Dolfinus Sembor, orang Asli Papua yang menjadi ahli stroom di PT Pertamina. (Foto:Tantowi/TN)

“Sembor pernah terdampar di tengat laut, saat perjalanan ke Inanwatan, Kabupaten Sorong Selatan. Besi as pemutar baling -baling kapal motornya patah. Bersama enam orang pekerja lainnya, Sembor usai menuntaskan instalasi Electric Motor (ElMot) sumur angguk di Weriagar, Kabupaten Teluk Bintuni”

“BRAAKKKK….!!”

“Auu… Maa.. Tolooong …..!!”

Suara terjatuh diikuti erangan kesakitan dari dalam dapur, mengagetkan Carolintje Aupe. Dengan berjalan merangkak, ia bergegas menuju sumber suara. Ia tinggalkan begitu saja sisa pakaian yang belum kelar dicuci.

Belum juga sampai di tempat yang dituju, teriakan kedua cucunya semakin membuatnya panik.  Cristin Sembor, cucunya dari anak kedua yang sudah almarhum, berlari dari halaman rumah diikuti Petronalin Sembor, cucu dari anaknya nomor 5 yang sedang bersih-bersih dalam kamar.  

“Oma… Opa ada jatuh…!” teriak Cristin, Senin, 6 Januari 2020.

Carolintje yang menderita Poliomyelitis (polio) pada kaki kanannya ini, mendapati Dolfinus Sembor tersungkur di dapur. Suaminya itu mengerang kesakitan, sambil tangannya memegangi pinggang. Kursi berbahan plastik warna biru, tergeletak tak jauh dari posisinya terkapar, bersama beberapa potong pakaian yang masih basah.

Bapa kenapa, ka?” tanya Carolintje dengan gugup.

Tubuh renta laki-laki 80 tahun itu diangkat masuk ke dalam rumah. Petrolina menelpon tantenya, Monika Sembor, yang tempat tinggal tidak jauh dari rumah opanya, untuk berbagi kabar. Suasana rumah yang awalnya tenang, pagi itu mendadak gaduh.

Monika, anak ke enam pasangan Dolfinus Sembor dan Carolintje Aupe ini kembali ke jalan raya, usai melihat kondisi bapaknya. Berjalan tergopoh-gopoh, dia mencari taksi untuk membawa orangtuanya itu ke Pertamedika, Rumah Sakit Pertamina Sorong.

Sembor baru saja terjatuh dari kursi usang yang dijadikan pijakan kaki, saat hendak menggantungkan pakaian pada tali jemuran.  Pensiunan PT Pertamina (Persero) Unit Eksplorasi dan Produksi Sorong ini sedang membantu istrinya menjemur baju-baju yang sudah selesai dicuci.

Bagi Sembor, pekerjaan seperti itu sudah tidak asing. Dia biasa berbagi tugas untuk menyelesaikan pekerjaan rumah dengan Carolintje. Bukan tanpa alasan jika Sembor melakoni pekerjaan itu. Sebagai laki-laki, ia tak tega jika menyaksikan istrinya harus bersusah payah menyelesaikan sendiri pekerjaan dengan kondisi fisiknya yang cacat.

Pace su (bapak sudah) biasa begitu, bantu-bantu kalo sa (saya) sedang cuci baju,” tukas Carolintje, saat berbincang dengan jurnalis Teropongnews.com, Kamis (15/10/2020).

Dolfinus Sembor lahir di Nabire, 16 April 1940. Usianya terpaut 8 tahun dengan Carolintje, yang lahir di Distrik Inanwatan, Kabupaten Sorong Selatan pada 28 Agustus 1948. Keduanya mengikat janji suci membangun rumah tangga sejak November tahun 1962. Enam orang anak menjadi buah hati dari perkawinan ini.

“Kami menikah di Klamono,” kata Sembor menimpali.

Pasangan Dolfinus Sembor dan Carilontje Aupe, yang masih harmoni di usia senja. (Foto:Tantowi/TN)

Pasangan suami istri ini tinggal di Jl Permenas, RT 002 RW 001 Kampung Posa, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Nama Klamono cukup melegenda, sebagai cikal bakal industri hulu migas di Papua. Saat mempersunting gadis pujaan hatinya, Sembor sudah tercatat sebagai pekerja di perusahaan minyak yang mengais peruntungan di Klamono itu.

Meski usianya hampir satu abad, ingatan Sembor masih cukup tajam untuk berkisah tentang perjalanan karirnya di perusahaan minyak itu. Mulai saat masih dimiliki asing, hingga beralih dikuasai sebagai perusahaan negeri.  Menceritakan proses pembuatan tato bergambar hati pada lengan kirinya pun, Sembor masih fasih.

