TEROPONGNEWS.COM, KUPANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang tengah fokus menghijaukan wilayah Kota Kupang melalui program Gerakan Kupang Hijau (GKH). Sejak tahun 2019, telah dilakukan penanaman ribuan pohon di berbagai ruas jalan.

Terkait program ini, Pakar Lahan Kering Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Zeth Malelak menjelaskan, Kota Kupang yang sangat kering membutuhkan sebanyak mungkin pohon. Oleh karena itu, program GKH yang sedang dilaksanakan oleh Pemkot Kupang sangat membantu.

Ia menjelaskan, dengan adanya banyak pohon, akan meningkatkan kelembaban udara, sehingga udara semakin sejuk. Selain itu, menciptakan keindahan, menyumbang oksigen dan menjaga tingkat hidrasi air dalam tanah.

Zeth pun meminta Pemkot Kupang, agar sebaiknya tidak lagi menanam anakan yang baru tumbuh seperti sebelum-sebelumnya.

“Kami tidak rekomendasikan menanam tanaman yang kecil. Kita membutuhkan perakaran yang sudah baik. Tanaman yang sudah dibiarkan lebih dari dua tahun. Karena kelembaban tanah kita di bawah 30 persen, curah hujan rendah, dan lahan kita batu-batu dan cepat menyerap panas. Kalau tanaman kecil mudah stres dan ini riset, bukan pribadi saya yang bilang. Semua proyek di lahan kering sebaiknya tanam tanaman yang sudah dewasa bukan anakan lagi,” kata Zeth lewat rilisnya yang diterima Teropongnews.com, Sabtu (31/10/2020).

Ia juga menjelaskan, apa yang dilakukan Pemkot Kupang saat ini sudah bagus, namun harus konsisten dalam pemeliharaan dan perawatannya.

Ia menjelaskan, membuat hutan di lahan kering atau forestry secara teori keberhasilannya di bawah 30 persen. Keberhasilan tertinggi hanya 30 persen, sehingga harus ada dobel anakan. Dengan adanya pendobelan maka tentu akan menambah biaya.

Di wilayah Timor, lanjut Zeth, hujan hanya berlangsung tiga bulan. Oleh karena itu, jika menanam anakan lalu perawatan kurang maka pasti di bawah 30 persen.

“Saya lihat ada beberapa tanaman di kota ini keberhasilan hampir 100 persen. Memang ada beberapa yang mati dan itu pasti diganti, tapi secara keseluruhan yang berhasil atau hidup itu sudah di atas 60 persen. Itu sudah hebat,” jelas Zeth.

Ia mengatakan tanaman-tanaman di Kota Kupang yang ditanam bukan pada musim hujan. Apalagi tahun lalu Kota Kupang mengalami el nino dan hujan kurang dari dua bulan. Rata-rata hari hujan di Kupang tidak lebih dari 40 hari.

“Padahal kita mengalami gangguan musim. Biasanya kalau ada gangguan musim di daerah kering itu tingkat pertumbuhan malah 0 persen, apalagi ada kebakaran,” kata Zeth.

Berita lain untuk anda