan,” tandasnya.

Pernyataan alumnus UGM ini sekaligus menepis isu yang beredar, pengaspalan jalan itu merupakan hasil aspirasi dari anggota dewan yang ada di SP. Ditegaskan Piet, segala kebijakan pembangunan itu, pemegang kunci program adalah Bupati dan Wakil Bupati.

“DPRD itu fungsinya pengawasan. Kami ini yang pegang anggaran. Jadi jangan dengar orang cerita,” tandas Piet.

Kehadiran Piet-Matret di posko Koranojaya, mendapat sambutan antusias dari masyarakat suku Jawa. Lagu-lagu koplo Jawa yang dinyanyikan Edgar Eronggiar semakin membuat suasana semarak.

Sebelum di posko ini, Piet-Matret melakukan safari politik dan peresmian posko PMK2 Jilid2 di kawasan SP 2 Distrik Manimeri. **

Berita lain untuk anda