kulit kayu Pule Batu, bahan baku obat kampung teh Pule Batu. foto istimewa/TN.

TEROPONGNEWS.COM, SORONG- Pohon Pule Batu, menurut penuturan Dorteus Mambrasar, warga kampung Balal Kofiau kabupaten Raja Ampat Papua Barat itu, tidak memiliki getah sama seperti pohon Pule sejenisnya. Pohon dengan nama latin Alstonia Scholaris itu, diketahui bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit sejak ditemukan olehnya pada tahun 1985 silam.

“Obat kulit kayu Pule Batu yang pertama kali saya temukan itu pada tahun 1985, sebenarnya pada waktu itu saya sudah tau kulit kayu pohon Pule Batu bias kasi sembuh (menyembuhkan) bermacam penyakit. Ada adik saya yang jadi Mantri (tenaga medis) dia mengalami sakit Liver yang sudah akut. Saya mencoba membawa kulit kayu Pule Batu itu untuk adik saya, direbus menggunakan kaleng susu dan kemudian diminum selama satu minggu. Sungguh mujizat Tuhan, penyakitnya itu sembuh total, sehingga adik saya itu meski melayani masyarakat menggunakan obat yang sudah paten, tapi dia masih percaya dengan obat kulit kayu Pule Batu itu,” ujar Dorteus Mambrasar, pemilik obat kulit kayu Pule Batu.

Dorteus Mambrasar, pemilik obat kulit kayu Pule Batu. Foto wim/TN.

Kisah tentang manfaat dan khasiat kulit kayu Pule Batu itu, tidak hanya berhenti di tahun 1985 silam, melainkan melalui tumbuhan yang merupakan hasil ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa itu, kesembuhan terjadi terus menerus kepada orang-orang yang mengkonsumsinya.

Dikatakan, pada tahun 1990 silam ada seorang warga suku Sulawesi menderita penyakit Usus Buntu. Setelah mengetahui kalau yang bersangkutan tidak kuat menahan sakit, ia pun langsung menemuinya dan kemudian menawarkan obat kulit kayu Pule Batu tersebut. Karena berhubung waktu itu adalah hari Minggu, kata Dorteus Mambrasar bahwa dirinya tidak bias mengambil kulit kayu tersebut di hari Minggu.

“Saat itu saya tau kalau anak itu sudah tidak kuat lagi menahan sakit, saya langsung menawarkan obat kulit kayu itu, tapi karena waktu itu adalah hari Minggu, saya bilang buat bapaknya kalau saya tidak biasa ambil kulit kayu tersebut di hari Minggu, jadi kalau bisa, tahan saja dulu sampai esok. Setelah esoknya saya pergi ambil kulit kayu tersebut, dan berikan kepada orang tuanya untuk rebus kulit kayu yang saya ambil itu. Selama seminggu rutin dia minum, dan akhirnya anak itu dia sembuh total dari sakit Usus Buntu,” imbuh Dorteus.

Bahan baku obat kampung teh Pule Batu. foto istimewa/TN.

Selain itu pada tahun 1995, kata Dorteus ada seorang anggota Polisi yang bertugas di kampungnya di Balal Kofiau, ketika dirinya pulang dari hutan mengambil kulit kayu Pule Batu itu, anggota Polisi tersebut menanyakan barang yang diambilnya itu. “Saat saya ditanya itu barang apa, saya bilang ini ramuan untuk segala penyakit. Kebetulan waktu mama dari anggota Polisi tersebut sedang menderita sakit Rematik, kemudian ramuan itu saya kasi buat dia bawa buat mamanya minum, dalam satu minggu secara rutin, langsung mamanya sembuh dari sakit Rematik. Ketika anggota Polisi tersebut kembali ke Balal tempat tugasnya, dia pun mengakui manfaat dan khasiat dari kulit kayu itu,” terangnya.

Kepada media ini, Dorteus Mambrasar mengaku kalau dirinya menemukan kulit kayu Pule Batu sebagai ramuan obat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit itu, lewat pemberian secara khusus kepada dirinya untuk membantu orang-orang yang memerlukannya. ”Obat dari kulit kayu Pule Batu itu ada yang kasi buat saya, itu khusus. Jadi pohon Pule Batu di kampung saya di Balal itu banyak, kalau bukan saya yang suruh pergi ambil atau saya yang ambinya sendiri, tidak akan jadi atau tidak ada khasiatnya padahal pohon itu banyak di hutan,” tandasnya.