Bapa gambar dulu dengan kotoran panci (jelaga, Red), lalu ditusuk-tusuk pakai duri jeruk. Sakit. Darahnya sampe keluar. Waktu itu usia Bapa masih sekitar 8 tahun,” kenangnya.

Dolfinus Sembor adalah Orang Asli Papua (OAP) yang menjadi pekerja generasi awal PT Pertamina (Persero) Unit Eksplorasi dan Produksi, yang masih hidup. Teman-teman seangkatannya, sudah mendahului menghadap sang pemilik jagat.

Kalau saja ia tidak terjatuh saat membantu istrinya menjemur pakaian, fisiknya masih tangguh untuk beraktifitas. Petaka di awal tahun 2020 lalu itu, membuatnya berjalan tertatih menggunakan kruk. Tulang pinggangnya bermasalah.

Di Pertamina, Sembor bertugas sebagai ahli stroom di jawatan mekanik elektrikal. Karir di perusahaan minyak itu sudah ditapaki sejak 23 September 1956. Tahun ini pula yang kemudian melekat pada nomor pegawainya; 560827.

Meski lahir di Nabire, masa kecil Sembor dihabiskan di Kampung Miei, Distrik Wasior Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Dia mengikuti orangtuanya yang ditugaskan sebagai Kepala Distrik. Ketika baru menuntaskan pendidikan di Sekolah Rakyat (SR), sosok Sembor masuk dalam incaran NV Nederlansche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM) untuk direkrut sebagai tenaga kerja.

Setelah meminta izin ke orangtua, Dolfinus Sembor remaja diboyong ke Sorong. Saat itu usianya sudah 16 tahun. Oleh Belanda, Sembor di sekolahkan di Jongens Vervolk School, sekolah lanjutan tingkat II untuk remaja laki-laki.

Sembor juga masih digembleng di sekolah kejuruan zaman belanda selama tiga tahun, sebelum akhirnya bekerja secara full time. Sesuai bidang keahliannya, saat itu tugas Sembor masih sebagai pegawai rendahan di divisi elektrikal. Sembor ikut bertanggungjawab atas seluruh kelancaran pasokan listrik dan kebutuhan elektrikal di kantor NNGPM, baik di Kantor Pusat di Sorong maupun di sektor hulu di Klamono.

Dalam ingatannya, hampir tiga bulan berjalan lamanya dia harus pulang pergi naik helikopter dari Sorong ke Klamono, untuk mengubah sistem Electric Motor (ElMot) pompa angguk di 70 sumur minyak yang tersebar di sejumlah titik. Padahal, jarak tempuh Sorong-Klamono tidak kurang dari 50 kilo meter.

“Sebenarnya bisa juga ditempuh dengan jalan darat, tapi butuh waktu yang lama. Sedangkan bapa harus bekerja tepat waktu, mulai jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Jalan menuju Klamono masih hutan belantara, belum seperti sekarang,” kenang Sembor. 

Sembor baru menetap tinggal di Klamono setelah menikah dengan Carolintje. Karir Sembor masih tetap berlanjut ketika tahun 1965 NNGPM diserahkan ke SPCO, perusahaan minyak asal Inggris. Saat itu, kata Sembor, hasil minyak yang dihasilkan mulai tidak maksimal.

Sumur angguk peninggalan Belanda di kini dioperasikan Pertamina EP di Klamono. (Foto:Dok humas PEP/TN)

NNGPM adalah perusahaan minyak yang dibentuk pemerintah kolonial Belanda bersama Shell Petroleum Company (SPCO), Stanvac (sebelum Indonesia merdeka perusahaan ini bernama NV Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij/NKPM) dan FarEast Pacific Investment Co, anak perusahaan Caltex. Pada tahun 1935, mereka berpatungan untuk menyedot minyak dari perut bumi Nieuw Guinea, sebelum akhirnya daerah ini berubah nama menjadi Papua.

Dikutip dari situs Oil and Gas Management Center, usaha patungan ini selanjutnya dikelola SPCO karena mereka telah melakukan survei sejak tahun 1928. Pemerintah kolonial waktu itu memberikan hak konsesi khusus selama 25 tahun, dan hasilnya, pada tahun 1938 ditemukan lapangan minyak Klamono, Wasian, Mogoi, dan Sele.

