Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy. Foto-Ist/TN

TEROPONGNEWS.COM, AMBON – Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy memaparkan kesiapan Kota Ambon menghadapi bencana, baik bencana sosial, bencana alam berupa banjir, tanah longsor, dan gempa sampai pandemic Covid-19 saat ini.

Disebutkan, Ambon 21 tahun lalu, adalah kota yang bisa dikatakan ‘mati’, lantaran kondisi konflik sosial. Namun berkat kearifan lokal yang dimiliki masyarakat maka kondisi Ambon saat ini, berubah total, dan malah mendapat predikat kota dengan tingkat toleransi antar agama terbaik di Indonesia.

“Talenta lain yang dimiliki Maluku yakni musik, juga menjadi salah satu pintu masuk bagi berbagai sosialisasi yang dilakukan dalam situasi dan kondisi apapun, dan itu mendarat dengan baik di masyarakat,” kata dia kepada wartawan, di Ambon, Rabu (14/10/2020).

Terkait bencana alam, kata dia, Kota Ambon juga tercatat mampu melakukan relokasi tanpa masalah, terhadap warga yang rumahnya rusak akibat tanah longsor dan pergerakan tanah beberapa tahun lalu di wilayah Kelurahan Batu Gajah, Kecamatan Sirimua, Kota Ambon.

“Terkait sosialisasi bencana alam, kami tetap menggunakan pendekatan pentahelix, sehingga mampu terdistribusi dengan baik ke masyarakat. Dengan melibatkab para camat, kepala desa/lurah, ketua RW dan ketua RT, untuk menyampaikan informasi ke masyarakat dinilai sangat mempan,” katanya.

Selain itu, menurut Wali Kota, penggunaan teknologi infomasi yang dilakukan BPBD Kota Ambon dengan menampilkan peringatan-peringatan saat musim penghujan juga peringatan cepat BMKG terkait gempa, sangat membantu masyarakat dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana.

Lebih lanjut dia menambahkan, penyiapan kampung-kampung tangguh bencana juga merupakan bagian dalam penyiapan warga dalam menghadapi setiap bencana yang mungkin saja terjadi, pada situasi dan kondisi apapun.

Berita lain untuk anda