Kisah Dorteus Mambrasar tentang khasiat kulit kayu Pule Batu yang banyak memberikan manfaat kesembuhan bagi banyak orang, hingga bertemu dengan salah seorang anggota DPRD kota Sorong, Juni Triatmoko (Mas Koko) membuat dirinya merasa puas, karena apa yang diinginkannya untuk membantu masyarakat telah dilakukan oleh ketua Komisi II DPRD kota Sorong itu.

Terkait Hak Paten, Produk Obat Kampung Teh Pule Batu Pertahankan Nilai Kearifan Lokal

Juni  Triatmoko, anggota DPRD kota Sorong, setelah dikenalkan dengan ramuan kulit kayu Pule Batu, mulai berinisiatif untuk membantu masyarakat di kota Sorong terutama dalam masa pandemi Corona Virus desiase 2019 (Covid-19). Sudah banyak masyarakat yang dibantu olehnya, terutama warga masyarakat yang berada di kawasan zona merah Covid-19 di kota Sorong dengan cara memberikan obat kampung teh Pule Batu dengan cuma-cuma alias gratis.

Juni Triatmoko, anggota DPRD kota Sorong, sekaligus yang memproduksi obat kampung teh Pule Batu. foto istimewa/TN.

Mas Koko, sapaan Juni Triatmoko, bersama Dorteus Mambrasar, sosok yang menemukan obat kampung kulit kayu Pule Batu asal kampung Balal Kofiau itu, mempunyai rencana dalam misi kemanusiaan, membantu orang-orang yang terpapar Covid-19, yang mau mengkonsumsi obat tradisional tersebut, guna meningkatkan imun tubuh agar tidak mudah diserang oleh virus asal Wuhan China itu.

Menurut Mas Koko, kedepannya untuk menjaga legalitas dari obat kampung teh Pule Batu itu, pihaknya berencana akan melakukan uji klinis terhadap ramuan tersebut, dan kemudian mendaftarkan produk itu ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mendapatkan izin edar.

Menurutnya, untuk mempertahankan kearifan lokal masyarakat Papua, maka pihaknya akan membuat legalitas obat kampung teh Pule Batu itu dengan cara mengurus hak paten terhadap produk tersebut, dengan tidak mengurangi hak kepemilikan (Dorteus Mambrasar) dari orang yang menemukan obat kampung kulit kayu itu secara hukum, sekaligus untuk menghindari pihak-pihak yang menyalah gunakan dan menjiplak karya dari produk obat kampung the Pule Batu tersebut.

“Dibalik karya anda yang besar, bisa saja ada pihak-pihak yang menyalahgunakan atau bias saja ada yang menjiplak karya anda, bukan begitu?. Nah..di sinilah peran hak paten sangat penting untuk melindungi produk yang anda punya,” ujar Juni Triatmoko, Rabu (01/07/2020).

Hak paten sendiri, menurut Undang-Undang Paten Nomor 14 Tahun 2001, dan juga ketentuan dari Dirjen Haki Kemenkumham RI, paten adalah hak eksklusif yang diberikan pemerintah kepada pencipta suatu karya atas hasil invensinya, yang untuk sementara waktu melaksanakan sendiri proses penemuannya, atau memiliki karya tersebut namun meminta pihak lain untuk pengerjaannya, dengan sepengetahuan dan kesadaran penuh dari pihak yang diminta.

Dikatakan obat kampung teh Puleh Batu kedepan akan diproduksi secara higenis dan dikemas secara baik, agar masyarakat dapat mengkonsumsi teh Pule Batu tersebut, supaya bias merasakan manfaat dan khasiatnya. “Kalau dulu kulit kayu Pule Batu direbus kulitnya dan diminum airnya, kali ini kami akan mengemasnya dengan cara sedikit modern dan melalui cara produksinya yang higenis. Bahan bakunya kami tetap kerja sama dengan pak Mambrasar sebagai pemilik obat tradisional tersebut, dengan tidak mengurangi nilai dan kearifan lokal masyarakat Kofiau,” tandasnya.

Berita lain untuk anda

Laitupa Marah Jenazah Pasien Covid-19 Dimakamkan Seperti Ayam Yang Mati

TEROPONGNEWS.COM, AMBON – Anggota DPRD Provinsi Maluku, Wahid Laitupa kesal dan marah,…

Di Kota Sorong, Rapid Tes Digratiskan Bagi Pelajar, Mahasiswa Dan Warga Kurang Mampu

TEROPONGNEWS. COM, SORONG – Pemerintah Kota Sorong menggratiskan biaya rapid tes bagi…

Akhirnya, 30 Juli 2020 Hasil Tes CPNS Papua Barat Formasi 2018 Diumumkan

TEROPONGNEWS.COM, MANOKWARI-Pengumuman hasil tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) formasi tahun 2018…