Sembor pernah terdampar di tengat laut, saat perjalanan ke Inanwatan (kini masuk wilayah Kabupaten Sorong Selatan). Bersama enam orang pekerja lainnya, Sembor usai menuntaskan instalasi electric motor (elmot) sumur angguk di Weriagar (kini masuk wilayah Kabupaten Teluk Bintuni). Saat itu, NNGPM sudah beralih tangan ke Permina.

Armada helicopter milik perusahaan yang sedianya mengangkut kepulangan rombongan ini dari Inanwatan ke Sorong, dibuat sibuk di atas perairan mencari keberadaan mereka.

“Besi as pemutar baling-baling motor boat patah. Jadi kami dayung manual pakai kayu papan sampai di daratan Inanwatan,” kenang Sembor, atas peristiwa di tahun 70-an ini.

Dikutip dari Wikipedia tentang Sejarah Perminyakan di Indonesia, seluruh saham NNGPM dan SPCO sudah beralih ke tangan pemerintah melalui Perusahaan Negara (PN) Perusahaan Tambang Minyak Negara (Permina) pada tahun 1964. Saham perusahaan asing itu dibeli setelah pada tahun 1962 Indonesia resmi bergabung dengan Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC), organisasi Negara-negara pengekspor minyak.

Pengambil alihan saham ini juga sebagai tindaklanjut dari pengambilalihan Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi, melalui perjanjian New York 1963. Dikutip dari situs web resmi milik Pertamina, berdasarkan PP No. 27/1968 tertanggal 20 Agustus 1968, PN Permina dan PN Pertamin merger menjadi satu perusahaan bernama PN Pertamina (Perusahaan Tambang Minyak dan Gas Bumi Nasional).

Dengan bergulirnya UU No. 8 Tahun 1971, sebutan perusahaan menjadi Pertamina. Sebutan ini tetap dipakai setelah Pertamina berubah status hukumnya menjadi PT Pertamina (persero) pada 17 September 2003, berdasarkan UU Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi tertanggal 23 November 2001.

Pertamina terus berevolusi. Melalui Undang-Undang Nomor 8 tahun 1971, pemerintah mengatur peran perusahaan ini bukan saja mencari dan menghasilkan migas, tapi sekaligus mengolah dan menjualnya untuk memenuhi kebutuhan energi bahan bakar masyarakat.

Di Papua, bukan hanya Pertamina EP yang kini meneruskan sumur-sumur tua peninggalan Belanda di Klamono maupun mengeksplorasi sumur baru tempat lain. Ada direktorat pengolahan (Pertamina Refinery Unit VIII Kasim), Direktorat Pemasaran (Pertamina Marketing Operation Region VIII Papua-Maluku), Pertamina DOCK dan Pertamedika (RS Pertamina).

“Sekarang sumur minyak di Klamono ada sekitar 207, tapi yang aktif hanya sekitar 132 sumur,” kata Rivan, Humas PT Pertamina EP Asset 4 Papua Field.

Dolfinus Sembor cukup girang bisa merasakan dan menjadi bagian dari setiap perubahan itu. Waktu 40 tahun rasanya belum cukup untuknya mengabdi. Mengawali karir sejak 23 September 1956, Sembor purna tugas pada 1 Mei 1996 dengan posisi terakhir di bagian Operasional Produksi UEP Sorong.

“Sebelum pensiun, kami diajak perusahaan jalan-jalan ke Jakarta. Di tunjukkan tempat-tempat bersejarah Pertamina, dan main-main ke tempat wisata,” tukas Carolintje bangga.

Kesejahteraan keluarga ini, sekarang berada di bawah naungan Dana Pensiun Pertamina, sebuah lembaga yang dulu bernama Yayasan Dana Pensiun Pertamina. Selain makmur berkat uang pensiun Rp 1.276.000 yang istikamah diterima setiap bulan, Sembor dan Carolintje tidak cemas soal biaya untuk jaminan kesehatannya. 

“Kayak waktu bapa jatuh kapan hari, selama di rumah sakit Pertamina, kita tidak keluar doi (uang). Semua ditanggung perusahaan,” kenang Carolintje.

Pekerja PT Pertamina EP Asset 4 Papua Field. (Foto:Dok.Humas PEP/TN)

Cerita manis itu dibenarkan Eddi Mangun,  Unit Manager Communication, Relations & CSR MOR VIII PT Pertamina (Persero) Region Papua Maluku. Katanya, pensiunan PT Pertamina seperti Opa Sembor, tetap mendapatkan kesejahteraan hingga akhir hayatnya.

“Kalau misalnya Opa Sembor meninggal, nanti Oma Carolin yang menggantikan sebagai penerima uang pensiun,” tukasnya. ***.

Berita lain untuk anda