Pit-Matret, pasangan kandidat Cabup-Cawabup Bintuni nomor urut 02, disambut meriah saat tiba di Kampung Ciner Distrik Tembuni, Sabtu (7/11/2020). (Foto: Tantowi/TN).

TEROPONGNEWS.COM, BINTUNI – Kabar yang beredar bahwa masyarakat Kampung Ciner dan Tembuni Distrik Tembuni menolak kehadiran Pit-Matret, ternyata hanya isapan jempol. Faktanya, yang terjadi justru sebaliknya. Kandidat calon Bupati-Wakil Bupati Bintuni nomor urut 02 ini disambut dengan prosesi adat yang sangat meriah.

Beberapa ratus meter sebelum tiba di posko induk PMK2 Jilid 2 di Kampung Tembuni, Sabtu (7/11/2020) sore, Pit-Matret sudah dijemput masyarakat yang mengenakan pakaian adat, lengkap dengan perlengkapan berburu, parang dan panah.

Masyarakat dari Kampung Tembuni, Kampung Ciner, Kampung Araisum, Kampung Suruw dan Kampung Muntoub, bersukaria menyambut Pit-Matret dan rombongan. Sebelum menuju posko induk, Pit-Matret meresmikan posko pemenangan PMK2 di Kampung Ciner.

“Saya kira kalau masyarakat tidak suka dengan Pit-Matret, tidak mungkin akan jemput kami. Saya baca di medsos, Pit- Matret di tolak di Tembuni. Tapi yang saya saksikan ternyata sebaliknya,” kata Petrus Kasihiw, saat mengawali orasi politiknya di Posko Induk pemenangan PMK2 Jin Madag Hom.

Di depan simpatisan dan pendukung PMK2 Jilid2, Petrus Kasihiw menyebut, saat ini banyak pengkhianat yang melawan dan berupaya menjegalnya dalam kontestasi Pilkada Bintuni.

Diantara upaya yang dilakukan adalah dengan menghembuskan isu-isu negatif, bahwa tidak ada pembangunan yang membawa manfaat bagi masyarakat Bintuni, baik yang di perkotaan maupun di kampung pinggiran. Padahal orang-orang itu, menjadi satu tim dalam gerbong politik dan pemerintahan Pit-Matret. Mereka dari kalangan politisi maupun pegawai yang saat ini sudah pensiun.

“Saat ini banyak pengkhianat yang mau melawan saya. Ada mantan Kepala Dinas Kesehatan yang sudah bagus membangun puskesmas, sekarang bilang tidak ada pembangunan. Kalau saya tahu dia akan menjadi pengkhianat, saya tidak akan angkat jadi Kepala Dinas,” kata Pit.

Isu lain yang beredar, selama pemerintahan Pit-Matret, tidak banyak uang beredar di masyarakat dibanding sepuluh tahun lalu, karena banyak proyek era Pit-Matret yang dikuasai sekelompok orang saja. Isu ini ditepis Pit dengan menyebut, justru yang terjadi sekarang ini sebaliknya.

Masyarakat banyak menikmati pembangunan, banyak uang yang beredar karena ada program Padat Karya yang dicetuskan Pit-Matret. Tahun ini, nilai Padat Karya yang dianggarkan sebesar Rp 1 miliar per kampung. Angka itu akan dinaikkan menjadi Rp 2 miliar pada tahun 2022.

“Jadi mau buat isu yang menipu apa lagi. Sekarang ini lebih banyak uang beredar di masyarakat dengan adanya program Padat Karya,” tandasnya. **

Berita lain untuk anda